Kembangkan Ekowisata Origon, Pokdarwis Tingkem Gelar Diskusi

oleh

Redelong-LintasGAYO.co : Memperingati Hari Sejuta Pohon Seduni, Pokdarwis Origon Tingkem menggelar diskusi pengembangan ekowisata di kawasan Origon bertajuk Sara Kayu Kin Sara Harapen (Satu batang kayu, untuk satu harapan), beberapa waktu lalu.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber yang terdiri dari pelaku wisata Gayo, Khalisuddin, pegiat wisata dan lingkungan Abrar Syarif dan owner Seladang Coffee, Sadikin alias Gembel.

Khalis yang menjadi pemateri pertama mengatakan penamaan Origon merupakan pemberian oleh tim PT KKA yang membuka kawasan tersebut beberapa waktu lalu.

“Dalam tim ini ada nama Presiden kita sekarang Joko Widodo yang juga pernah bekerja di PT KKA medio tahun 86-an,” kata Khalis.

Khalis berujar, sudah selayaknya penamaan Origon dikembalikan ke nama asalnya. Namun, katanya lagi pengembalian nama ini harus berdasarkan kajian.

“Sebagai contoh, Bur Gayo yang dibuat namanya oleh orang-orang kini dikembalikan namanya menjadi Bur Telege, dan nyatanya dengan mudah dikenal dan semakin populer, penamaan Bur Gayo sebelumnya kini hilang dan bahkan tak terdengar lagi,” ungkap Khalis.

Terkait konsep ekowisata, Khalis mengatakan bahwa Gayo sangat berpotensi. Hanya saja, dibutuhkan kreatifitas bagi pengelolanya.

“Jangan dibuat asal jadi. Tantangan saat ini ada pada anak mudanya. Bagaimana membangun branding yang baik dan diminati banyak orang,” papar pengelola wahana wisata keluarga Arung Jeram Lukup Badak ini.

Lain itu, pemateri lainnya, Sadikin Gembel mengatakan kebanyakan orang hanya bercita-cita menjadi orang yang biasa.

“Kecil disayang, sudah besar dimanja, tua dihormati dan mati masuk surga. Konsep ini hanya bagi orang berpikir standar. Berbeda dengan pengelola wisata, mereka akan terus berinovasi agar lebih baik,” katanya.

Dilanjutkan, konsep menjaga hutan dalam.pengembangan sebuah objek wisata merupakan hal yang mutlak. Tinggal bagaimana pengelola bisa memanfaatkan hutan itu tanpa harus merusaknya.

“Jika berpikir demikian, maka kita tidak lagi berpikir standar. Wisatawan kini rindu menikmati alam yang asri, bukan malah dirusak,” tegaa Gembel.

Lain lagi pemerhati lingkungan Abrar Syarif. Menurutnya, kehadiran tempat wisata diharap tidak mengganggu ekosistem yang ada, akan tetapi harus menjaganya.

“Bagaimana kita bisa menikmati tempat wisata, jika kita tidak memandang penting lingkungannya untuk dijaga,” tandasnya.

Pantauan, diskusi ini ditutup dengan penyerahan paruh Rangkong Badak dari Kamal Bahari yang kemudian diteruskan untuk diamankan kepada pihak yang berhak menyimpannya.

[Andi Lisma/DM]

Comments

comments