Sastra Terbaru

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 3


Diceritakan kembali oleh:
Aman Renggali

SELAIN ITU, pohon Geluni ini mempunyai bunga dan buah yang sangat indah, warnanya hijau dan kuning keemasan juga ada yang berwarna hitam. Setiap musim berbunga dan berbuah, pohon Geluni mengeluarkan aroma harum yang semerbak kemana-mana. Pada musim itu pula banyak burung-burung yang datang menghinggap dan memakan buahnya.
Setiap pagi dan sore, halaman rumah Gelingang Raya selalu ramai dengan suara kicauan burung-burung yang terbang dan bertengger dari cabang-ke cabang dari ranting ke ranting. Dari tampuk buah yang satu ketampuk buah lainnya.

Burung merbuk, jejok, sesubang, pepil, cincimpala, perkutut hutan, ngang dan sekian banyak burung yang hinggap disana untuk mencari makanan, diantaranya adalah burung Mergah, spesies burung langka yang berbulu dan bersuara indah. Badannya lebih kecil dari burung elang, mempunyai bulu yang halus dan indah dengan beberapa warna. Kepalanya berwarna hijau bercampur kuning, kedua sayap berwarna putih kekuning-kuningan. Lingkaran matanya berwarna putih perak seolah menjadi alis sekaligus maskara. Ruat mukanya berbeda dari burung-burung lainnya.

Seluruh bulu badan burung Mergah berwarna biru mengkilap ditambah warna hijau tua pada paruhnya yang lancip seperti gading gajah. Sepasang kakinya berwarna merah dengan jari-jari kuku berwarna hitam dan sisiknya berwarna kecoklat-coklatan.
Perpaduan warna yang dimiliki oleh burung Mergah itu sangat sempurna, membuat siapa saja terkesima melihatnya. Kekayaan warna yang ia miliki mengalahkan ragam warna bunga-bungaan yang di tanam Hayya di se keliling rumah.

Sebuah taman yang ditanami dengan berbagai jenis bunga mengelilingi rumah panggung itu. Bunge senye, , air beras, kembang sepatu, dahlia, jerang belanga hingga beberapa jenis anggrek hutan dan lain-lain.

Jendela dapur rumah panggung itu kerap menjadi tempat bertengger burung Mergah karena dekat dengan batang Geluni. Meloncat kesana kemari seperti mencari dan menghindari sesuatu. Lalu mengepakkan sayap dan menghilang diantara rimbun dedaunan.

Suara burung Mergah sangatlah lembut dan merdu. Kicauannya mampu bertingkah dengan beberapa tangga nada yang berbeda. Tidak kalah dengan alunan bacaan Alquran dengan langgam Nahawand dan Bayyati yang dilantunkan oleh Basyar setiap malamnya. Terlebih bila kumpulan burung-burung Mergah tengah riuh-riuhnya berkicau.

Daya tarik burung ini disempurnakan lagi dengan kepakan sayapnya yang gemulai saat terbang di udara. Meliuk dan menukik ke pucuk-pucuk pohon dedalu dan rengkenil muda yang hijau memagari bukit Gentala. Seperti gemulainya selendang Hayya ibu Gelingang Raya yang dijemur di atas rentangan rotan panjang di halaman samping. Mengepak dan melambai-lambai mengikuti arah hembusan angin yang syahdu.

Sebahagian dari burung-burung langka itu ada yang bertengger hingga pagi di pohon-pohon sekitar rumah. Membuat sarang dari bilah-bilah ilalang liar dan daun kering pohon Geluni.

Setiap malam burung-burung itu seolah menyimak dan tertidur nyenyak dengan lantunan ayat-ayat dari dalam rumah, dan esok panginya burung-burung itu gantian membangunkan seisi rumah dengan kicauannya.

Tak jarang Basyar dan Hayya setiap pagi memergoki anaknya Gelingang Raya sedang meniru-niru suara burung Mergah di bawah salah satu pohon.

Makanan utama burung Mergah adalah bebijian pepohonan yang manis dan mengandung air. Buah Geluni yang berwarna hitam mengkilap adalah kesukaannya, konon buah Geluni yang berwarna hitam ini berkhasiat untuk awet muda dan panjang umur.

Pohon ini tumbuh di pelataran kebun kewe sebahagian penduduk. Tumbuhan satu ini memang sangat jarang ditanam oleh masyarakat. Karena memang tempat tumbuhnya sangat spesifik.

Setiap hari keluarga ini bercocok tanam sayur-sayuran dan tanaman buah-buahan lainnya. Selain itu mereka juga memiliki dan memelihara beberapa hewan ternak berupa kerbau. Sejak anak-anak Gelingang Raya sudah terbiasa bekerja keras membantu kedua orang tuanya. Ia sangat senang dapat membantu menyiram tanaman dan menggembalakan ternak-ternak milik ayahnya di tanah lapang atau ke kaki gunung di seberang sungai. Dengan hewan peliharaan inilah Gelingang Raya bersahabat, bermain bersama hinga waktu menjelang senja.

Keluarga Gelingang Raya hidup rukun dan damai, segala kebutuhan terpenuhi dari hasil bercocok tanam dan beternak. Sebagai ayah dan ibu, kedua orang tuanya terlihat sangat senang melihat Gelingang Raya tumbuh menjadi anak yang patuh kepada orang tua. Suka membantu, penurut, sopan dan santun jika bertutur kata.

“Win, Win !”, suara memanggil dari samping rumah.
“Ya bu !”, sahut anaknya dari bawah sebuah pohon rindang.
“Tolong ambilkan kewe kering yang dijemur di halaman ya !”, kata Hayya ibunya yang duduk di samping alu sambil memilah-milah sesuatu di atas tampah.
“Baik bu”, jawab Gelingang Raya lembut sambil bergegas.

Hasil pertanian keluarga Gelingang Raya sangatlah banyak. Baik sayur-mayur yang segar dan hijau maupun buah-buahan. Selain mereka makan bersama, ada juga yang sengaja dibagi-bagikan kepada penduduk kerajaan yang kurang mampu dan yang membutuhkannya. Sebagian lagi mereka jual ke pasar kerajaan untuk ditukar dengan kebutuhan sehari-hari.

Setiap sepekan sekali Gelingang Raya selalu menemani ayahnya pergi ke Kota Tampon untuk menjual hasil pertanian atau ternak. Jarak antara rumah dengan pasar kerajaan sangatlah jauh, jika berangkat ketika fajar menyingsing maka akan tiba kembali di rumah ketika matahari sudah terbenam. Mereka menempuhnya dengan berjalan kaki melewati hutan dan kaki gunung yang membentang luas, menyeberangi beberapa anak sungai serta sawah-sawah penduduk. [SY]

Bersambung…

Baca Juga : [Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 1

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 2

Comments

comments