Rembele ’30 menit’ Senubung

oleh
Salah satu perkampungan diantara Aceh Tengah dan Gayo Lues. (LGco_Khalis)

Khalisuddin

Pesawat milik Susi Air di Bandara Rembele. (LGco_Khalis)
Pesawat milik Susi Air di Bandara Rembele. (LGco_Khalis)

TIGA puluh menit, ya hanya butuh waktu 30 menit menempuh perjalanan dengan pesawat jenis PK-WM jenis Cessna 208B milik Susi Air dari Bandar Udara (Bandara) Rembele Kabupaten Bener Meriah di Gayo Lut menuju Bandara Perintis Senubung di Gayo Deret Kabupaten Gayo Lues.

Redelong Simpang Tiga. (LGco_Khalis)
Redelong Simpang Tiga. (LGco_Khalis)

Itu yang saya alami, Minggu 23 November 2014 lalu, penerbangan yang menjadi sejarah tersendiri bagi saya pribadi. Penerbangan pertama dengan pesawat berbadan kecil, penerbangan pertama dari Bandara Rembele dan penerbangan pertama dengan pendaratan di Bandara Senubung, Negeri Seribu Bukit. Dan rupanya saya orang sipil pertama diluar kru pesawat dan jajaran Kementerian Perhubungan yang mendarat di Bandara Senubung.

Pukul 10.20 Wib, saya dipersilahkan masuk ke pesawat oleh Kepala Bandara Rembele, Khairul Iman. Hanya dia dan saya yang ikut di penerbangan tersebut. Saya menyalami pilot Ciptain Russel dan co pilot Luke, keduanya berkebangsaan Inggris. Dengan kemampuan berbahasa Inggris seadanya saya utarakan keinginan saya memotret selama  penerbangan. Mereka menggangguk tersenyum, melirik 2 kamera yang saya tenteng, milik saya dan milik Munawardi, fotografer LintasGayo.co yang dipinjamkan untuk maksimalnya liputan di Gayo Lues, Saman 5057 penari dan seminar Asal Usul/Budaya Gayo.

Hulu sungai Peusangan dan Kot Takengon.(LGco_Khalis)
Hulu sungai Peusangan dan Kot Takengon.(LGco_Khalis)

Khairul Iman menyarankan saya duduk paling belakang agar leluasa memotret perjalanan sisi kanan dan kiri. Mesin pesawat mulai menderu dan melaju ke ujung landasan pacu dan pukul 10.25 Wib kami mulai terbang.

Saya sempat was-was saat pesawat melaju, namun hanya sesaat, keinginan memotret keindahaan tanah Tembuni ‘Gayo’ dari udara mengusir ketakutan saya. Beruntung, cuaca cukup cerah dan tidak terlalu terik, ibukota Bener Meriah, Redelong kami lintasi dan entah karena kebutuhan teknis penerbangan, pilot memutar arah terbang menuju puncak Bur Oregon Paya Reje, pegunungan pembatas wilayah Bener Meriah dengan Kota Takengon dan danau Lut Tawar Aceh Tengah.

Pante Menye Bintang. (LGco_Khalis)
Pante Menye Bintang. (LGco_Khalis)

Kesempatan langka, detik demi detik yang sangat berharga melintas di atas Kota Takengon dan danau Lut Tawar. Saya melonggarkan sabuk pengaman dan dengan kelihaian memotret apa adanya saya jefret saja yang saya lihat melalui jendela kaca kiri dan kanan pesawat. Benar, saran Kabandara Rembele, jika memotret pilih tempat duduk paling belakang.

Danau Lut Tawar sangat indah dari udara, semestinya ancaman rusaknya lingkungan danau ini mesti diantisifasi dengan lebih militan. Gayo beruntung punya danau di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut.

Penerbangan mulai melintasi kawasan Serule dan hutan lebat perbatasan Aceh Tengah-Gayo Lues, saya tidak tau lagi nama kawasan tersebut, ada beberapa kampung dengan beberapa rumah warga. Gayo sangat kaya dengan hutannya dan sangat mungkin banyak sesuatu yang berharga dalam perut gunung-gunung itu, buktinya giok dan batu mulia lainnya kini jadi incaran dan bahan pembicaraan masyarakat Gayo umumnya.

Pantan Cuaca Gayo Lues. (LGco_Khalis)
Pantan Cuaca Gayo Lues. (LGco_Khalis)

Pesawat terus melaju tenang, tidak ada goyangan yang mendebarkan seperti banyak dikatakan orang jika terbang dengan pesawat berbadan kecil. Di kejauhan mulai tampak pemukiman Pantan Cuaca Gayo Lues, kawasan transmigrasi lokal itu nampak jelas, hamparan persawahan Rikit Gaib dengan sungai membentang. Lalu kota Blangkejeren yang berjuluk kota Seribu Bukit.

Menit-menit terakhir tiba, pesawat akan segera mendarat di Lapter Senubung. Kabandara mengingatkan saya untuk kembali mengencangkan sabuk pengaman. Namun ternyata pilot tidak langsung mendaratkan pesawat, entah untuk apa pesawat dibawa berputar-putar di atas kota Blangkejeren, setidaknya 3 kali putaran. Was-was kembali menggelayut, ada apa? Kenapa tidak mendarat. Tidak ada kesempatan bertanya, posisi duduk saya berjauhan dengan Kabandara.

Rikit Gaib Gayo Lues. (LGco_Khalis)
Rikit Gaib Gayo Lues. (LGco_Khalis)

Kerap saya dengar cerita jika pesawat berbadan kecil batal mendarat jika secara teknis tidak memungkinkan terutama pengaruh cuaca. Namun di Blangkejeren jelas bukan karena cuaca. Saya mulai menduga-duga, penerbangan ini adalah penerbangan uji coba, pikiran orang awam mulai menggelayut, apakah Bandara Senubung tidak layak didarati?.

Belakangan saya ketahui jika terbang memutar beberapa kali tersebut adalah orientasi pengenalan kawasan oleh pilot yang juga pertama kali menerbangkan pesawat ke Lapter Senubung.

Pukul 11.20 Wib, pesawat akhirnya didaratkan, genap waktu 1 jam yang seharusnya cuma 30 menit. Telepon saya bergetar, ternyata panggilan dari rekan Anuar Syahadat, wartawan LintasGayo.co di Blangkejeren, menanyakan kebenaran apakah saya turut sebagai penumpang pesawat tersebut, hal sama juga ditanyakan Iwan Mulya, Humas Bandara Rembele yang bertugas menyambut kedatangan pesawat yang kami tumpangi.

Salah satu perkampungan diantara Aceh Tengah dan Gayo Lues. (LGco_Khalis)
Salah satu perkampungan diantara Aceh Tengah dan Gayo Lues. (LGco_Khalis)

Alhamdulillah, saya akhirnya diperkenankan keluar dari pesawat, rupanya Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim dan sang istri Hj. Salamah, Dandim 0113 Gayo Lues Letkol. Ana Agung, sejumlah pejabat daerah setempat serta ratusan warga sudah menunggu pendaratan pesawat yang kami tumpangi.

Pilot termasuk saya digiring ke kantin tempat Bupati duduk, disuguhi kopi, panjang lebar Kabandara Rembele didamping staf teknis lainnya dari Banda Aceh menjelaskan penerbangan tersebut kepada Bupati, sementara keterangan pilot yang tak menguasai bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Wan Kul, seorang sahabat lama yang saya kenal di jejaring sosial. Dia rupanya bekerja di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) dan di bagian komunikasi.

Kota Blangkejeren. (LGco_Khalis)
Kota Blangkejeren. (LGco_Khalis)

Tak berapa lama, setelah Kabandara Khairul Iman bernegosiasi dengan pilot, diputuskan untuk membawa terbang sang Bupati beserta istri juga Dandim. Mereka menuju pesawat dan sambil berjalan saya berbisik kepada orang nomor satu di Gayo Lues tersebut agar memilih duduk dibelakang jika ingin menikmati panorama Gayo Lues dari udara. Saran saya diterima, dan sekitar 15 menit mereka mengitari langit.

Saya mendapat tugas dari Kabandara Rembele untuk merekam take off dan landing pesawat tersebut, untuk laporan, katanya.

“Indah sekali Gayo Lues, kita kaya hutan kita sangat luas,” kata Ibnu Hasim beberapa saat setelah turun dari pesawat. Dia tampak semakin bersemangat memperjuangkan agar Bandara tersebut segera beroperasi sesuai harapan. “Medan, Banda Aceh, Rembele akan menjadi sangat dekat nantinya,” tandas Ibnu Hasim.

Ya, hanya 30 menit Rembele-Senubung dan jika dengan jalur darat memakan waktu hingga 6 jam. Terima kasih Kabandara Rembele Khairul Iman, salam sukses untuk Pejabat Teknik Kegiatan (PPK) pembangunan Bandara Senubung, Yan Budaianto dan selamat untuk masyarakat Gayo Lues, terkhusus Bupati Ibnu Hasim.[]

Bandara Perintis Senubung Gayo Lues. (LGco_Kha A Zaghlul)
Bandara Perintis Senubung Gayo Lues. (LGco_Kha A Zaghlul)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.