Takaran, Bukti Tingginya Peradaban Gayo

oleh
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA

Drs Jamhuri (foto:tarina)
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, kehidupan social budaya dalam masyarakat telah mengalami perubahan. Masyarakat terus menghadapi tantangan zaman yang menawarkan kehidupan yang serba kompleks dan cepat. Mau atau tidak keadaan ini harus tetap diterima oleh masyarakat, untuk menjawab tantangan kehidupan yang cukup kompleks. Masyarakat yang lebih maju taraf pendidikannya tentu kehidupan sosialnya akan menjadi lebih baik, karena mereka lebih mampu memanfaatkan teknologi dalam rangka memberikan kemudahan serta keuntungan baik sebagai individu maupun kelompok sosialnya.

Manusia senantiasa berupaya mencari penghidupan dengan berbagai profesi yang dia lakoni,  dalam masyarakat tradisional atau juga disebut dengan masyarakat agraris, pemenuhan kebutuhan hidup manusia sangat tergantung dengan alam sehingga musim sangat menentukan baik untuk memulai atau mengakhiri pekerjaan mereka. Pada masa awal pasar belum merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat, kegiatan ekonomi masyarakat berupa interaksi individu di tempat mereka tinggal. Selanjutnya ketika masa sudah mulai berubah menuju kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka pasar tidak hanya sebagai tempat perdagangan barang tetapi juga sebagai media interaksi masyarakat. Di pasar terjalin komunikasi antar satu komuniti masyarakat dengan komuniti lainnya, sehingga terbentuklah apa yang dinamakan komunikasi antar masyarakat desa dengan masyarakat pasar atau kota.

Terkadang masyarakat tidak menyadari kalau ukuran dan alat yang digunakan untuk mengukur dan takaran serta alat yang digunakan untuk menakar merupakan salah satu budaya yang mulai terkikis oleh berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Selanjutnya untuk penggunaan alat-alat pengukur dan penakar suatu barang atau benda biasanya masyarakat menggunakan bahan yang mudah ditemukan disekitar mereka, sehingga satu daerah dengan daerah lain kemungkinan berbeda dalam menggunakan takaran atau ukuran sangat mungkin terjadi. Demikian juga dengan kemungkinan bergantinya bahan alat yang digunakan untuk mengukur dan menakar.  sebagai contoh alat takar kal dalam bagasa Gayo pada dasarnya terbuat dari batok kelapa kemudian karena kemajuan teknologi masyarakat menemukan kaleng bekas tempat susu sehingga alat yang pertamanya dibuat dari batok kelapa berganti dengan kaleng susu. namun namanya tetap disebut dengan kal.

Demikian juga dengan alat yang digunakan untuk mengukur jauh, jarak, dekat, tinggi, rendah, besar dan kecil.  Masyarakat tradisional biasa menggunakan bahan atau alat ukur yang ada pada diri mereka seperti tangan, kaki dan jari atau juga tinggi rendahnya badan dan benda yang ada disekitar mereka seperti akar, rotan dan kayu. Kemudian juga masyarakat sering mengukur jaraknya satu rumah dengan rumah yang lain dengan menghitung langkah, atau kalau perjalanan yang jauh dan tidak mungkin dihitung dengan langkah maka mereka menghitung dengan lamanya berjalan dengan menggunakan perjalanan hari (setengah hari, satu hari, dua hari…, seminggu, dua minggu…, sebulan dan seterusnya). Juga karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga sekarang ini seolah tidak ada lagi benda yang tidak bisa dihitung dan tidak ada lagi jaruh yang tidak dapat diukur.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas dengan alasan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka banyak alat atau cara yang dulu digunakan dan kini tidak digunakan lagi maka untuk mendapatkan hasil yang maksimal peneliti melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat yang mengetahui alat atau cara dalam mengukur sesuatu dalam masyarakat Gayo. Dari hasil penelitian ditemukan ada bermacam-macam alat atau cara yang digunakan oleh masyarakat Gayo dalam mengukur atau menakar “

Tulisan ini ingin mencoba mengimpentaris kebudayaan Gayo yang kini sudah mulai terkikis oleh kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Gunanya adalah untuk membuktikan bahwa Gayo adalah suatu bangsa yang mempunyai kekayaan khazanah dan sebagai bukti tingginya sebuah peradaban.

Selanjutnya penulis ingin menyebutkan salah satu contoh bangaimana masyarakat Gayo dalam mengetahui sedikit banyaknya benda:

Jumlah dan Banyak Benda

Untuk mengetahui jumlah dan banyaknya benda yang ditakar atau dihitung bisa dua cara, yaitu :

Pertama: Menghitung benda berdasarkan jumlah benda, ini digunakan untuk menghitung benda-benda yang besarannya dapat dihitung dengan satuan, seperti menghitung jumlah binatang, penghitungan jumlah binatang dapat dilakukan dengan dua cara : a) Penghitungan binatang yang dengan cara penghitungan berdasarkan satuan, artinya menghitung setiap satuan atau setiap ekor binatang. Penghitungan ini biasa digunakan untuk menghitung binatang yang mempunyai badan yang besar atau juga digunakan untuk menghitung binatang yang tidak mempunyai jumlah anak yang banyak. Maka enghitungannya dengan menyebut, sara koro, rowa koro, tulu koro.., atau juga binatang lain selain dari kerbau. b) Penghitungan binatang dengan menghitung jumlah induk binatang dan tidak termasuk anaknya, penghitungan ini tidak bersifat  pasti jumlah satuannya namun cara menghitung seperti ini sering digunakan dan dimaklumi oleh semua orang yang mendengar atau mareka yang bertanya merasa puas dengan jawaban dari pemilik binatang (hewan) peliharaan. Seperti pertanyaan berapa jumlah ayam anda ? pemilik ayam bisa menjawab dengan ara sara berine, rowa berine, tulu berine dan seterusnya. Hitungan ini  memberi arti bahwa anak ayam atau ayam yang masih bertelor pertama tidak dimasukkan dalam hitungan karena pemilik ayam tidak pernah menghitung secara pasti berapa jumlah ayam yang dimiliki.

Penghitungan jumlah dengan satuan juga digunakan untuk menghitung batang pohon, sara batang, rowa batang, tulu batang, dan seterusnya. Hampir sama dengan cara penghitungan terhadap binatang di atas, untuk pohon digunakan penghitungan satuan batang untuk setiap batang yang mudah dihitung, tetapi apabila penghitungan digunakan untuk pohon yang mempunyai anakan dinamakan dengan  perdu. Seperti menghitung batang pisang, batang bambu, jahe, kunyit, lengkuas dan lain-lain.

Kedua, menghitung benda berdasarkan jumlah benda, ini digunakan untuk menghitung benda-benda yang besarannya dapat dihitung dengan satuan, seperti menghitung buah atau biji-bijian dari yang terbesar sampai kepada yang terkecil, sama halnya dengan binatang dan buah di atas, buah dan bijian juga dapa di hitung dengan dua cara : a) Buah dan bijian yang dapat dihitung berdasarkan satuan maka dapat dihitung satu demi satu, b) untuk buah dan bijian yang tidak dapat dihitung dengan satuan baik karena terlalu banyak atau terlalu kecil maka dapat dihitung dengan melihat tempat.

Menakar berdasarkan banyaknya benda dengan memperhatikan tempat dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak, adalah :

  1. Jontok,
  2. Jemput,
  3. Rengom,
  4. Setangkus,
  5. Kemul,
  6. Nemal,
  7. Belah kal,
  8. Sengkal (sara kal),
  9. Senare,
  10. Segantang,
  11. Sara tem,
  12. Sara Gating atau Sara Padang,
  13. Setengah Kunce,
  14. Sara Kunce,

Di samping untuk mengetahui jumlah takaran masih banyak aspek lain yang merupakan khazanah masyarakat, seperti cara mengetahui jauh atau dengak demikian juga dengan dalam dan dangkal.

*Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.