Takengon-LintasGayo.co : Jelang hari raya Idul Fitri, atau tepatnya hari terakhir puasa Ramadhan 1436 H, harga kayu yang biasa disebut warga Gayo sebagai ‘Uwing’ harganya meroket.
Uwing dipergunakan masyarakat Gayo sebagai bumbu utama dalam pembuatan penganan ‘Cecah Reraya’ yang terbuat dari kulit sapi/kerbau, dan sebagian dagingnya, kemudian dicincang dan diberi bumbu-bumbuan dan paling utama adalah pohon Uwing atau pohon Tingkem. Menu ini dipercaya sebagai obat perut, karena berasa kelat.
Salah seorang warga Kayukul, Kecamatan Pegasing, Aman Hafizh, Kamis 16 Juli 2015 mengatakan, harga Uwing saat ini mencapai 10 ribu Rupiah.
“Harganya cukup meroket, sampai 10 Ribu Rupiah, panjang nya tidak sampai semeterpun dengan diameter kecil,” kata Aman Hafizh.
Dilanjutkan, sejak beberapa tahun terakhir ini, pohon Uwing diseputaran kampung tempat tinggalnya mengalami kepunahan, tidak ada budidaya yang dilakukan masyarakat setempat.
“Kalau empat tahun silam, masih banyak tumbuh dipekarangan atau diperkebunan warga disini, jadi enggak perlu beli, pasti dikasi. Sekarang ini, pohon nya juga jarang dijumpai, maka banyak warga yang memanfaatkannya menjadi sumber mengais rupiah, dan itu wajar,” demikian Aman Hafizh.
(Wein Mutuah)







