Catatan Nasril
Sekarang kita masih di bulan Rabiul awal, tepatnya beberapa hari yang lalu Sabtu, 03 Januari 2015 bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1435 H, dimana pada tanggal tersebut beberapa abad yang lalu lahir baginda Rasulullah SAW, tidak hanya umat Islam yang mengagumi beliau tapi juga non muslim, bahkan mereka menempatkan Rasulullah SAW di urutan pertama orang yang paling berpengaruh di dunia.
Ketika bulan ini datang, kebiasaan sebagian umat Islam didunia ini, pada tanggal tersebut merayakan maulid dengan berbagai macam bentuk, satu daerah berbeda dengan daerah lain sesuai dengan tradisi suatu daerah tersebut. Ada yang merayakan dengan kesederhanaan mengupas shirah Rasulullah SAW ada juga yang merayakan dengan manghadirkan makanan baik di meunasah atau dirumah-rumah, kantor, sekolah dll, kemudian pada malamnya di lanjutkan dengan ceramah maulid atau yang biasa dikenal di Aceh dengan dakwah.
Disini saya tidak membahas perbedaan pendapat mengenai hukum perayaan maulid itu sendiri, bagi saya, setiap generasi itu memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan cintanya kepada Rasulullah SAW, disini saya mencoba menceritakan sedikit kesederhanaan perayaan maulid di sebuah gampong di kota seribu bukit, yaitu gampong Rema Tua kecamatan Kuta Panjang Kabupaten Gayo Lues. Sehari sebelum perayaan maulid, keluarga saya di Rema mengabari bahwa besok kita hadir ke perayaaan maulid di mersah, ini merupakan kali pertama saya melihat maulid di kota seribu bukit ini. Awalnya saya mengira perayaan maulid disini sama saja dengan daerah lain yang ada di Aceh.
Hari itu, sabtu 03 januari 2015, saya terlambat datang ketempat diadakannya perayaan maulid, yaitu di Mersah. Setiba disana saya melihat beberapa pemuda sedang duduk santai dibawah dan anak-anak sedang asyik bercanda tawa dengan komunitasnya. Saya duduk sejenak dengan para pemuda disana, tidak banyak bicara, mengingat saya masih sulit komunikasi dengan bahasa disana, tapi mereka mempersilahkan saya untuk naik ke Mersah, tapi saya menolaknya, biar saya menikmati disini saja, setelah beberapa menit duduk dibawah, saya bosan dan kembali ke rumah yang tidak jauh dengan mersah ini. Saya mulai penasaran, kemana orang-orang dikampung ini, koq sangat sepi, sedangkan di tempat acara tadi tidak ada tanda-tanda ramainya orang. Untuk menghilangkan penasaran karena ini yang pertama kali saya di kota penghasil minyak Sere ini, saya kembali ke Mersah, kali ini diajak naik ke mersah oleh seseorang yang saya tidak kenal sebelumnya, semakin dekat dengan pintu masuk, dari dalam sudah mulai terdengar ceramah maulid, Subhanallah, saya takjub melihat keadaan didalam mersah ini, rupanya orang-orang gampong ini sedang hampir semua berkumpul disini menikmati ceramah maulid yang disampaikan oleh ust Umar Ali kepala KUA kuta Panjang. Padahal mersahnya luas, tapi terasa sesak karena penuhnya masyarakat yang hadir.
Beliau mengupas shirah Rasulullah SAW, kehidupan sehari-hari Rasulullah juga dalam membina rumah tanggga dan cara mendidik anak. Sekali-kali terdengar sahutan dari masyarakat tatkala penceramah menyampaikan tentang pendidikan untuk anak-anak sekarang, sekali-kali masyarakat juga ketawa. Materi yang disampai cukup menarik, tidak ada masyarakat yang bangun, semua betah dalam ruangan mersah yang sangat sederhana. Awalnya saya mengira setelah ceramah maulid ini akan ada hidangan makanan layaknya di tempat lain. Tiba-tiba panitia memberikan kode ke penceramah untuk istirahat sebentar. Beberapa pemuda dan ibu-ibu bangun, mereka berdiri ditengah-tengah kerumunan warga, satu persatu diletakkan gelas, dan sepiring kue, rupanya istarahat untuk ngopi bareng dan relaks. Tiba-tiba anak-anak penuh semangat dengan gerakan yang sudah dipelajarinya mereka bershalawat kepada Rasulullah SAW, anak-anak sangat antusias dan semangat, mereka bermain gerakan gerakan indah seperti saman, ketika syeikh memimpin shalawat, saat mereka mengucapkan selawat terasa merinding.
Ibu-ibu disini membawa kue untuk dimakan sama-sama pada saat istirahat, ada yang bawa lepat, pulot, wajib, borom dan aneka kue lainnya, sehingga ketika dihidangkan kita kebingungan mengambil yang mana, yang pasti tidak ketinggalan Lepat Gayo. Setelah 20 menit istirahat penceramah kembali melanjutkan materinya, masyarakat pun sudah segar kembali untuk menyimak lanjutan materi, hal ini sedikit unik, mungkin tidak dtemukan di daerah-daerah lain, sampai akhirnya sebelum ditutup dengan doa, panitia kembali naik ke mimbar untuk menarik kesimpulan dari awal sampai akhir ceramah, lebih kurang ada lima point penting yang disampaikan oleh penceramah tadi, “yang pertama bahwa Rasulullah SAW telah meninggal dua pusaka kepada kita, yaitu al-Qur an dan Sunnah, kedua, senantiasa mengingat perjuangan Rasulullah SAW dan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah melebihi apapun, ketiga untuk menjadikan rasulullah SAW suri tauladan dalam kehidupan kita sehari-sehari dalam segala aspek kehidupan, keempat, Rasulullah SAW sangat peduli kepada keluarga dan juga menjalani tanggung jawab sebagai suami dan ayah anak-anak dan terakhir, kiranya untuk mendidik anak-anak kita mulai dari sekarang agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah setelah kita nantinya” demikian kesimpulan disampaikan oleh panitia Aman Alfi.
Banyaknya jamaah yang hadir untuk menyimak dan mengenal Rasulullah lebih dekat melalui perayaan maulid yang dilaksanakan di Desa Rema ini menandakan kompaknya masyarakat Rema dan tingginya rasa ingin tau tentang sejarah Rasulullah SAW. Mereka yang hadir terdiri dari semua unsur baik tokoh masyarakat, pemuda dan orang tua, ibu-ibu dan juga anak-anak ikut meraikan perayaan maulid ini. Dalam acara ini tidak ada bu kulah (Nasi Kulah), tidak ada makan-makan, mereka memperingati maulid dengan penuh kesederhanaan, moment seperti ini juga menjadi ajang silaturrahmi sesama masyarakat, mungkin selama ini jarang ngumpul atau bertatap muka karena sibuk dengan aktifitas masing-masing dan pastinya mereka ingin megetahui lebih banyak tentang shirah Rasulullah, hanya segelas kopi dan sepotong kue bisa membuat mereka lebih kompak dan mereka fokus pada penceramah, untuk mendapatkan ilmu. Nah, begini mereka merayaan maulid, kekompakan dan kesederahaan, acara berakhir ketika memasuki waktu zuhur di akhiri dengan pembacaan doa kemudian dilanjutkan dengan shalat jamaah. Berbeda daerah, tentu beda cara perayaannya, tapi di Rema begitu terasa kekeluargaan dan kesederhanaannya.
Kelahiran nabi Muhammad SAW, merupakan rahmat yang terus mengalir bagi seluruh manusia, al-Qur an menggambarkan keberadaan Nabi muhammad SAW, sebagai Rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) beliau merupakan rahmat yang tak bertepi mencakup semua sisi kehidupan , baik tarbiyah (pendidikan) , tazkiyah (penyucian hati) pengajaran dan pemberian hidayah bagi manusia kepada jalan yang lurus. Sudah seharusnya kita jadikan Rasulullah SAW suri tauladan dalam segala aspek kehidupan kita, beliau selalu mengajarkan dan menganjurkan kita untuk terus bersiaturrahim, dan melarang perpecahan.






