Oleh Sahuri Ramadhan dan Nur Azizah*
Mahasiswa merupakan tongkat estapet harapan bangsa yang akan menjadi penerus pembawa perubahan untuk daerah maupun negara.
Fungsi mahasiswa sebagai agen of change harus di tunjukan dengan adanya perubahan-perubahan kearah yang lebih baik. Membawa masyarakat lebih mengerti dan berilmu pengetahuan dalam menjalani hidup.
Mahasiswa juga sebagai generasi pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa dan Negara tentunya harus senantiasa membiasakan diri mempelajari teori dan teknik kepemimpinan. Bagaimanapun juga dengan perjalanan waktu maka mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang dimaksudkan mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang kedepan akan diberikan beban dan tanggung jawab dalam menjalankan dan melanjutkan amanah Negara Republik Indonesia, baik ia di dalam system pemerintahan maupun diluar system pemerintahan.
Namun sebagai mahasiswa kita juga harus paham kenapa banyak pemimpin yang gagal dalam kepemimpinannya, baik di dalam organisasi kampus, lembaga ekstern maupun pemerintahan.
Yang pertama. Pemimpin selalu menempatkan diri hanya pada kedudukan formal sebagai pimpinan saja. Akibatnya, banyak mengandalkan kepada kekuasaan formal saja, tanpa memperhatikan hubungan kemanusiaan dengan anggotanya.
Yang kedua. Tidak mampu membangun team work, sehingga sulit untuk mengarahkan anggotanya dalam suatu kesatuan untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Hal itu disebabkan karena anggota tim tidak mempunyai motivasi dan spirit yang tinggi dalam kebersamaan di dalam kelompoknya dalam proses mencapai tujuannya. Pemimpin seperti ini akan membingungkan anggotanya.
Yang ketiga. Hanya ingin dilayani. Padahal, pemimpin sebaiknya mau melayani anggotanya Namun, karena pengaruh sifat feodalisme yang sangat kental pada bangsa ini, banyak pemimpin yang hanya ingin dilayani, seolah-olah hanya dia yang berhak dilayani, bahkan anggotanya juga harus memberikan upeti.
Yang keempat. Tidak mau menanggung risiko. Akibatnya, anggota dikorbankan dan menjadi kambing hitam jika terjadi suatu kesalahan. Perlu diingat, dalam pepatah militer “Tidak ada prajurit yang salah; yang salah adalah komandannya”. Pemimpin harus mau berkorban untuk melindungi anggotanya, bukan hanya mencari selamat sendiri.
Yang kelima. Tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah agar tumbuh semangat team work yang kompak dan solid untuk menjadi tim unggul. Bersifat masa bodoh pada anak buahnya-anak buah mau pintar atau bodoh terserah masing-masing tetapi ia bersikap reaktif. Tidak mau mendengar usulan-usulan atau gagasan-gagasan dari bawahan, tetapi kalau terjadi kesalahan maka anak buahnya akan disalahkan dan dimarahi habis-habisan.
Yang Keenam. Menghendaki loyalitas dari anggota atau bawahan sebaliknya pemimpin tersebut tidak loyal pada anggota, tidak memperhatikan kebahagiaan dan tidak memelihara semangat anggota. Loyalitas yang benar itu harus dua arah.
Yang ketujuh. Banyak pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat, pembisik, pembebek, berjiwa budak, dan siap melakukan apapun untuk kepentingan pribadi atau golongannya. Sehingga akhirnya kepemimpinan itu hancur dengan nafsu mereka sendiri
Yang Kedelapan. Tidak bisa menempatkan diri sebagai panutan dengan keteladanan dalam perbuatan dan perkataan. Karena seharusnya pemimpin itu harus jadi teladan bagi rakyatnya.
Yang Kesembilan. Anggapan bahwa kedudukannya seolah-olah bisa ditempati seumur hidup,memuaskan kehendaknya sendiri tanpa berpikir kepentingan rakyat. Padahal kepemimpinannya itu adalah atas dukungan rakyatnya dan bahkan bisa saja rakyat itu pula yang akan menghentikannya
Yang Kesepuluh. Pemimpin yang memang tidak pintar. Hanya keberuntunganlah yang membuat ia menjadi pemimpin, sedangkan pemimpin bangsa itu haruslah orang yang memiliki intelektual yang tinggi, karena setiap keputusan ada ditangannya. Jika pemimpin yang tidak berintelektual maka bisa saja ia mengambil keputusan yang salah yang dapat merugikan dirinya dan juga rakyatnya. (berbagai sumber)
Bermodalkan dari pemahaman-pemahanan itu maka kami siap untuk maju menjadi Pemimpin Mahasiswa mengajak seluruh Mahasiswa STAIN Gajah Putih Takengon untuk dapat memilih Pemimpin yang tepat, yang dapat mengayomi, mendengar, memberi kepada seluruh rakyatnya. Tidak pernah pandang bulu dan deskriminasi. Karena pemimpin yang Islami adalah Pemimpin yang adil bukan yang deskriminasi dan fanatik terhadap satu golongan. Pemimpin harus siap berbaur dan mengajak rakyatnya untuk dapat memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memajukan kampus yang lebih baik yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Gajah Putih Takengon Aceh Tengah Provinsi Aceh.
Kami Pasangan Sahuri Ramadana dan Nur Azizah mengharap dukungan penuh dari rekan-rekan untuk dapat menjadi Pemimpin yang diharapkan oleh semua Mahasiswa. Mari kita satukan suara untuk Pasangan Pemersatu 30 Desember 2015.
Mahasiswa tanpa Sekat!!!
*Calon Ketua dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa STAIN Gajah Putih Takengon 2016






