Banda Aceh-LintasGayo.co : Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, M. Fadhil Rahmi, Lc menyatakan bahwa pesantren di Aceh sudah sangat banyak, calon mahasiswa yang melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah masih di test dan di interview (muqaabalah) di daerah lain seperti di Medan dan di Jakarta. Hal ini disampaikan dalam sambutan Pelantikan Pengurus Besar IKAT Aceh dan Seminar Internasional di gedung Aula Mahkamah Syar’iyah Aceh, 27 Maret 2016.
“Ini banyak ‘takalief’, (beban), bagi calon mahasiswa. Beban waktu dan biaya. Mestinya Kementerian Agama membuka penerimaan untuk beasiswa ke Timur Tengah di Aceh. Dulu-dulu kalau mau ke Mesir dan Sudan, testnya di Aceh. Sekarang ujiannya di Medan, kalau sudah lulus, harus ke Jakarta lagi. Ini kan memberatkan”, ungkap Fadhil.
Dia juga mengingatkan bahwa Aceh adalah satu-satunya provinsi yang memberlakukan Syariat Islam. Jadi kalau berbicara penerapan syariat secara kaffah, mestinya pemerintah juga mendukung hal ini. Membantu sebanyak-banyaknya mahasiswa Aceh mendapatkan pendidikan tidak hanya dalam negeri namun juga di universitas-universitas Islam di seluruh dunia, terutama di timur tengah.
“Porsi untuk Aceh harus khusus dan ditambah,” harapnya.
Sementara Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional Cabang Indonesia (IAAI) Dr. Mukhlis Hanafi yang juga pejabat di Kementerian Agama yang hadir pada acara tersebut diminta untuk menyahuti dan menyampaikannya kepada pihak Menteri Agama.
Ketua IKAT juga meminta kepada syeikh Dr. Ibrahim Lutfy alSaid, salah seorang ulama Mesir yang hadir sebagai pembicara dalam legiatan tersebut untuk menyampaikan kepada syeikh Azhar. (RN)





