Pemerintah Aceh paksa Gayo terpisah dengan saudara Gayo-nya

oleh

Catatan Win Wan Nur

Foto : LGco_Joe Samalanga
Foto : LGco_Joe Samalanga

PAGELARAN tari Saman dengan 5057 penari yang dirangkai seminar Asal Usul/Budaya Gayo gagasan Bupati Gayo Lues, Ibnu Hasim, 24-26 November 2014 memang fenomenal karena untuk pertama kalinya mempertemukan perwakilan seluruh wilayah Gayo dalam sebuah acara yang diakhiri dengan penuh haru.

Para peserta, terutama saudara-saudara Gayo yang tinggal di kabupaten-kabupaten yang dihuni oleh mayoritas suku lain. Seolah tidak rela acara ini berakhir. Mereka yang begitu gembira bertemu saudara-saudaranya dari kabupaten yang dihuni oleh mayoritas Gayo, seperti tidak rela kalau menerima kenyataan bahwa mereka akan segera meninggalkan saudara-saudara yang baru saja ditemui.

Salah seorang di antara mereka ini adalah Drs Ilyas Mustawa yang mewakili Gayo Kalul, beliau adalah orang pertama dari keluarganya setidaknya dalam 4 generasi yang menginjakkan kakinya di Gayo Lues. Ketua MPU Aceh Tamiang ini rela menunda penandatanganan MoU dengan Pemda Aceh Tamiang. Demi menghadiri acara ini,.

Kamis 27 November 2014,  kami bersiap pulang ke Takengen, tapi karena pengelola proyek pengerjaan jalan Takengen–Belangkejeren memberlakukan kebijakan buka tutup jalan dan baru akan buka pukul 16.00 sore. Daripada menunggu di lokasi perbaikan jalan, saya bersama tim dari Media Lintas Gayo bersepakat mengunjungi Genting, kawasan wisata disisi jalan Blangkejeren-Pining menyaksikan keindahan alam gunung Leuser sambil menikmati kopi Gayo sebelum pulang ke Takengen.

Duduk menikmati pemandangan, saudara-saudara  kami dari Lokop Bejadi melintas dan berhenti di warung yang sama. Terlihat jelas raut wajah gembira pada mereka ketika bertemu kami. Dalam rombongan mereka terdapat Camat Lokop Kamaruddin, seorang anggota DPRK Aceh Timur dari Lokop Junaidi, para Gecik dan anggota masyarakat yang lain.

Foto : LGco Joe Samalanga
Foto : LGco Joe Samalanga

Kami kembali terlibat dalam obrolan hangat dan semakin hangat. Sampai akhirnya mereka dengan penuh harap mengajak kami untuk berkunjung ke Lokop Bejadi (Serbejadi). Wilayah Gayo yang tidak pernah saya kunjungi dan juga keluarga saya setidaknya dalam 7 generasi.

Sempat terjadi sedikit diskusi, tapi karena melihat harapan mereka yang begitu besar, kami pun setuju berangkat meskipun tidak mungkin membawa seluruh rombongan. Diputuskan yang berangkat ke Lokop adalah saya, Khalisuddin, Joe Samalanga dan seorang awak LintasGayo.co lainnya, Muzakir sebagai driver.

Lalu kamipun berangkat menuju Lokop, melintasi alam perbukitan yang ditumbuhi hutan pinus yang masih sangat jarang dihuni. Melewati desa kecil Uring, lalu melintasi beberapa desa di kecamatan Pining yang lumayan ramai, yang suasananya mengingatkan saya pada Isak di akhir tahun 1970-an. Kami juga sempat mampir di Makam Datok Pining.

Meski baru pertama kali melintasi wilayah ini, tapi entah kenapa rasanya tanah ini begitu dekat di hati. Inilah Tanoh Gayo tanah tumpah darah kami sendiri, yang selama ini terisolasi. Infrastruktur jalan yang berstatus Jalan Nasional ini. Saat ini sedang gencar dibangun dengan pembiayaan yang diambil dari Dana Otsus Aceh.

Saya dan anggota Tim sudah membayangkan dengan penuh rasa penasaran, suasana Lokop yang masih alami alam dan Gayo-nya. Menelusuri sejarah Gayo yang tertinggal di Lokop, mengenali legenda-legenda kekeberen Gayo menurut versi Lokop, melihat seni budaya Gayo yang masih tertinggal di sana.

Titi kayu swadaya masyarakat di Aih Putih. (LGco_Khalis)
Titi kayu swadaya masyarakat di Aih Putih. (LGco_Khalis)

Tapi kemudian khayalan itu terhenti di sebuah pondasi jembatan sungai yang bernama ‘Aih Putih’. Di sana kami berhenti di sisi sungai yang airnya keruh dan cukup deras, hujan mengguyur walau tidak terlalu deras. Untuk mencapai Lokop, sungai ini harus kami lintasi. Sebenarnya di sana ada jembatan, tapi sekarang hanya tinggal pondasi. Menurut saudara-saudara dari Lokop, jembatan ini sudah putus sejak tahun 1990, tanpa pernah diperbaiki oleh pemerintah Aceh. Ada jembatan lain berjarak ratusan meter di arah hulu sungai, namun hanya untuk roda dua, dibuat swadaya masyarakat berupa pohon kayu melintang dibagian sungai yang agak sempit.

Meski harus menembus arus sungai dengan debit lumayan besar, dua mobil double cabin yang memiliki sistem gerak empat roda yang ditumpangi dua rombongan pertama berhasil menembus sungai. Mereka kemudian diikuti oleh mobil Taft milik Junaidi sang anggota DPRK Aceh Timur. Seperti naluri jurnalistik Khalisuddin segera bekerja, dia meminta menumpang di mobil Taft itu dengan menyandang kamera. Masalah terjadi, mobil yang memiliki sistem penggerak dua roda ini terhenti di bagian tengah sungai yang lebih dalam.

Pemandangan dramatis terjadi. Mobil ini sangkut di tengah sungai yang cukup dalam berarus deras. Separuh badan mobil tenggelam dalam air. Mesin mobil mengaung kencang, asap hitam mengepul dari knalpot tapi mobil tidak bergerak. Khalisuddin, pemimpin redaksi Lintas Gayo yang berada di dalam mobil ini mengatakan air sudah masuk kedalam mobil dengan tinggi hampir mencapai lutut. Driver kami, Muzakir mencoba mendekati Taft, namun dilarang oleh Khalisuddin, berbahaya.

Dua hari sebelumnya, sebuah mobil pickup hanyut di jalur ini. Melihat situasi yang sulit ini, anggota rombongan dari Lokop terjun ke dalam air untuk mendorong mobil. Meski semua sudah turun usaha ini tidak juga berhasil. Akhirnya diputuskan untuk menurunkan salah satu mobil ‘double cabin’. Tali diikat pada kedua mobil, kemudian ditarik. Beberapa kali tali penarik putus,  mobil tetap dalam situasi kritis dan hampir hanyut. Dalam situasi kritis ini, Khalisuddin keluar dari mobil dan segera memainkan kameranya mengabadikan momen tersebut. Anggota rombongan yang lain juga dengan sigap menahan mobil dari belakang.

Usaha penyelamatan oleh Junaidi, salah seorang putra Gayo Lokop yang duduk di DPRK Aceh Timur 2014-2019. (Foto : LGco_Khalis)
Upaya penyelamatan oleh Junaidi, salah seorang putra Gayo Lokop yang duduk di DPRK Aceh Timur 2014-2019. (Foto : LGco_Khalis)

Baru setelah lebih satu jam berjuang, mobil bisa ditarik. Tapi masalah belum selesai, masih ada mobil kami. Kijang kapsul tahun lama yang lebih rentan dari Taft milik Junaidi di seberang sini, bannya lebih kecil.

Setelah mengalami peristiwa dramatis tadi, Khalisuddin yang sudah berada di seberang sana mendiskusikan dengan camat dan anggota rombongan yang lain. Apakah kami juga akan dipaksakan menyeberang.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan, kami tidak perlu lagi menyeberang, resiko tinggi dan peluang tidak bisa meneruskan perjalanan sangat besar.

Mau tidak mau, akhirnya kami harus berpisah dengan saudara-saudara kami di tempat ini. Saya dan Joe Samalanga yang berada di seberang sini hanya bisa menyaksikan mereka yang berkumpul di seberang sungai sana, berteriak sambil melambai tapi kami tidak mendengar apa-apa. Telepon seluler tidak berguna karena tidak ada jaringan di tempat ini.

Khalisuddin diantarkan ke seberang sini dengan sepeda motor yang bisa melintas melewati jembatan kayu sederhana yang dibuat sendiri oleh warga daerah Gayo yang terisolasi ini.

Camat Lokop Serbejadi, Kamaruddin (dua dari kiri) di jembatan putus Aih Putih. (LGco_Khalis)
Camat Lokop Serbejadi, Kamaruddin (dua dari kiri) di jembatan putus Aih Putih. (LGco_Khalis)

Tiba di tempat kami, kami belum berangkat. Kami masih memandangi saudara-saudara kami dari Lokop yang ada di seberang. Mereka juga belum bergerak walau seluruh penumpang sudah berada dalam mobil. Rasanya belum rela mendapati kenyataan langkah kami untuk bersilaturahmi harus terhenti di tempat ini.

Melihat kami belum juga beranjak, mereka mengirimkan Gecik Berlian menemui kami. Abang Gecik ini mengatakan akan mengusahakan mencari tali kalau kami ingin memaksakan pergi. Tapi karena diperkirakan, meskipun mungkin bisa diseberangkan. Ada resiko besar mesin Kijang yang kami tumpangi akan kemasukan air dan ini akan jadi masalah besar. Kami memutuskan untuk tidak menyeberang.

Suasana haru pun terjadi, Gecik Berlian memeluk kami satu persatu. Mengucapkan salam perpisahan dan kembali ke rombongannya dengan sepeda motor yang dia kendarai.

Kami membalik arah mobil, kembali ke Blangkejeren. Saudara-saudara kami dari Lokop berbaris di tepi yang lain dan kami menyaksikan mereka semua melambai-lambaikan tangan tanda perpisahan, sampai kami menghilang dari pandangan.

Gecik Berlian (paling kiri) bersama Khalisuddin, dan Joe Samalanga (paling kanan). (LGco_Muzakir)
Gecik Berlian (paling kiri) bersama Khalisuddin, dan Joe Samalanga (paling kanan) saat akan berpisah. (LGco_Muzakir)

Pemerintah Aceh yang bertanggungjawab atas jembatan ini sepertinya hanya menghitung sisi ekonomi ketika memutuskan tidak memperbaiki jembatan yang mungkin nilainya hanya 1 milyar yang sudah terputus sejak 1990 ini. Mereka tentu tidak bisa menilai bagaimana hampanya perasaan saudara-saudara kami dari Gayo Lokop yang dipaksa terpisah dari kami.

Jadi jelas pemerintah Aceh tidak bisa diharapkan menaruh empati. Tidak heranlah meski Gubernur Irwandi katanya suka Off Road, Muzakkir Manaf suka mengunjungi daerah terpencil.  Jembatan ini tak juga kunjung diperbaiki. Saudara-saudara kami di Lokop pun, sampai hari ini masih tetap terisolasi.

Pada akhirnya apa boleh buat, kita terpaksa menyimpulkan bahwa hanya orang Gayo yang bisa memahami Gayo, hanya kita orang Gayo lah yang bisa merasakan kegelisahan saudara kita sesama orang Gayo sendiri.

*Penulis adalah anggota Dewan Adat Gayo

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.