
Takengon-LintasGayo.co : Populasi lobster di Danau Lut Tawar (DLT) Kabupaten Aceh Tengah dikhawatirkan membahayakan baik untuk DLT maupun manusia yang mengkonsumsinya. Demikian dinyatakan peneliti DLT, Iwan Hasri, Minggu 3 Juli 2016.
“Bisa jadi lobsternya invasive sehingga menyebabkan perubahan komposisi struktur komunitas di DLT, belum lagi sifat nya yang bentik (hewan dasar-red) keamanan untuk dikonsumsi perlu kita teliti lebih lanjut mengingat beban bahan organik yang masuk ke DLT belum ada solusinya,” ungkap Iwan Hasri.
Lebih jauh dijelaskan Iwan, pada umumnya ikan di DLT menyimpan telur di substrat sehingga bisa punah karena sifat lobster mencari makan di dasar DLT.
“Buktinya, kalau dulu sekitar Keramba Jaring Apung orang memasang bubu dan mendapatkan ikan Kawan dan Keperas, namun sekarang yang tertangkap justru lobster,” kata Iwan.

Untuk itu, timpal Iwan, perlu dilakukan penelitian berkelanjutan terkait DLT, terutama terkait terjadinya perubahan-perubahan seperti perkembangbiakan Lobster, dan ikan-ikan lain yang bukan asli DLT.
Ditanya tentang ditemukannya lendir seperti agar-agar yang menyelimuti Hydrilla (sepot-Gayo:red) Iwan belum bisa memastikan penyebabnya.
“Perlu diidentifikasi lebih lanjut, namun pemicu biasanya karena perubahan kualitas air. Kalau dilihat dari struktur morfologinya ini bisa membahayakan Hydrilla (spot) nya karena dapat mengganggu proses fotosintesis. Biasanya lendir ini menempel di batu mungkin karena terlalu banyak bisa menempel di tanaman air tenggelam seperti Hydrilla,” terang Iwan Hasri.(Kh)





