
Ada pepatah di Gayo mengatakan “Ike nge sukses i negeri ni jema, urang Gayo payah ulak ku tanoh tembuni”. Pepatah tersebut diartikan, jika orang Gayo telah sukses di negeri orang, maka dia tak kan mau kembali ke Gayo. Namun pepatah tersebut tidak berlaku kepada Nurdin Yunus salah seorang putra Gayo yang telah menetap dan menjadi warga negara Jerman selama puluhan tahun.
Kepada LintasGayo.co beberapa waktu lalu saat mengunjungi SMAN 1 Takengon dalam rangka mencari data saat menempuh pendidikan disekolah tertua di Aceh itu, Nurdin Yunus mengaku sangat ingin pulang ke tanah kelahirannya.
Alumnus perdana SMAN 1 Takengon, merupakan putra kelahiran Toweren-Aceh Tengah 20 Agustus 1942, meninggalkan bumi Gayo pada tahun 1961 guna melanjutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada Fakultas Kedokteran Hewan, saat itu nama beken salah satu universitas favorit di Indonesia itu adalah Gama.
Hanya setahun kuliah di Gama, Nurdin Yunus mendapat beasiswa ke Uni Soviet (sekarang Rusia) jurusan Mesin pada Universitas Persahabatan Rakyat Patrice Lumumba. Program beasiswa yang diikutinya adalah merupakan program dari Presiden Republik Indonesia Soekarno yang bertujuan membentuk sumber daya manusia Indonesia yang lebih maju, karena saat itu bangsa ini berada pada masa awal-awal kemerdekaan dan pimpinan negara sangat ingin kekayaan alam Indonesia dikelola putra-putri nya sendiri.
Ketika itu, ternyata banyak putra-putri Gayo yang dikirim kuliah di Rusia, dalam ingatan Nurdin Yunus sejumlah nama urang Gayo yang mendapat beasiswa tersebut diantaranya, Samsiah, Yusuf Gayo, Munaf, Rahmatsyah, Hamid, Sarjo dan Daud Gayo. ” “Itu nama-nama yang saya ingat, tapi menurut kabar yang saya terima saat itu ada beberapa orang lagi yang dikirim ke negara lain, saya tidak ingat namanya,” kata Nurdin Yunus.
Setelah menyelesaikan perkuliahan, situasi perpolitikan Indonesia sedang hangat, Soekarno dilengserkan dari jabatan presiden dan digantikan Soeharto. Merasa sedih dengan dijatuhkannya Soekarno, sejumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri enggan pulang ke tanah air dan memilih menetap, bekerja di luar negeri. Salah satunya adalah Nurdin Yunus, hal tersebut dikarenakan kesetiaannya anak-anak bangsa ini kepada Seokarno.
“Kami memilih setia kepada Bung Karno, banyak yang tidak pulang ke tanah air, saat itu mahasiswa di luar negeri menolak dijatuhkannya Soekarno, jika pun kami pulang kesini susahnya bukan main. Kami dianggap orang berbahaya oleh pemerintah penguasa. Makanya banyak dari kami menjadi tahanan politik dengan cara tidak boleh pulang lagi ke Indonesia, saya memilih ke Jerman untuk bekerja,” kenang Nurdin Yunus.
Dalam kondisi itulah, banyak mahasiswa di Indonesia memilih menjadi warga negara Rusia maupun Jerman. Nurdin Yunus menceritakan, setelah tidak diperbolehkan pulang ke Indonesia, dirinya memilih bekerja di Jerman, dan pada tahun 1991 dia resmi menjadi warga negara Jerman.
“Kehidupan di Jerman untuk memperoleh pekerjaan sangat sulit bagi orang asing, maka jalan satu-satunya adalah menjadi warga negaranya, dengan demikian hak dan kewajiban kita sama seperti penduduk Jerman lainnya, sejak beberapa tahun di di Jerman saya memutuskan menjadi warga negaranya pada tahun 1991,” kata Nurdin Yunis sambil mengusap air matanya.
Semasa di Jerman, dia bekerja sebagai insinyur teknologi bangunan mesin disejumlah industri. Hingga dia meminang wanita asal Moscow untuk dijadikan istrinya, saat ini Nurdin Yunus memiliki dua orang anak. “Selama itu saya menjadi warga negara Jerman, namun identitas ke-Gayo-an tidak pernah saya lupakan, kepada kedua anak saya selalu mengatakan bahwa mereka berasal dari Gayo, mereka berdua juga pernah datang ke Takengon menjenguk keluarga saya disini,” katanya.
Ternyata, meski telah menjadi warga negera Jerman dan menjadi seorang ahli kontruksi mesin dengan berpenghasilan melimpah tak menjadikan Nurdin Yunus lupa akan tanah kelahirannya Gayo secara khusus dan Indonesia secara umum. Dihatinya, bangsa dan tanah air Indonesia adalah segala, dia berkeinginan untuk bisa segera pulang ke Indonesia dan menjadi warga negara tanah kelahirannya lagi.
“Selama menjadi warga Jerman, bukan berarti saya senang, hati dan pikiran saya selama puluhan tahun masih disini, dibumi pertiwi, jika tidak terjadi kekacauan politik saat itu mungkin ilmu saya dan mahasiswa lainnya yang belajar ke luar negeri bisa dipersembahkan untuk tanah air tercinta,” ujarnya.
Nurdin Yunus saat ini tengah mengusahakan kepulangannya menjadi warga negara Indonesia lagi, maka dari itu dia berkunjung ke SMAN 1 Takengon dimana ditempat inilah dia menempuh pendidikannya, guna mencari data dan fakta bahwa dia benar berasal dari bumi Gayo dan Indonesia. Dia meminta, pihak SMAN 1 Takengon untuk mencarikan datanya saat bersekolah, walau hanya selembar surat usang yang menyatakan dirinya pernah belajar di sekolah ini.
“Saya berharap data saya masih ada disini, walau harapan itu kecil. Karena saya adalah angkatan pertama sekolah ini, dan sekolah ini juga sudah berubah bangunannya, harapan mendapat kan data sangat lah kecil, namun saya tetap yakin saya bisa menjadi WNI lagi dan menghabiskan sisa hidup saya di tanah ini, jika diijinkan Pemerintah Indonesia sekarang, tahun depan saya sudah menjadi warga negara Indonesia lagi, semoga prosesnya berjalan dengan lancar dan tak ada ditemui kendala,” harap Nurdin Yunus.
Gayo saat ni dimata Nurdin Yunus
Melihat tanoh tembuninya saat ini, Nurdin Yunus mengaku prihatin terutama soal udara yang dinilainya jauh berubah sejak ditinggalkannya dulu. Meski masih sejuk dan juga masih terdapat banyak pohon, Nurdin Yunus mengatakan bahwa udara Gayo tidak sesegar dulu. Malah dia menilai, udara di Jerman jauh lebih bersih dari pada udara di Gayo.
“Saya rasakan, udaranya di Jerman lebih lebih bersih dari pada di Gayo. Salah satu penyebabnya adalah, di sini kenderaan tidak mengunakan katalisator sebagai penyaring polusi, jika di Jerman setiap kenderaan wajib menggunakannya, maka dari situlah saya rasa udara disini lebih kotor dibandingkan dengan di Jerman, walau jumlah kenderaan jauh lebih banyak dari pada di Gayo, tapi udaranya tak terasa kotor,” kata Nurdin Yunus.
Dari segi budaya, Nurdin Yunus mengaku Nurdin Yunus juga melihat banyak kebudayaan asing yang telah masuk ke bumi Gayo, namun begitu ada satu hal yang menjadi filter ketat dari kebudayaan asing yang masuk yakni keyakinan agama.
“Kebudayaan lain boleh saja masuk dengan bebas, namun ada satu filter yang betul-betul dipegang teguh urang Gayo yakni agama Islam, saya lihat agama bukan nya sekedar filter, namun juga keyakinan dalam menjalankannya merupakan hal terpenting dalam menjaga eksistensi budaya Gayo dalam menyaring budaya asing yang masuk, jadi budaya lain tak dapat mempengaruhi urang Gayo dalam menjalankan agamanya,” demikian Nurdin Yunus.
(Darmawan Masri)





