Keber Ari Gayo Sara Sagi Terbaru

Kisah Mantan Pasukan GAM Linge ; Sensasi Mabuk “Janeng”


Catatan : Fauzan Azima (Mantan Panglima GAM Wilayah Linge)

“Menang perang karena makanan” demikian nasehat orang-orang tua di Gayo ketika terjadi konflik Aceh. Sehingga pada masa itu, orang-orang kampung selalu mengajak pasukan GAM untuk singgah dan makan bersama di rumahnya dengan ungkapan yang sangat santun, “Apapun yang terjadi, yang penting kita sudah makan.”

Tentu saja pesan orang tua itu berdasarkan pengalaman Aceh yang tidak pernah reda dari perang. Secara umum pasukan kalah dan menyerah karena faktor makanan. Nian Nio Lingkhe (Putroe Neng) seorang Laksamana Angkatan Laut China takluk kepada Meurah Johansyah bukan karena dahsyatnya kekuatan dan keberanian pasukannya, tetapi blokade makanan yang dilakukan murid Syech Abdullah Kana’an itu agar pasokan logistik untuk pasukan negeri tirai bambu itu habis. Dan terbukti, tanpa pertumpahan darah, sang laksamana itu tunduk dan patuh pada Sulthan Kerajaan Islam Darussalam itu.

Bagitu penting makanan dalam memenangkan perang. Pada tanggal 21 Desember 1941 di Pearl Harbor, Amerika Serikat, melalui Departemen Pertanian membuat film animasi pendek dengan durasi hanya 6 menit berjudul; Food Will Win the War (Makanan akan menang perang) sebagai propaganda untuk mendidik betapa pentingnya pertanian dalam upaya perang dan meningkatkan mood rakyatnya dari kepanikan kekurangan makanan.

Dalam masa perang 1999-2005, bagi pasukan GAM Wilayah Linge, nasi bukanlah satu-satunya makanan pokok. Ada beberapa makanan alternatif pengganti nasi; di antaranya janeng, jagung, ubi dan pisang. Namun di tengah hutan belantara yang ada hanya janeng yang termasuk dalam kategori umbi-umbian. Dalam bahasa Indonesia disebut ubi iwi atau ubi racun. Sehingga jika tidak diolah dengan benar, maka siapa saja yang mengkonsumsinya akan mabuk sesuai dengan kadar, seberapa banyak racunnya yang masuk ke dalam perut kita.

Tidak ada buah janeng yang langsung bisa dimakan tanpa diproses terlebih dahulu, dalam rangka menghilangkan racunnya. Paling kurang empat hari baru bisa dijadikan penganan. Prosesnya, kulit umbi janeng itu harus dikupas bersih, lalu diiris tipis-tipis, kemudian diaduk dengan air garam dan masukan ke dalam karung. Selanjutnya rendam selama tiga hari pada air yang mengalir sehingga racun yang mirip ASI itu hanyut. Setelah yakin bersih dari racunnya, baru kemudian dijemur sampai benar-benar kering dan kalau digiling bisa menjadi tepung.

Dalam satu perdu bisa terdapat tiga sampai sepuluh buah umbi janeng. Anehnya salah satunya ada yang bisa dimakan langsung tanpa proses penggaraman, perendaman dan penjemuran, tetapi hal tersebut hanya diketahui oleh “orang keramat” seperti Teungku Jemaat (Teungku Alus). Anak-anak yang ikut orang tuanya ketika eksodus dari Bener Meriah ke Aceh Utara lewat hutan belantara, menemukan buah janeng dan langsung memakannya, tetapi mereka tidak mabuk. Itu hanya faktor keberuntungan pertolongan Allah SWT langsung. Pada prisifnya makan umbi janeng tanpa diolah pasti mabuk.

Tingkatan “mabuk janeng” sedikitnya akan merasakan ada lima “sensasi”. Tingkat pertama dengan kadar racun janeng rendah akan menderita sakit kepala atau migrain. Tingkat kedua akan merasakan objek penglihatan yang jauh menjadi dekat. Sehingga bagi orang yang mabuk janeng kalau hendak pergi mandi sebelum sampai ke sungai merasa sudah sampai dan melakukan gerakan seolah sedang mandi padahal jarak sungai masih 30 meter lagi. Prilakunya mirip seperti audisi iklan sabun mandi. Pada tingkatan ketiga melihat objek kadang mengecil dan membengkak. Batu yang kecil menjadi besar dan batu besar menjadi kecil, begitupun melihat pohon “si ahli mabuk janeng” akan tertawa karena pohon-pohon selalu berubah dari pohon raksasa menjadi pohon bonsai dan sebaliknya.

Mabuk janeng tingkat ke-empat orang itu akan merasakan siang menjadi malam. Sehingga kalau hendak berjalan perlu lampu senter atau api obor sebagai penerang. Lucunya tanpa lampu, orang itu tidak bisa melangkah, padahal terjadi pada siang hari. Dan mabuk janeng tingat tinggi,”si pelaku” akan merasakan dan melihat seperti dililit oleh batang-batang umbi janeng yang memanjat dan merambat ke seluruh tubuhnya.

Tentu, segala racun pasti ada penawarnya. Kalau mabuk janeng tingkat pertama bisa dibawa tidur atau waktu akan menyembuhkannya. Biasanya setelah bangun sakitnya kepalanya atau migrainnya langsung hilang. Akan tetapi mabuk janeng tingkat kedua sampai ke tingkat tinggi harus dilakukan tindakan dengan minum perasan air jeruk nipis, makan garam dan nasi.

Umbi janeng banyak tumbuh di markas dan tempat persembunyian DI/TII dulu. Di kawasan Goneng, Samarkilang “mupantan” atau tumbuh secara endemik. Wajar saja banyak terdapat di sana karena pertumbuhannya dari kulit-kulit umbi janeng yang dikupas. Kalau situasi sedang “delapan tujuh” sementara perbekalan tidak ada maka pasukan GAM Wilayah Linge cukup membawa garam, dan pergilah ke daerah Goneng, niscaya tidak akan kekurangan makanan.

Kekuatan atau daya tahan mengatasi lapar dengan penganan janeng lebih lemah dibandingkan nasi. Kalau bisa dipersentasikan janeng hanya 50 persen. Kita perlu makan nasi sehari tiga kali, maka makan penganan janeng akan normal bagi tubuh kita jika enam kali kita makan dalam sehari. Penganan janeng lebih lumayan dibandingkan pisang dan jagung yang kekuatannya hanya sepuluh persen dibandingkan nasi. Hanya dalam situasi darurat yang penting perut berisi. Selebihnya soal rasa dan gizi kita hanya bisa berpasrah. Mudah-mudahan menjadi obat dan berkah bagi tubuh kita.

Sebagai mana cerita awal, “Menang perang karena makanan,” kalimat itu bisa dikonversi menjadi “Menang perang karena Janeng,” tapi ingat! Sebagai catatan, olahlah umbi janeng dengan sempurna agar kalian tidak menjadi “bintang iklan sabun mandi.”

(Mendale, 4 Desember 2019)

Comments

comments