BAGAI pepatah “aku memang jema nyanya, tapi aku sayang kin kao engingku bebewene, kam generasi ni kami, jege dan lestarin seni Gayoni.”
Pepatah itu disampaikan Ceh onot kemara pada acara mahasiswa di Banda Aceh beberapa waktu lalu. Onot Kemara berkisah tentang seni Didong yang sudah ada semenjak penjajahan Jepang dulu, dan kini terus di lestarikan. Banyak ceh-ceh dulu yang mencintai didong, bahkan Ceh memiliki julukan dan karakter sendiri semisal Ceh Toet (Abdul Kader) yang mendapat julukan penyair ala Linge, karena kemerduan suaranya dan kecintaanya pada seni Didong. Ceh Toet juga salah satu dari ceh Didong yang berhasil menembus internasional.
Disebutkannya, selain Toet ada juga ceh lainya yang berkarakter khusus seperti ceh Sahak Teruna (dikenal dengan cerita kehidupan), Lakiki (dikenal kelungunannya), Dewantara ceh Daman (dikenal sebagai ceh yang berkisah dengan kegiatan manusia), Sali Gobal (penyair politik) Ceh Tujuh (kisah asmara). Mereka semuanya ceh yang telah berdidong sejak jaman Jepang dulu.
Pada masa itu, Gayo merupakan salah satu wilayah yang sangat tertinggal. Kondisi jalan, masjid, doyah, sekolah masih sangat kurang. Namun di musim panen padi petue kejurun belang selalau mengadakan Didong Tengkeh untuk mengumpulkan dana pembangunan fasilitas umum seperti masjid, sekolah, Jembatan dan lain-lainnya.
Dan, sebelum acara Didong Tengkeh dilaksanakan, dua hingga tiga hari sebelumnya pemberi kabar berita (Hariye) sudah mengumumkan kepada seluruh masyarakat luas bahwa akan digelar Didong Tengkeh, misalnya, antara Kemara Bujang dan Teruna, (ceh Toet dan ceh Sahak). Sebelum tampil Klob didong masing-masing berkumpul menggelar rapat dan selanjutnya berkonsentrasi dan membersihkan diri. Setelah itu baru acara digelar. Petue dan kejurun belang menyambut kedua klop secara terhormat, dan Didong Tengkeh pun di mulai. Di pemghujung acara didong, baru petue mengutip sumbangan dari masyarakat untuk selanjutnya disalurkan untuk membantu membangun fasilitas umum di kampung tersebut.
Dari cerita ini dapat kita simpulkan bahwa Didong tidak terlepas dari perkembangan Bangsa Gayo, DIdong sebagai seni yang menjadi bukti dan saksi perkembangan masyarakat Negeri Gayo. Didong Tengkeh tidak harusnya mengunakan kata- kata kasar, seharusnya Didong itu menggunakan kata kata yang halus dan lembut, sangat disesalkan jika keaslian didong itu dinodai oleh globalisasi yang disebabkan orang orang tidak berpendidikan.
“Indonesia setelah merdaka baru mempunyai Dewantara dan kabinet. Sedangkan di Gayo sudah ada sejak lama sebelum Republik merdeka, dewantara dan kabinet. “Tikik manatku ken kam engingqu,si tengah mununtut ilmu,enti sawah ara perpecahan sesame urang kite Gayo iwan ranto ni bunge kite kati jaya, kati kesenian dan budaya te I beteh jema”. (Sengeda Kale)