
Kutacane-LintasGayo.co : Percepatan pembuatan jalan terowongan (Jatro) yang menghubungkan Kutacane Aceh Tenggara (Agara) dengan Kabupaten Langkat Sumatra Utara didesak disegerakan dengan pertimbangan ketidakpedulian Pemerintah Sumatera Utara terhadap peningkatan badan yang masuk dalam wilayah provinsi tersebut. Selain itu untuk mempersingkat waktu tempuh baik dari Kutacane maupun Blangkejeren Gayo Lues.
Desakan ini diungkapkan oleh warga Aceh Tenggara, Nawi (48) kepada Lintas Gayo Selasa (10/2). “Pemerintah mesti segera membangun jalan terowongan yang menembus Kabupaten Langkat. Jalur selama ini di Kabupaten Tanah Karo, Sumut sudah tak bertuan, seiring tidak ada kepedulian dari Pemprov Sumut atau juga Pemerintah Pusat, sehingga kerusakan makin parah, selain itu pungli juga merajalela,” ungkap Nawi.
Selama ini, kata Nawi, warga Agara dan Gayo Lues (Galus) harus berjibaku berlama-lama dalam perjalanan menuju Medan, karena jalan nasional di Tanah Karo rusak parah. Apalagi, truk pengangkut hasil bumi ke Medan, Sumatera Utara kerap terjebak di jalan dan jembatan rusak.
Disebutkan, warga yang menggunakan mobil pribadi membutuhkan waktu 7 sampai 8 jam untuk sampai ke Medan, sedangkan truk antara 10 sampai 14 jam. “Kami sudah lelah, jalan sudah rusak parah, diperparah lagi dengan pungli yang dilakukan sebagian warga Tanah Karo,” katanya.
Dikatakan, jika Jatro Nekat dibangun maka perjalanan menuju Medan hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam, sehingga hemat waktu dan juga biaya perjalanan. “Warga Agara dan Galus tidak melintasi lagi jalanan yang berliku, terjal, amblas dan rusak parah di Tanah Karo yang dinilainya sengaja dibiarkan Pemprov Sumut dan Pemerintah Pusat,” tuding Nawi.
Tokoh masyarakat ini menyarankan bila tidak memungkinkan di bangun jalan Jatro Nekat, maka dapat diganti dengan jalan aspal tembus ke Langkat. “Aktivis lingkungan dapat melihat dan membandingkan kerusakan alam dan manfaat pembangunan jalan aspal yang memotong kawasan hutan lindung,” tanda Nawi. (Jubel | Kh)





