Denemku kin Gayo

oleh
One One Lut Tawar. (LGco_Khalisuddin)

[Feature]
Ruhana Abd.Karim

One One Lut Tawar. (LGco_Khalisuddin)
One One Lut Tawar. (LGco_Khalisuddin)

BULAN ini masih dalam bulan November 2014. Aku merindukan kampung halaman, Pintu Rime, Takengon. Apa kabar kampungku? Disini aku hanya bisa menatapmu lewat foto-foto. Selama di Jakarta, tidak banyak yang tahu tentang Gayo, kebanyakan mereka mengenal aku orang Aceh, bukan Gayo. Tapi aku mengenalkan diriku sebagai orang Gayo bukan Aceh. Karena Aceh dan Gayo sangat jauh berbeda, dari segi adat dan bahasa.

Bukannya aku tidak mengakui Aceh sebagai tanah kelahiran, melainkan aku ingin Gayo ikut populer di mata orang-orang. Aku sering bercerita tentang budaya Gayo, keindahan alam bahkan aku menunjukkan indahnya danau Laut Tawar, dan mereka kagum tidak percaya dengan keindahan kotaku. Aku ceritakan juga tentang Depik, ikan mahal yang ada di Gayo. Baju kerawang juga tidak lupa aku perlihatkan.

Saat aku masih di tempat kerja, aku menceritakan kopi pada teman-teman. Mereka terkejut mendengar ceritaku. Bahwa Gayo begitu kaya dan indah. Orang-orangnya yang ramah tamah serta kekentalan adat yang masih terjaga.

Awalnya aku merasa sedih, ketika aku menyebut suku Gayo, karena mereka tidak tahu sama sekali. Bahkan direktur tempatku bekerja juga tidak tahu apa itu Gayo. Apa itu suku Gayo. Aku ceritaka tentang Gayo dan akhirnya beliau mengerti. Tak lama kemudian, ternyata beliau mengenal pak Tagor, yang pernah menjabat sebagai Bupati Bener Meriah. Aku penasaran dan langsung bertanya, kenapa kenal dengan beliau. Pertanyaanku tidak dijawab. Dan akhirnya kutemukan jawabannya dari rekan kerja yang bercerita bahwa pak Tagor pernah memasukkan anaknya terapi di tempatku bekerja sekarang. Tidak lama, tapi mereka semua mengenal beliau. Bahkan rekan kerjaku itu bertetangga dengan orang Gayo asli, yang berpropesi sebagai pelukis hebat di Jakarta.

Mendengar itu aku terharu dan merinding. Ternyata anak Gayo begitu hebat. Kini saatnya aku memulai hidupku dengan mengenalkan Gayo pada orang-orang. Lewat novel yang sedang kutulis, yang bercerita tentang kehidupan pribadi. Serta menyelipkan budaya-budaya Gayo di dalamnya. Seperti kerawang, Didong, Tari Guel bahkan munyekot tidak lupa saya tuliskan dalam novel tersebut.

Saya harap ada orang-orang Gayo yang bisa membantu saya mewujudkan impian saya itu. Karena Gayo akan saya kenalkan di luar Aceh. Cintaku pada Gayo tidak pernah pudar bahkan semakin jauh, Gayo semakin dekat di hati. I LOVE GAYO. [SY]

 

RuhanaRuhana adalah alumni MTsN 1 Takengon, MAN 2 Takengon, berasal dari Pintu Rime, Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah. Kini bermaustin di Pondok Cabe, Ciputat. Jakarta Selatan sebagai Terapis di sebuah klinik.

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.