Yang tersisa dari SJI II, dari ‘Goyang Dumang’ hingga Kehilangan Medali

oleh

Raut wajah Supri pucat pasi. Kebingungan, mondar-mandir dia naik turun tangga, masuk ruang satu ke ruang lainnya. Di benaknya hanya ada penyesalan. Hilang sudah bukti 12 hari menimba ilmu di Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) PWI Aceh tingkat Dasar Angkatan II tahun 2014.

Oleh Ariefara – Banda Aceh

foto-SJI-ok

Jumat 5 Desember 2014, puncak dari kerja keras menguras pikiran dan tenaga selama menggelar Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) angkatan II. Tak hanya panitia, juga bagi siswa, wartawan muda yang mengikuti SJI Tingkat Dasar. Delapan jam sehari selama 12 hari, sore itu terbayar lunas. Ya! Hari itu, 16 dari 24 siswa SJI dinyatakan lulus dan diwisuda.

Dengan total 96 jam mengikuti pelajaran yang disampaikan pengajar dari SJI Pusat, tentu saja membuat para siswa SJI, rata-rata wartawan pemula dan berusia di bawah 30 tahun harus menguras pikiran dan tenaga. Tak ingin kehilangan ilmu yang disajikan para pengajar senior, sebagian bergelar profesor, membuat para siswa harus benar-benar berkonsentrasi.

Tak heran jika ada siswa yang gugur di tengah jalan karena tidak mampu mengikuti disiplin ketat yang diterapkan. Tiga diantaranya harus mundur separuh jalan, lima lainnya belum memenuhi standar nilai yang ditetapkan pengajar SJI.

Sebenarnya tak melulu serius. Banyak pula kejadian lucu yang meninggalkan banyak kesan. Dari salah penyebutan nama sendiri, hingga lupa di mana alamat kantornya. Bahkan ada yang curi-curi sarapan di dalam kelas, karena bangun kesiangan.

“Tapi semua seru dan asik. Tidak akan terlupakan. Selain mendapat ilmu, juga mendapat tambahan teman dari daerah,” kata Yunita, siswa yang kemudian didaulat untuk memimpin lagu Padamu Negeri, pada acara wisuda.

“Paling sengsara itu menahan keinginan untuk merokok, Bang!” ujar Fadel Aziz Pase, sang Ketua Kelas. Maklumlah, sebagai perokok, empat jam ‘dikurung’ di kelas membuat hasrat untuk yang satu itu begitu keras menggoda. Walhasil, pemandangan lucu terlihat saat beberapa siswa antre di depan pintu toilet.

SJI-2“Soalnya alasan keluar mau ke toilet. Terpaksa antre biar gak ketahuan mau ngerokok,” ujar Ichwan, siswa lainnya yang datang dari dataran tinggi Gayo ini.

Untuk angkatan kedua ini, para siswa begitu kompak. Tidak terlihat adanya persaingan untuk menjadi yang terbaik, meski saat wisuda,

Direktur Eksekutif Yayasan SJI Pusat, Encub Subekti tetap saja mengumumkan tiga nama sebagai siswa terbaik. Masing-masing Tisi Maulidya Putri dari LPP RRI Banda Aceh, Surpi Ariu dari LintasGayo.co, dan Hafid Junaidi dari Atjehlink.com.

Persaingan justru terjadi ketika 20 siswa putra berebut menarik simpati empat siswi. Beragam cara dilakukan, termasuk menulis profil siswi incaran mereka di media masing-masing. Walhasil tulisan mereka sangat subyektif.

SJI-1Penat, lelah dan rasa bosan tak urung menyerang siswa. Maklum, pelajaran yang harusnya disampaikan untuk satu semester, mereka lahap hanya dalam waktu 12 hari. “Benar-benar stress dan menguras tenaga bang,” ujar Riosa, wartawan muda Independen Time, yang baru kali ini mengikuti pendidikan jurnalistik secara penuh.

Maka tak heran jika pada pelajaran terakhir, tata letak dan perwajahan, mereka manfaatkan untuk menghibur diri dengan bernyanyi dan berjoget.

“Selagi pengajarnya tidak serius dan memberi waktu untuk bergembira, ya kami manfaatkan,” ujar Khairul Anwar, yang dengan semangat bergoyang ‘Dumang’ bersama beberapa siswa lainnya. Hiburan spontan ini tentu saja mendapat sambutan hangat siswa lainnya.

Kegembiraan Jumat siang itu sangat terasa di wajah-wajah para siswa yang dinyatakan lulus. Roman serius dan kelelahan yang biasanya menghiasi wajah mereka, saat itu hilang. Berganti dengan senyum dan rasa bangga. Apalagi saat nama mereka satu-persatu dipanggil maju ke panggung untuk menerima sertifikat dan pengalungan medali tanda kelulusan.

Lalu acara utama berakhir.

Momen berikutnya mereka manfaatkan untuk foto bersama, baik dengan pengajar dari SJI Pusat maupun bersama rekan lainnya. Tak ketinggalan panitia dan pengurus PWI Aceh pun mereka daulat untuk mau foto bersama.

Dan kisah Supri pun dimulai.
Bangga dan senang menjadi yang terbaik kedua, membuatnya lupa untuk mengamankan barang-barang bawaannya. Sibuk menerima ucapan selamat dari teman sesama siswa dan pengurus PWI, berbuah hilangnya tas berisi sertifikat dan medali tanda lulus.

Setelah mencari ke sana-kemari, Supri pun menemukan sebuah tas yang teronggok di sofa. Tak jelas pemiliknya, maklum, tas dari SJI semuanya sama. Termasuk isinya. Membongkar isi tas, lalu raut kecewa tergambar di wajahnya. Ya.. di dalam tas tersebut tidak terdapat medali tanda kelulusan miliknya.

“Ini tas siapa? Tas saya tertukar dengan siapa?” kata Supri bingung. Selidik punya selidik, lalu dugaan mengarah pada satu nama, Yunita, yang telah lebih dulu pulang. Dan pulsa telpon genggam pun terpakai untuk menelpon Yunita.

“Kak, tas kita tertukar,” kata Supri, begitu Yunita mengangkat telponnya. “Saya masih di PWI, saya tunggu Kak ya,” sambungnya.

Tak ingin disalahkan dan dicap teledor, tentu saja Yunita segera memutar arah mobilnya kembali ke PWI. Padahal saat itu dia sudah tiba di kawasan Simpang Surabaya. Di PWI, Supri dengan sigap menyambut kedatangan Yunita dan segera menukar tas. Tapi lagi-lagi dia kecewa. “Medalinya tetap gak ada,” katanya pasrah.

Hampir satu jam dengan kepasrahannya, ditambah lagi olok-olok teman sesama siswa membuat Supri tak bisa berbuat apa-apa. Candaan Tisi, Anggun dan Yunita tak membuatnya bersemangat lagi. Di hatinya cuma ada satu hal, penyesalan. “Hilang sudah bukti kerja keras selama dua pekan ini,” pikirnya.

Lalu tawa pun meledak di teras gedung PWI Aceh ketika Ichwan, rekan sesama siswa dan dari media yang sama dengannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Dua buah medali berlogo SJI menggantung di tangan Ichwan.

“Itu punya saya,” teriak Supri sepontan, disambut tawa rekan lainnya.

“Wah Ichwan curang. Gagal nyalip nilai Supri, medali Supri yang diselip,” kata Anggun tertawa.

Lalu kegembiraan kembali memancar di wajah Supri Ariu. Bahkan untuk merayakan kegembiraannya, dia mengundang rekan-rekannya yang telah sengaja mengerjainya untuk ngopi bareng.

Banyak kisah yang tertinggal dari SJI tingkat dasar Angkatan II ini yang bisa diceritakan. Tapi bagi para siswa, sebagian mereka simpan untuk kenangan, yang hanya akan diceritakan ketika nanti mereka bertemu kembali. *

Banda Aceh, 9 Desember 2014

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.