Padangpanjang-LintasGayo.co : Sebanyak 170 mahasiswa diwisuda di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang Sumatera Barat, Sabtu 24/9/2016. Termasuk 5 diantaranya berasal dari Aceh.
Dari 5 mahasiswa Aceh itu, 4 orang menyelesaikan Srata Satu pada Program Studi Seni Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, yakni Khairunnas Yudisium dengan Pujian, (Cumlaude), Wali Aulia Kana Yudisium Dengan Pujian (Cumlaude), Hermansyah dengan Yudisium Sangat Memuaskan, Tarmizi Yudisium dengsn Sangat Memuaskan. Satu orang lulusan Pascasarjana Pengkajian Seni Teater Teuku Afifuddin, S.Sn Yudisium dengan Sangat Memuaskan.
Usai wisuda, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn Dosen Prodi Seni Teater, ISI Padangpanjang, sosok yang dituakan di Kota Padangpanjang, menyampaikan 5 wisudawan asal Aceh langsung disambut dengan tabuhan Rapa’i Pasee Aceh, dengan beberapa pola dan tingkah serta dikolaborasikan dengan irama Grimpeng dari Pidie Aceh yang dikordinatori oleh Fadlon Alunk.
Sedangkan tujuh buah Rapa’i yang di tabuh oleh anak-anak Aceh, diantaranya Awaluddin, Nasra Yuzaili, Muhammad, Andismas, M. Iqbal Saputra, Alunk,dan M. Zaky Alsyafani. Rapa’i yang merupakan hasil karya mahasiswa Muhammad Hamzah Prodi Seni Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang dipersiapkannya untuk tugas akhir Strata Satu di Progran Studi tersebut.
“Kegiatan ini akan dibudayakan setiap ada mahasiswa asal Aceh yang diwisuda di ISI Padangpanjang. Selanjutnya sambil diringi tabuhan Rapa’i Pasee, kelima mahasiswa tersebut melakukan adat Aceh dengan Peusijuek (Tepung tawar) sebagai ungkapan rasa terima kasih atas gelar yang telah di raih sekaligus doa serta rasa syukur telah meraih gelar Sarjana Seni dan Magister Seni”, papar pendiri Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang Mantan Ketua Panitia Pendiri ISBI Aceh itu.
Sementara itu Hafsah Puteh, S.Pdi salah seorang orang tua wisudawan mengatakan sangat terharu menyaksikan kekompakan dari mahasiswa dan masyarakat Aceh diperantauan apalagi dengan tetap menjaga dan melestarikan adat dan budaya Aceh.
“Ini tidak pernah terbayangkan oleh saya, selesai upacara wisuda 5 orang wisudawan asal Aceh tersebut langsung disambut dengan tabuhan Rapa’i Pasee dan Peusijuek (tepung tawar). Ini sungguh luar biasa dan perlu dipertahankan, dan bahkan para wisudawan pun ikut serta menabuh Rapa’i”, tutur Kabid Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh ini.
Sementara Teuku Afiffuddin, S.Sn., M.Sn, wisudawan Pascasarjana Pengkajian Seni Teater ISI Padangpanjang, mengatakan merasa sangat bahagia, karena ISI Padangpanjang memberikan kesempatan untuknya dapat meneliti karya karya Maestro Teater Tutur Aceh Aceh Teungku Adnan PM TOH dari Strata Satu hingga Pascasarjana.
“Pascasarjana ISI Padangpanjang memberi peluang untuk saya mempresentasikan konsep kebaharuan yang berasal dari Aceh dalam Tesis yang berjudul “Meulanggeh dalam Seni Tutur Teungku Adnan PM TOH dari Provinsi Aceh (Kajian Semiologi)”. Meulanggeh berasal dari bahasa Aceh yang berarti sesuatu perbuatan yang keluar dari jalur atau kebiasaan. Setiap perbuatan Meulanggeh akan melahirkan sesuatu yang baru, berbeda dari biasanya atau sebelumnya. Begitu juga dalam kesenian,” ungkap Dosen Teater ISBI Aceh ini.
Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Aceh Padangpanjang, Andismar mengatakan, Peusijuek dan peh Rapa’i telah dua kali dilaksanakan usai Wisuda di ISI Padangpanjang.
“Kegiatan seperti ini, perlu dipertahankan sebagai bentuk ritual dari adat istiadat Aceh, selain sebagai rasa syukur tentu ungkapan kebersamaan dan silaturrahim walau kami berada di rantau, adat istiadat dan budaya Aceh tetap kami jaga,” ucap mahasiswa Seni Kriya ISI Padangpanjang ini. (Win Ansar)






