Opini Terbaru

Anugerah Gayo Award (Bag.1)


Oleh : Hammaddin Aman Fatih*

Dalam budaya Gayo sangat sumang kalau kita mengatakan kita hebat. Tapi, lain cerita sebuah kehormatan kalau orang lain yang mengatakan kita hebat dan layak untuk mendapatkan sebuah penghargaan. Hal ini diangap kehormatan yang tidak berselimut kecacatan.

Suka tidak suka kita harus sangat mengaprisiasi event pemberian penghargaan atau penganugrahan “Gayo Award” oleh The Gayo Institute (TGI) kepada Maestro Seniman Gayo Bapak LK.

Ara yang dianggap sangat berkompetensi / berprestasi dalam mengembangkan nilai – nilai lintas kemanusiaan, sosial, budaya, lingkungan peradaban Gayo. Dimana dengan aktivitasnya telah mengenalkan Gayo kepada dunia luar. Hal ini juga sangat memungkinkan bisa mengispirasi generasi muda Gayo selanjutnya untuk lebih terus berkarya membuktikan kepada dunia luar, bahwa kita (Baca : Orang Gayo ) bisa juga bersanding dan bersaing dengan mereka.

Potensi Tanah Gayo

Banyak orang yang mengatakan Tanoh Gayo merupakan sekeping tanah surga yang terlempar ke bumi. Mungkin hal ini diilhami kondisi geografis yang mempesona serta di dukung dengan hasil alam yang banyak membuat mata dunia tertuju ke Tanoh Gayo sekarang ini.

Sebagai contoh ; Kopi Gayo merupakan jenis kopi terunik dan memiliki varitas terbanyak di dunia “heavy body and light acidity” yakni sensasi rasa keras saat kopi ditenguk dan aroma yang menggugah semangat. Getah pinus dari tanah Gayo merupakan getah pinus terbaik di dunia.

Teh Gayo (Teh Redelong) pernah sangat terkenal di Benua Eropa sebelum meletusnya Perang Dunia I karena rasanya yang istimewa. Dan lain sebagainya.

Secara metafisika hal tersebut diatas sangat mempengaruhi dan memiliki sifat menggerakan atau mensugesti para penghuni yang menetap hidup di sekitarnya. Catatan sejarah mencatat bahwa banyak orang – orang besar lahir dari Tanoh Gayo. Antara lain Raja Aceh I pertama lahir dari belantara pedalaman tanoh Gayo ; Pendiri kerajaan Samudra Pasai dan sekaligus sultan pertamanya juga dari tanoh Gayo yang terkenal dengan sebutan Sultan Malikul Saleh atau orang Gayo menyebutnya Merah Silu ; Pencipta logo Aceh (Panca Cita) juga orang Gayo yaitu Khairul Bahri.

Dahulu ketika rakyat Gayo masih mengkonsumsi makanan tradisional, seperti ketor, masam jing, gegerip, petukel, taruk ni jepang, dan lain sebagainya. Tanah Gayo bisa banyak melahirkan beberapa intelektua baik dalam skala lokal maupun nasional.

Adapun yang bergelar profesor , antara lain ; Prof. Dr. H. Teungku Baihaqi. A.K, Prof. Drs. H. Yoenos Salim, M.Sc, Prof. Dr. H. Abdi Wahab, M.Sc, Prof. Daud Ali Bintang, Prof. Dr. H. Al Yasa’ Abubakar, Prof. Dr. Gani. Kobat, Prof. Dr. Ismail Arianto, Prof. Tantawi, Prof. Dr. Alfian Beni Banta Cut, Prof. Dr. Abd Hamid, M.Pd. Prof. M Junus Melalatoa, Prof. Sukiman, MA. Prof. M. Dien Madjid Ibrahim.

Tapi sekarang, ketika rakyat Gayo telah mengkonsumsi makanan yang serba instan (tinggal hisap dan kunyah). Tidak ada lagi generasi rakyat Gayo yang bisa atau sedikit setara dengan generasi pendahulunya.

Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa Rakyat Gayo mempunyai latar belakang orang hebat. Dari beberapa pendapat yang menguatkan hipotesa tersebut, antara lain sebagai berikut :

  1. Dalam sebuah buku karangan orang berkebangsaan Belanda yang mengangkat tentang kehidupan Rakyat Gayo, menyebutkan bahwa “ ada salah satu Suku di Indonesia mendiami pedalaman Aceh ( Dataran Tinggi ) yang tinggalnya di hulu sebuah sungai yang memiliki IQ yang sangat tinggi, yaitu suku Gayo yang berada diseputaran Danau Laut Tawar “.
  2. Sebutan Negeri Aulia yang merupakan salah satu julukan kota Takengon bermakna tempat – tempat orang berkharisma. Hal ini di ilhami bahwa dahulunya di seputar pinggiran danau Laut Tawar banyak orang – orang yang menuntut ilmu dengan menyendiri menempati gua – gua yang ada di seputaran danau Laut Tawar atau istilah sebutan bahasa Gayo adalah berkallut.
  3. Sebelum Belanda melakukan penyerangan ke tanah Gayo, Penguasa Tertinggi Colonial Belanda di Aceh ( Sebagai Gubenur Militer Belanda ) Letnan Jenderal J.B. Van Heutsz membentuk Pasukan Marsose ( Het Korps Marechaussee ) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Van Daalen. Pasukan khusus ini dibentuk untuk bertugas untuk menguasai daerah pedalaman Aceh ( Dataran Tinggi Tanah Gayo ). Keberhasilan serangan pasukan Belanda yang kedua ini adalah dengan berbekal laporan seorang Antropolog berkebangsaan Belanda yaitu C. Snock Hurgronje yang berjudul “Het Gayoland En Zijne Bewoners” (Negeri Gayo Dan Penduduknya). Dalam penyusunan laporan tersebut Snock menjadi dua orang rakyat Gayo sebagai nara sumber pentingnya, yaitu : Nyak Putih dan Aman Ratus. Kedua orang Gayo ini akhirnya di bawa ke Batavia.
  4. Agama Islam diyakini bermulai tersebar dari daerah Gayo terus ke daerah pesisir utara, yang pada akhirnya menyebar ke seluruh pelosok nusantara.
  5. Dua kerajaan besar yang ada di Aceh, pertama di besarkan oleh orang yang mengalir dalam tubuhnya darah Gayo, yaitu Sultan Aceh Darussalam Pertama (Meurah Johan yang bergelar Meurah Johan Syah Al – Khahar) yang merupakan anak Raja Islam Linge. Beliaulah tokoh dari pengunungan yang menaklukan kerajaan Hindu Lamuri di Aceh meng-Islamkan kerajaan Hindu dari keturunan China. Kedua, Pendiri Kerajaan Samudra Pasai Merah Silu yang terkenal dengan sebutan Sultan Malikul Saleh keturunan orang – orang yang pernah berdiam di daerah Gayo Raya Tanah Agung (GARTA) atau anak dari tokoh penyebar agama Islam di kota Takengon yang terkenal dengan sebutan Muyang Kute.

Event Penganugerahan

Penganugerahan “Gayo Award” oleh The Gayo Institute (TGI) ini merupakan sebuah langkah baru, awal dan sangat sepektakuler dalam sejarah peradaban Gayo diprakarsai oleh Lembaga yang berbasis sosial, budaya dan alam lingkungan yang berpusat di Takengon yang diberikan kepada siapa saja yang dianggap telah berprestasi dalam mengembangkan, melestarikan nilai – nilai kemanusiaan, pluralisme serta peradaban Gayo baik untuk tingkat nasional maupun go internasional. Untuk “Gayo Award” I diberikan kepada bapak LK. Ara.

Sebelumnya penulis juga telah menulis buku “Gayo Award 72+……. Jema dengan judul People of the Coffee” ini hampir mirip dengan buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”karya Michael H. Hart, yang terbit pada tahun 1978 dan pernah menjadi best seller dunia, dan “Time 100” dari Majalah Time, Amerika Serikat. Hart dan Times menyusun tokoh-tokoh mereka dengan usaha yang sangat serius, melakukan survey yang lama, dan berdasarkan penilaian publik.

Sehingga, publikasi mereka mudah diterima publik dan berdampak pada tokoh itu sendiri, pengikut dan masyarakatnya. Bahkan tak jarang menjadi sumber inspirasi dan rujukan global lintas agama, suku, negara dan kawasan. Walaupun banyak orang yang tidak sepakat namun karena usaha penyusunan yang serius, untuk menjadi tidak sepakat juga memerlukan upaya pebuktian yang sama seriusnya seperti yang dilakukan Michael H. Hart dan Majalah Time. (Bersambung).

* Hammaddin Aman Fatih, adalah seorang guru, antropolog dan penulis Gayo.

Comments

comments