Opini Terbaru

Anugerah Gayo Award (Bag.2)


Oleh : Hammaddin Aman Fatih*

Micheal H. Hart memberikan penilaian dan katergori-katergori sehingga menepatkan Nabi Muhammad SAW, Rasul terakhir umat muslim, pada urutan pertama tokoh yang paling berpengaruh di Dunia. Hanya dalam kurun waktu + 22 tahun, Nabi Muhammad telah merubah pondasi-pondasi sosial, politik, ekonomi, dan geo politik dunia arab.

Ajaran agama yang dia bawa kini menjadi ajaran agama kedua terbesar di dunia dan terus mengalami perkembangan yang pesat. Nabi Muhammad melakukan itu tanpa latar belakang pendidikan dan pengaruh keluarga yang hebat. Dia dilahirkan dari keluarga miskin dan sejak kecil sudah menjadi yatim piatu.

Michael H. Hart tidak sungkan menepatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh terbesar dalam sejarah manusia, meskipun keyakinan agamanya berbeda dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh berikut diikuti oleh Isaac Newton, seorang fisikawan dan penemu grativitas umum dan tokoh sangat penting dalam Hukum Gerak Fisika.

Kemudian diikuti oleh Nabi Isa hingga yang terakhir, tokoh yang ke 100, Mahavira penemu ajaran Jainisme, B yang ajarannya menekankan pada meditasi dan kesadaran diri untuk mendapatkan pencerahan dan cahaya Tuhan. Kini banyak sekali publikasi-publikasi yang fokus pada ketokohan seorang. Kebanyakan publikasi-publikasi tersebut menekankan pada pengaruh seseorang pada skala waktu 1 tahun, 10 tahun bahkan 100 tahun kebelakang.
Salah satu yang paling terkenal adalah yang dilakukan oleh Majalah time.

Semenjak tahun 1999, majalah yang sangat terkenal di Amerika Serikat tersebut melakukan survey global tahunan tentang tokoh-tokoh yang telah menjadikan dunia lebih baik atau lebih buruk sehingga layak masuk pada 100 tokoh pada tahun tertentu. Setelah Susilo Bambang Yudyono, Jokowi juga masuk dalam kategori tokoh paling berpengaruh pada tahun 2015.

Buku “People of the coffee” (Orang-orang yang penduduknya hidup dari biji – biji Kopi) menampilkan tulisan yang sama dalam skala yang sangat kecil, hanya dari belantara dataran tinggi pegunungan Kopi Gayo (Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah). Buku memuat sekilas biografi 72 orang Gayo yang layak mendapatkan apresiasi melalui buku ini yang telah mengangkat marwah rakyat Gayo yang hidup anak negerinya dari biji kopi, yang mana mungkin mereka terlupakan atau mungkin dilupakan.

Tapi akibat aktivitasnya etnis Gayo bisa dikenal orang, yang diulas mulai dari Genali (Raja I Lingge – cikal bekal lahirnya kerajaan Aceh Darussalam), Inen Mayak Tri (Srikandi dari Tanah Gayo yang setara kegigihannya dengan Cut Nyak Dhien hanya karena dia lahir dari rahim rakyat jelata), Merah Silu (Raja Pertama Samudra Pasai), Tgk. H. Ilyas Leubee, Aman Dimot (Salah pejuangan yang diajukan sebagai pahlawan nasional dari Aceh), Khairul Bahri (pencipta Logo Aceh-Panca Cita), Tgk. H.M. Ali Djadun, Ulama saat ini, Dien Madjid profesor dari UIN Jakarta, Al Yasa Abu Bakar dan adiknya Yusa Abu Bakar, juga Djemaat Manan ketiganya merupakan akademisi (profesor) di Universitas Islam Negeri – Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Daud SH dan M.Joenoes Salim juga profesor dari 2 universitas ternama dari Sumatra Utara.

Nama lainnya adalah Nova Iriansyah (Wakil Gubernur Aceh pertama dari Tanah Gayo), hingga yang terakhir Qory Sandioriva, Miss Indonesia tahun 2009. Penyusunan dan penerbitan buku itu hanya mempunyai satu tujuan yaitu mungkin bisa menjadi spirit bagi generasi muda Rakyat Gayo untuk lebih maju yang rakyatnya sebahagian besar menggantungkan hidupnya dari biji – biji kopi.

Kita berharap dengan ada event penganugerahan “Gayo Award” ini bisa akan melahirkan lebih banyak lagi LK. Ara – LK Ara baru yang berkifrah dalam bidang lainnya, seperti dalam bidang politik, budaya, sosial, olah raga, lingkungan dan lain sebagainya dalam ujut yang lain (berangkat dari yang asli tapi diberi baju baru).

Penutup

Kita sangat berharap semoga kegiatan pemberian penghargaan ini bukan hanya sekedar retorika serimonial belaka, hanya bentuk gagahan semata atau hangat – hangat tahi ayam. Dan ini bisa menjadi momentum : – untuk kebangkitan tanah Gayo, – ada kemauan untuk bisa menjadikan hal tersebut agenda tahunan yang resmi.

Dan hal tersebut di atas perlu dibawa ketengah – tengah perhatian kita semua, dan menggerakan dialog, sehingga keberadaan peradaban Gayo jangan hanya ditentukan oleh satu atau dua orang atau golongan saja yang berpretensi mahatahu, apa yang baik untuk negeri kita. Hal – hal ini harus menjadi perdebatan dan tukar pikiran untuk membahasnya di legislatif, dalam media massa dan diberbagai pentas yang lainnya, khususnya masalah metodologi penentu atau kreterianya.

Untuk membawa daerah Gayo ke hari depan yang penuh tantangan, yang hanya dapat kita atasi dengan selamat, dengan sebesar mungkin sikap ilmiah, rasional, keterbukaan, kesediaan menerima kritikan dan koreksi, dengan pola yang horizontal dan egaliter agar terbuka, kemungkinan mengeluarkan pikiran – pikiran alternative lewat proses kreatif yang bebas oleh sebanyak mungkin orang dalam stuktur yang benar – benar demokrasi dengan tidak mengenyampingkan hak – hak azasi manusia.[Tamat]

*Seorang guru, antropolog dan penulis Gayo.

Comments

comments