Opini Terbaru

Kilas Sejarah Perjuangan Aman Dimot

Catatan: Misna Rahmika*

Pasukan berani mati untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Pasukan barisan gurilla rakyat atau BAGURA, masih lekat ditelinga para pejuang kemerdekaan tentang siapa mereka.

Tercatatan sepintas siapa anak negeri Gayo yang terlibat. Mengikhlaskan diri dibombardir nafsu penjajah. Tanoh Karo, Raja Merahe, Kandi Bata Suka Ramai di tanggal  30 Juli 1949 menjadi saksi tekat kuat Abu Bakar Aman Dimot.

Teriakan mundur dari pemimpin BAGURA saat pasukan ini terkepung oleh pasukan Belanda yang dilengkapi dengan tank, panser, infanteri di jawab lantang oleh sang pejuang. “Aku Gere Ulak” (Aku tidak pulang), tiga kata penantang diakhir kisah Aman Dimot.  Sikap tegas nan bijaksana di tengah guyuran suara untuk mundur dari medan tempur.

Desingan peluru,  guyuran bom made in  negara asing  ditangan pasukan Belanda menargetkan tubuh rakyat Indonesia. Tujuan mereka menguasai tanah yang  tentu sangat potensial, untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dari hasil panen rempah-rempah.

Pertanggal 22 September 1947, sebuah sidang paripurna oleh dewan pertahanan Aceh memutuskan untuk mengukuhkan perlawanan dengan organisasi gabungan pejuang. Wilayah tengah dari daerah Aceh ini, dipandang menjadi satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk dibangun pusat persiapan melaksanakan gerilya jangka panjang.

Hal ini semakin menguatkan para pemuda-pemuda tanoh Gayo untuk mengambil bagian. Menyematkan penghargaan untuk diri sendiri dengan keputusan mengambil jalan perjuangan untuk merdeka.

Perjalanan panjang mencapai Tanah Karo bermodalkan kekuatan kaki ribuan meter, melintasi wajah hutan serta perbukitan. Satu hal yang tidak disia-siakan Aman Dimot sebagai pasukan BAGURA. Ia membuat pilihan tetap berdiri menebas penjajah yang bernyali melintasinya.

Taktik Aman Dimot bersembunyi dibalik tubuh pejuang yang tewas menjadi referensi ketenangan berpikir, untuk tidak kehilangan kesempatan mengecoh pasukan Belanda. Keberanian dan tekad bulat di tengah-tengah girangnya peluru dan bom memecah udara, mendarat menghatam tanah tanpa mengenal apa, siapa dan bagaimana kehancuran yang ia munculkan.

Dengan pedang terkunci, pasukan yang memilih tetap maju, bangkit menusuk tubuh-tubuh penjajah. Tekad melawan tetap membara.

Pasukan yang telah mundur tidak menjadi soal baginya. Bahkan setelah Pang Ali Rema dan Pang Edem menemui ajal. Kedua sosok pang ini juga tetap berjuang dan memilih tidak mundur bersama Aman Dimot.

Gagah berdiri, tanpa tergoyahkan merangkul erat keberanian. Serangan bertubi-tubi, dari berbagai ekspresi kemarahan pasukan Belanda terus menyudutkan. Tidak ditemukan keinginan menyerah pada sosok Aman Dimot. Hingga tersudutkan ia dari berbagai sisi oleh pasukan Belanda karena tak berimbang antara jumlah serta senjata.

Terkunci akal, terbungkam pikiran Belanda, mengapa tubuh Aman Dimot tetap berdiri dan tidak tersentuh oleh senjata. Berakhirlah sebuah geranat dimulut sang pejuang, meluluh lantakkan tulang-berulang yang berbalut daging karena hati penjajah dipenuhi kebencian dan keserakahan.

Tak puas hanya dengan menghacurkan tubuh Amana Dimot, pasukan Belanda memastikan jasad yang telah hancur itu tak lagi mampu membalas tuntut. Sebuah tank  Belanda, mendapat giliran bersenang-senang dalam jiwa pecundang. Menggilas jenazah hingga mustahil untuk manusia mengenali, dari bagian tubuh mana serakan daging-daging segar itu berasal.

Keyakinan akan jalan benar yang ia tempuh bersama pasukan Bagura, tergambar jelas dari setiap keputusan dan tindakan. Keberaniannya tanpa perlu dipertanyakan sejarah, membekas tegas pada gerak perlawanan dan setiap pola serangan.

Setelah kematiannya, kekokohan karakter dan keimanan bahkan tersemat dalam amanat Aman Dimot pada sibuah hati. Sebelum kakinya melangkah jauh meninggalkan kenyamanan Tanoh Gayo. Ia berpesan tegas dalam suara lirih. Meninggalkan keyakinan kuat tanpa celah rasa ragu. “Anakku, bila bertuah ayah tidak akan kembali. Lanjutkan perjuangan bila ayah berpulang ke rahmatullah” pesannya.

Dalam hangat usapan tangan seorang ayah tepat di kepala sang anak, terekam kuat semua pesan dalam kata dan dari suara nurani kemanusiaan yang tak tersampaikan.

Tergambar sebuah keteguhan untuk menancapkan kehormatan. Hingga jiwa terpisah dari badan, namun tetap hidup dalam perjuangan panjang untuk merdeka. Mewariskan perlawanan. Membentangkan garis hak dan  kemanusiaan.

Disetiap kasus pencurian dan perampokan biasanya setiap pelaku akan beridentitas tersangka. Namun, dengan konsep adidaya atau saat itu dunia menganut paham aturan rimba, para penjajah tidak menjadi tersangka di meja pengadilan dan tidak ada cerita tentang mereka diadili.

Kata agresi membenarkan setiap tindakkan pembunuhan. Setiap darah mengucur segar, pertanda membawa kabar kematian pada perempuan-perempuan nun jauh dari medan peperangan dan detik yang sama dinobatkan sebagai janda. Begitu juga dengan identitas yatim, yang harus disandang para anak dari lelaki  pasukan “Berani Mati” untuk agama, negara dan kedaulatan diri ditanahnya.

Dengan penggambaran dari alasan pasukan BAGURA menyerahkan tubuhnya untuk sasaran bidikan tank, senapan mesin dan granat, harusnya layak para pendatang yang lantang memanggang, membidik dan menghardik empunya tanah sebagai penjajah.

Tekad pasukan Belanda yang sama, “Siap Mati” untuk agresi sebagai modal menaikkan gengsi kekuasaan, mereka adalah pahlawan. Negara Belanda mencatat dan mengenang mereka dengan jalur cerita dari sejarah yang sama. Hanya berbeda dari tujuan dan siapa yang memandang kepahlawanan sebagai pahlawan.

Disisi para tuan tanah yang terjajah, berjatuhan tubuh saat terpisah dengan nyawa ada yang dikenang sebagai pahlawan kemerdekaan. Sayangnya sebagian besar malah tanpa rangkaian cerita. Sewajarnya hal itu menjadi bentuk penghargaan untuk para pejuang dari setiap generasi, penerusnya.

Misna Rahmika

*Penulis adalah penyuka sejarah juga anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Takengon

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *