Wartawan Sebagai Pewaris Misi Nabi

oleh
Jpeg
Parni Hadi (Foto: Supri Ariu | LGco)

“Dan Kami telah mengutus para Rasul kecuali untuk membawa kabar gembira dan pemberi peringatan” Al Kahfi (QS: 18.56)

UNTUK apa Saya menulis? Begitulah kira-kira pertanyaan awal oleh seluruh wartawan di Dunia ini sebelum mereka memulai profesinya. Tidak terkecuali saya, apalagi dengan pengalaman saya yang masih sangat belia dalam bidang jurnalistik.

Semenjak menekuni profesi sebagai wartawan tepatnya dua tahun yang lalu, hari ini kembali saya mendapatkan sebuah pembelajaran yang menurut saya menarik dan begitu insfiratif. Materi yang diberikan oleh Direktur Umum LPP RRI, Parni Hadi pagi ini, Jum’at (28 November 2014) di Aula Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh semakin merangsang kami peserta Sekolah Jurnalisme (SJI) tahap 2 agar lebih Pede (Percaya diri) untuk emenyelami ilmu jurnalistik lebih dalam. Berbagai ilmu jurnalistik yang sangat berharga menurut saya, membuat Kami (Wartawan) menjadi begitu lebih bergairah.

Parni Hadi yang juga sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa dan Media Republika ini banyak menyampaikan segudang pengalamannya menjadi wartawan sejak 40 tahun lebih silam. Kepada 24 wartawan lokal asal Aceh, Parni Hadi banyak meberikan dorongan dan motivasi. Dengan materi yang menarik, bahasa yang ringan, serta penguasaan adaptasinya kepada peserta menjadikan waktu tiga jam begitu singkat.

Mengutip salah satu bukunya yang berjudul “Jurnalism Prophetic (Jurnalisme Kenabian) = Jurnalisme Cinta” ini ternyata mampu membuka pandangan saya lebih lebar, begitu mulianya pekerjaan ini tentunya dengan catatan adalah sebagai wartawan yang profesional. Paham ilmu, sensitif, dan melaksanakan kode etik. Dikatakan Jurnalisme Kenabian atau wartawan sebagai pewaris misi Nabi dirangkum dari sejumlah surah Ayat Suci Al Qur’an, salah satunya:

“Dan Kami telah mengutus para Rasul kecuali untuk membawa kabar gembira dan pemberi peringatan” Al Kahfi (QS: 18.56)

Persis seperti misi Nabi dalam surah Al Kahfi, wartawan juga melakukan hal yang sama. Dengan berita yang mereka tulis, wartawan membawa orang ke jalan yang baik sekaligus mengingatkan orang agar menghindari perbuatan yang salah,”Oleh karena itu, saya sebut wartawan sebagai pewaris tugas mulia,” terang Parni Hadi penuh semangat.

Parni Hadi menambahkan, seorang wartawan haruslah mampu memberi informasi, mendidik, menghibur, membela, mencerahkan, serta memberdayakan,”Seorang wartawan bukan hanya menulis. Tapi juga harus mengemban misi kenabian,” tegas Parni Hadi.

“Yang abadi itu bukan bangunan, tapi pemikiran atau ilmu. Dan ilmu hanya akan masuk ke dalam qalbu jika kita (wartawan) ikut melakoninya,” demikian pesan Parni Hadi. (Supri Ariu)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.