Pejalanan ke Bosnia

oleh
oleh

Catatan Luqman Hakim Gayo

Luqman-Hakim-Gayo-2PADA suatu hari di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Jemaah penuh sesak memadati ruangan atas, berbeda dari ceramah umum lainnya. Sebab, pembicara hari ini cukup istimewa, lain dari yang lain. Yaitu Prof. Izet Aganovic, Ketua Merhamet (Bulan Sabit Merah) dari Eropah, didampingi isterinya. Mereka datang khusus untuk menyampaikan berita besar yang baru terjadi di belahan Eropah. Pembantaian umat Islam yang paling keji dan kejam di abad ini sedang berlangsung di sebuah negeri kecil yang bernama Bosnia Herzegovina.

Mereka memilih Republik Indonesia sebelum ke negara lain, karena negara ini terkenal dengan jumlah Umat Islam yang besar. Memang, kedua penceramah suami isteri itu telah mampu menghenyakkan umat Islam dalam kesedihan yang mencekam, bahkan beberapa kaum muslimah menangis terisak-isak. Baru kali ini mendengar cerita pembantaian manusia secara keji. Terjadi di Eropah, negara yang selama ini dikenal sebagai penjunjung tinggi kemanusiaan.

Tak diragukan lagi, usai mendengar ceramah yang menghenyakkan itu, jutaan rupiah terkumpul, bahkan sejumlah perhiasan. Jam tangan, kalung dan gelang emas serta barang berharga lainnya serta sejumlah uang tunai, diserahkan oleh umat Islam kepada utusan Merhamet Eropah itu. Disumbangkan untuk membantu dan meringankan penderitaan sejumlah Umat Islam yang selamat dan berhasil diselamatkan. Sejak itulah nama Bosnia Herzegovina mulai terkenal dan berkumandang di seluruh Tanah Air.

Dimana Bosnia Herzegovina ?
Bosnia memang negara asing. Belum dikenal. Sejak pecahnya negara komunis Rusia, belahan komunis lainnya ikut terguncang. Satu di antaranya adalah Yugoslavia. Negara komunis di belahan Balkan itu, ikut tercabik-cabik menjadi enam negara kecil, dan merdeka dengan berdiri sendiri. Antara lain adalah Croatia dengan ibukotanya Zagreb dan Bosnia Herzegovina dengan ibukota Sarajevo.

Sementara itu, berbagai bangsa sudah lama menetap di negeri yang terkenal berhaluan komunis itu. Selain suku Serbia yang mayoritas, juga dihuni oleh bangsa-bangsa campuran antara Turki dan Jerman, serta bangsa-bangsa Asia. Demikian halnya dengan soal agama. Meski sebagian besar tidak beragama, tetapi ada peganut Kristen ortodok dan hanya beberapa persen penganut Muslim.

Setelah terpecahnya Yugoslavia menjadi beberapa negara kecil, penduduk asli berbangsa Serbia yang tersebar di beberapa negara baru itu, bersepakat untuk perkumpulan baru dsn mewujudkan Negara Serbia Raya atau The Great Serbia. Mereka mulai menyusun barisan. Hampir semua negara kecl yang baru merdeka itu, secara diam-diam berpihak kepada cita-cita The Great Serbia yang berhaluan komunis.

Ketika berlangsung pemilu di negara-negara yang baru merdeka itu, sebagian besar mendukung haluan negara dan agamanya. Satu diantaranya yang memenangkan suara umat Islam adalah di negara Bosnia Herzegovina. Umat Islam disini ternyata cukup fanatik. Meski bertahun dihambat menjalankan faham agamanya, namun tetap bertahan. Dan, akan mengembangkan Islam sejak kemerdekaan dimulai.

Rakyat Serbia yang tersebar di sejumlah negara, menganggap ini bahaya besar. Umat Islam di Bosnia akan menjadi batu penghalang untuk terwujudnya The Great Serbia. Karena itu, negara ini harus dimusnahkan. Faham Islam harus dilenyapkan, karena faham ini anti kepada komunis. Sejak itulah pembantaian umat Islam secara besar-besaran dimulai. Khususnya di bekas negara komunis Yugoslavia itu, terutama di Bosnia Herzegovina.

Ketika itulah saya dikirim untuk meliput korban kekejian perang tersebut. (Bersambung)

*Wartawan, tinggal di Bener Meriah

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.