Memimpin dengan Spiritual ala Rasulullah

oleh
oleh
Fahrul Rizal

Oleh Fahrul Rizal [*]

Fahrul Rizal
Fahrul Rizal

Kehidupan Spiritual merupakan sesuatu yang esensi dalam kehidupan manusia. Manusia mulai bosan dengan Kehidupan duniawi yang semakin didalami, semakin buntu dalam mencari hakikat kemanusian/kehakikian. Urusan dunia tidak akan pernah habisnya jika semakin ditelusuri, berbeda dengan kehidupan spiritual, semakin dalam mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan makan semakin mendapatkan hakikat sebagai manusia.

Spiritual tidak terlepas dari agama, namun spiritual tidak selalu agama. Agama memang salah satu jalan bagi kita umat islam untuk mengenal spiritual dengan lebih baik. Agama adalah suatu sistem kepercayaan. Dan spiritual adalah implementasinya dalam kehidupan.

Pemimpin-pemimpin di dunia sudah mulai menjalankan kehidupan spiritual. Sifat-sifat yang jujur, rendah hati, berfikir positif dan sejenisnya, akan menjadi idaman para bawahannya.

Sejarah membuktikan, pemimpin-pemimpin besar di dunia yang dihormati, disegani, dan menjadi idaman adalah mereka yang memimpin dengan hati nurani yang bersumber dari spiritual yang kokoh. Pemimpin seyogyanya adalah teladan  dengan mencontohkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakatnya. Begitu banyak contoh para pemimpin yang berasil memimpin dengan hati, seperti kepemimpinan Rasulullah Saw, Yesus Kristus, Siddharma Gautama, para Khalifah, dan pemimpin spiritual lainnya yang tetap relevan sampai kapanpun, oleh siapapun dan dengan latar belakang apapun.

Dari sekian banyak pemimpin spiritual, Nabi Muhammmad merupakan pemimpin terbaik sepanjang zaman. Hidup Sebagai anak yatim yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebiasaan kurang baik (Tsunami Moral) atau lebih sering dikenal dengan masyarakat jahiliyah, namun beliau tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bertolak belakang dengan social-cultural lingkungannya, beliau hidup sederhana dan jujur. Bahkan ketika semua orang di kotanya dimabukkan dengan minuman keras dan kejahiliyahan lainnya, Muhammad tidak pernah ikut bersama mereka. Tidak heran ketika beliau masih berusia muda dan belum menjadi seorang Rasul, beliau sudah dijuluki dengan panggilan Al-Amin (terpercaya) dan As-Saadiq (yang benar).

Ketika Rasulullah menerima wahyu dan menjadi seorang Rasul dengan ajaran yang dibawa. Rasulullah dan para pengikutnya kerap sekali mendapat kekerasan, baik kekerasan lisan dan kekerasan fisik. Seiring berjalannya waktu ternyata ajaran Muhammad Saw justru meraup banyak pengikut dari setiap kalangan dan lapisan masyarakat.

Banyak sekali tauladan dan kisah spiritual yang dicontohkan Rasulullah Saw yang tetap menjadi Inspirasi sepanjang masa, beliau tidak hanya seorang yang ahli dalam berperang, ahli berdagang, pemimpin bangsa, namun menjadi seorang spiritualis yang agung. Bagaimana mungkin bangsa Arab bisa berubah yang dulunya Jahiliyah menjadi berperadaban sebagaimana yang kita kenal sekarang? Diantaranya adalah karena Rasul Muhammad memimpin dengan kepemimpinan Spiritual.

Diantara nilai kepemimpinan Rasulullah adalah :

1. Right Man in The Right Place
Rasulullah Saw bersabda:”jika sebuah perkara telah diberikan kepada yang tidak semestinya(bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat(Kehancuran” (HR. Bukhari). Setiap orang adalah pemimpin, tidak semua pemimpin ahli di segala bidang, namun setiap orang ahli di spesialis tersendiri. Berapa banyak dewasa ini manusia memimpin bukan di bidangnya masing-masing? Berapa banyak hari ini para Menteri Sesuai dengan ahlinya? Berapa banyak hari ini kepala-kepala Dinas sesuai dengan ahlinya? Ini merupakan salah satu sebab mengapa negeri ini agak sulit berkembang dibandingkan dengan Negara-negara dan daerah lainnya. Begitu bayak negeri yang masih berumur belia, namun kemajuan di berbagai bidang begitu pesat, bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan daerah tempat tinggal kita?

Right Man in The Right Place yang diajarkan Muhammad Saw merupakan petunjuk nyata, bahwasanya ketika seorang memiliki keahlian tersendiri di bidangnya, sehingga dunia akan melihat ketika kita mampu memimpin, bukan berambisi untuk meminta sebuah Jabatan seorang pemimpin. Rasulullah Saw bersabda:”Sesungguhnya kami tidak akan memberikan Jabatan ini kepada seorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang sangat berambisi mendapatkannya.”(HR.Muslim)

2. Jujur dan Amanah
Kejujuran Muhammad tidak diragukan lagi. Muhammad memiliki batin yang suci, sangat jujur menawarkan barang-barangnya, tidak mencurangi timbangan dan tidak mengurangi harga. Kejujuran membuat kita lebih dihargai oleh masyarakat. Terbukti, Muhammad yang berasal dari keluarga yang miskin mampu menjadi seorang yang di pandang karena kejujurannya. Begitu rindu kita kepada orang-orang yang jujur. Orang Cerdas itu banyak, namun orang jujur susah di cari.

3. Mendahulukan kepentingan bersama
Ketika Muhammad mendapat wahyu untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah berangkat terkahir setelah seluruh kaumnya tiba di Madinah. Meskipun pada waktu itu Muhammad mendapat ancaman pembunuhan. Ini merupakan strategi untuk menyelamatkan kaumnya dari serangan kaum Quraisy.

Pemimpin spiritual tidak hanya membuat orang-orang yang dipimpin mampu bergerak sesuai dengan tujuan awal, melainkan juga memberikan visi yang segar, kelompok solid dan jujur, serta perasaan saling memiliki satu sama lain. Sebenarnya menjalankan kepemimpinan spiritual tidak sesulit yang difikirkan, hanya saja, kita terlalu sering dikotori oleh banyaknnya konflik kepentingan di sekitar kita yang terkadang membuat kita, mau tidak mau, melupakan hati Nurani.

Begitu banyak teladan-teladan pemimpin yang memimpin dengan spiritual, yang diidam-idamkan bawahanya. Kita berharap pemimpin-pemimpin bisa menjadi model kepemimpinan spiritual dengan professional dan senang hati melayani bawahanya dan sehingga menjadi pemimpin yang dihormati, di segani, dan senangi oleh Bawahannya.Wallahu A’lam. [JU]



[*] Mahasiswa UIN Ar-Raniry Semester V

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.