
Tingginya kebutuhan ekonomi dan niat tulus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, menjadikan kedua mahasiswa asal Lokop Serbejadi ini harus bekerja dalam memenuhi tekadnya menjadi orang yang lebih baik dalam menggapai cita-cita.
Berasal dari keluarga yang serba kekurangan, Desi Suryadi dan Kamisli yang kini berkuliah disalah satu Perguruan Tinggi Negeri dii Kota Langsa, harus bekerja nyambi kuliah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Keduanya bekerja sebagai pelayanan disebuah warung kopi. Mereka berdua harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Paginya mereka menunaikan tugas sebagai mahasiswa untuk belajar dibangku perkulihan, sedangkan sore harinya bekerja sebagai pelayan warung kopi.
Kepada LintasGayo.co, Kamisli, Selasa 10 Maret 2015 mengatakan bahwa mereka berdua masuk bekerja pada pukul 17.00 dan selesai pada pukul 01.00 dini hari.
“Lelah juga, namun apa boleh buat. Kami berdua ingin mengapai mimpi, dan bisa berbakti bagi tanah kelahiran kami di Lokop Sebejadi,” ungkapnya.
Daerah Lokop Serbejadi yang merupakan daerah administratif Kabupaten Aceh Timur, dimana semua penduduk disana adalah suku Gayo saat ini masih terisolir. Atas dasar itulah, suatu saat mereka berdua ingin menjadi pemimpin didaerahnya agar daerah itu lepas dari keterisoliran.
Selain keduanya ingin melepaskan daerah itu dari keterisoliran, dengan bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri, setidaknya bisa meringankan beban orang tua mereka saat menempuh bangku perkuliahan.
Walau tak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan perkuliahan dan kebutuhan sehari-hari, setidaknya dengan bekerja dapat mengurangi sebagian dari kebutuhan mereka.
“Niat kami hanya ingin menyelesaikan pendidikan ini, agar orang-orang tidak lagi sepele memandang urang Lokop Serbejadi, kami ingin menunjukkan diri kami bisa menjado yang terbaik,” demikian Kamisli semangat.
(Ismail Baihaqi | DM)