Semangat Tisi, Wartawati Cantik untuk Perempuan Aceh

oleh

IMG_20141128_205542SEORANG Wanita yang berkerja di dunia jurnalistik (wartawati) kerap di anggap sebagai cewek tomboy dan tidak feminim.  Bukan hanya bagi wanita saja, tidak sedikit kaum pria berfikiran yang sama. Mungkin ini terjadi akibat selama ini wartawati dominan melakukan kebiasaan seperti yang dilakukan pria. Seperti merokok dan berpakaian seperti laki-laki. Selain itu, sifat yang tegas, kritis, dan keras yang rata-rata dimiliki wartawati juga menjadi penguat anggapan banyak orang bahwa pekerjaan jurnalistik itu tidak cocok bagi seorang wanita.

Entah karena itu penyebabnya, di Provinsi Aceh sendiri atau diseluruh daerah Aceh, peran wanita dalam bidang jurnalistik masih sangat rendah. Di kampung saya Kabupaten Gayo Lues, dari sekian ribu wanita, masih sangat jarang sekali wartawati profesional yang aktif berkerja dan menulis. Tentunya ini sangat disayangkan, mengingat isu perempuan di Gayo Lues yang begitu banyak yang seharusnya sangat baik jika dikembangkan oleh wartawati kini semakin tenggelam.

Kembali ke persoalan awal, dimana masyarakat banyak beranggapan miring terhadap seorang wartawati ternyata ditepis secara tegas oleh wartawati yang satu ini. Dialah Tisi Maulidya Putri, gadis cantik asal Kemukiman Lam Lhong, Lhoknga, Aceh Besar. Tisi, sapaan akrabnya mengaku sedih dengan pandangan masyarakat terhadap wartawati yang selama ini berkembang secara luas.

“Saya sendiri yang akan membuktikan bahwa pemikiran itu salah. Tidak semua wartawati itu harus tomboy. Kita bisa menjadi diri kita sendiri, semua ada caranya kok. Tetap feminim tanpa meninggalkan dunia jurnalistik. Jangan sampai karena pola pikir yang salah, membuat gadis Aceh malas menulis,” tegas Tisi kepada LintasGayo.co, Jum’at (28/11/2014) malam.

Gadis berkulit putih kelahiran 21 September 1991 ini mengaku sedih dengan isu tersebut. Menurutnya, Aceh juga membutuhkan penulis wanita. Dengan begitu, kebiasaan-kebiasaan wanita Aceh, segala hal tentang isu wanita di Aceh yang begitu banyak kembali terangkat dan itu sangat menarik, tutur Tisi.

Tisi mulai menggeluti dunia jurnalistik sejak awal tahun 2010 di Radio Republik Indonesia (RRI) Sabang. Saat itu dia mengikuti jejak Sang Bunda menjadi reporter di radio. Yang patut ditiru dari Tisi, adalah sifat kegigihan serta rasa tanggung jawabnya yang hebat dalam aktivitasnya menjadi reporter. Bayangkan, setiap minggu dalam satu tahun, Tisi harus rela bolak-balik Banda Aceh dan Sabang. Sebab, meskipun senang berkerja di radio, kepentingan kuliah tetap menjadi hal yang utama, terang Tisi mantan mahasiswi Ilmu Komunikasi Uinversitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh.

Namun hanya satu tahun Tisi mengabdi di RRI Sabang, itupun karena Tisi yang kerap jatuh sakit akibat kelelahan juga karena resiko yang harus dia tanggung dalam diperjalanan laut menuju Sabang,”Dulu saya pernah mengalami peristiwa yang nyaris membahayakan nyawa saya. Saat kapal kami dalam perjalanan pulang dari Sabang menuju Banda Aceh diterpa badai. Saat itu mesin kapal mati dan kami sampai diminta untuk memakai pelampung,” kenang Tisi yang mengaku cukup trauma.

Setelah itu, penyuka warna musik lembut ini memutuskan untuk mengundurkan diri. Namun tak berselang lama, tepatnya awal tahun 2012 Tisi kembali diterima di salah satu radio di Banda Aceh, tidak lama dari itu, Tisi memilih pindah ke radio di RRI cabang Banda Aceh hingga sekarang.

Sejak duduk di bangku sekolah, Tisi memang dikenal aktif dalam mengikuti pelajaran sastra, Tisi dikenal banyak menjuarai berbagai perlombaan seperti menulis puisi, musikalisasi puisi baik antar sekolah dan tingkat Kecamatan. Selain itu, Tisi juga aktif mengikuti organiasi religi di sekolah dan di lingkungan rumahnya,”Alhamdulilah, sejak belajar di jurnalisitik, banyak perubahan yang saya rasakan. Salah satunya banyak teman, pengalaman, membanggakan orangtua, dan lebih percaya diri,” ungkap Tisi.

Hingga kini, Tisi aktif menulis dan menjadi reporter diseputaran Banda Aceh dan Aceh Besar dan aktif mengikuti organisasi-organiasi sosial. Menurutnya, kedpan perempuan Aceh tidak boleh merasa asing lagi dengan dunia jurnalistik,”Semoga penulis dari kalangan perempuan di Aceh semakin bertambah. Sehingga isu-isu perempuan yang begitu banyak mamfaatnya dan menarik bisa terangkat,” jelas Tisi.

Mudah-mudahan cerita tentang Tisi ini mampu memompa naluri perempuan-perempuan muda Gayo untuk ikut menulis. Menjadi perempuan yang peduli, menyebar kebaikan, menjadi perempuan yang istimewa baik untuk diri sendiri juga untuk orang lain. Tentunya tidak harus merubah karakter diri dengan tetap menjadi sosok perempuan yang anggun dan feminim.

Nah, untuk perempuan Gayo, tunggu apa lagi? Yuk menulis!

(Supri Ariu)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.