Hadapi Paceklik, Peger Keben Konsep Ketahanan Pangan di Gayo yang Hilang

oleh
Peger Keben (Ist)

Oleh : Muhammad Syukri*

Tempo dulu, ketika jalur transportasi belum ada, beras sepenuhnya produksi sendiri. Oleh karena itu, masyarakat harus menghemat penggunaan bahan pokok beras tersebut.

Caranya, halaman dan ladang mereka ditanami dengan umbi-umbian seperti ketela, singkong, kentang, talas dan lainnya. Cara ini dalam bahasa Gayo dikenal dengan sebutan Peger Keben (pagar tempat makanan-red). Dengan begitu, stok beras yang ada akan mencukupi sampai masa panen berikutnya.

Saat paceklik atau masa perang, mereka pun ternyata tetap bisa bertahan hidup dengan mengonsumsi umbi-umbian tersebut.
Setelah jalur transportasi Bireuen-Takengon bisa dilalui oleh mobil, pasokan beras dalam jumlah besar pun masuk ke Dataran Tinggi Gayo.

Akibatnya, banyak yang melupakan kearifan lokal Peger Keben itu. Padahal kearifan lokal ini adalah konsep ketahanan pangan yang diwariskan oleh muyang datu.

Entah karena lancarnya pasokan bahan pokok tersebut, lalu kita luput membayangkan bahwa satu saat kawasan ini akan mengalami krisis bahan pangan.

Kapan? Wallahu alam bissawab. Sebagai manusia, kita harus beketier (berusaha) dengan melanjutkan kearifan lokal yang telah diajarkan oleh muyang datu.

Menghadapi kemungkinan kekurangan pangan akibat pandemi Coronavirus Desease 2019 (Covid-19) yang tengah mewabah saat ini didunia, Peger Keben menjadi salah satu solusi yang mungkin bisa digalakkan lagi.

Mari tanami halaman dan ladang masing-masing dengan umbi-umbian, termasuk pisang dan petukel (labu kuning) dan lain-lain. Inget-inget sebelem kona, hemat jimet ike tengah ara.
Semoga bermanfaat, terima kasih.

*Pemerhati Sosial Budaya di Gayo

Comments

comments