Sastra Terbaru

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 1


Diceritakan kembali oleh: Aman Renggali

DI SEBUAH bukit di dataran tinggi Gayo Provinsi Aceh pada zaman dahulu kala, tinggallah sebuah keluarga kecil yang sederhana. Keluarga itu hanya memiliki seorang anak yang diberi nama Gelingang Raya, orang-orang menyebutnya dengan keluarga Gelingang Raya. Dalam adat Gayo, nama anak pertama atau anak sulung dari setiap keluarga akan menjadi panggilan yang melekat pada sebuah keluarga. Mereka menyebutnya dengan istilah “Peraman” dan “Perinen”.

Meski demikian kedua suami istri orang tua Gelingang Raya yang saling mengasihi ini selalu memanggil anaknya dengan sebutan “Win”. Sebuah nama kesayangan, sekaligus menunjukkan bahwa anaknya adalah seorang putra.

Keluarga sederhana dan bersahaja ini tinggal di sebuah rumah panggung yang juga sangat sederhana, dinding dan atapnya terbuat dari susunan kulit, batang-batang kayu dan dedaunan dari hutan. Pada bagian atas rumah adalah tempat mereka istirahat, tidur dan juga memasak.

Sementara pada bagian bawah rumah dimanfaatkan untuk menyimpan kayu bakar dan keperluan lainnya termasuk sebuah alu dengan pasak kayu dan wadah bundar yang dipahat dari batu.

Rumah tersebut berada di atas sebuah bukit yang bernama Gentala. Letaknya sangat jauh dari rumah penduduk lainnya dan kota Tampon, Ibu Kota Kerajaan Meluem. Di rumah panggung itulah Gelingang Raya lahir dan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya yang sudah tua. Ia tidak memiliki anggota keluarga selain kedua orang tuanya, meski ayah ibunya masih punya famili dan kerabat di tempat berbeda.

Gelingang Raya adalah anak tunggal dalam keluarga itu yang lahir tepat disaat bulan sedang purnama beberapa belas tahun silam.

Hayya, ibu Gelingang Raya teringat beberapa saat sebelum anaknya lahir. Pada malam itu bulan sangat terang, permukaan bulan tampak bundar memancarkan cahaya putih menerangi jagat.

Permukaannya terlihat seperti hamparan padang yang membentang luas membentuk sebuah bundaran. Pada bagian depan tergambar seperti rimbunan pepohonan dengan cabang dan ranting yang menjulur. Sebuah perdu yang cukup besar yang menutupi sebahagian permukaan bulan. Meski demikian rimbun, tetapi cahaya yang dipancarkan bulan tidak berkurang sama sekali.

“Malam ini bulan sangat terang, bulan purnama”, kata Basyar memecah keheningan.
“Betulkah bang ?”, tanya Hayya sang istri dari pembaringannya dengan rasa keingin tauannya.
“Ya, cahayanya sangat terang dan putih”, jelas sang suami sambil terus melongohkan kepalanya dari balik jendela yang dibiarkan terbuka lebar.
“Bolehkah aku melihatnya”, pinta sang istri sambil perlahan berusaha untuk duduk dari pembaringannya.
“Oh, tentu, tentu mari kubantu”, jawab Basyar sambil berusaha mengapit dan memapah istrinya yang sedang hamil tua untuk mendekati jendela yang menghadap ke sebelah timur itu.
“Subhanallah, indahnya bang !”, celetuk sang istri sambil berusaha memegangi bahu suaminya.
“Ya indah sekali dan terang”, jawab sang suami mengagumi purnama.

Beberapa lama kemudian kedua suami istri itu sempat saling diam mengagumi cahaya bulan yang demikian mempesona keduanya. Sekeliling rumah panggung itu terlihat terang disinari cahaya bulan, tetumbuhan tak bergerak, tanpa angin. Alam demikian damai dan tenang, seolah purnama bulan telah meredamnya dengan pancaran cahaya terang yang teduh dan menyejukkan.

Setelah puas melongohkan kepala keluar jendela keduanya saling berpandangan dengan mata berbinar seolah sedang berdiskusi tentang sesuatu. Tentang sesuatu yang mereka rindukan selama berbilang tahun.

“Sebaiknya malam ini abang tidak usah keluar rumah ya bang !”, kata Hayya memecah keheningan.
“Kenapa ?”, sahut Basyar sang suami sambil memapah kembali istrinya keperaduan empuk dari bibir jendela yang dibiarkan tetap menganga.
“Aku merasa badanku kurang enak”, jawabnya lemah sambil berusaha meraih sehelai selimut putih dari ujung kakinya.
“Aku merasa bulan itu akan juga terbit di rumah kita bang !”, lanjutnya lagi.

Mendengar itu suaminya sangat sumringah. Ia sangat mengerti tamsil yang diucapkan oleh istrinya meski sebenarnya ia sendiri ia tidak faham sepenuhnya. Harapannya sangat sederhana, bagaimana hidup mereka tetap bersahaja dengan segala karunia yang dilimpahkan Allah SWT.

Seperti malam-malam sebelumnya, menjelang tidur Basyar selalu memperdengarkan lantunan ayat-ayat Alquran. Ia mengambil sebuah kitab suci yang terletak di rak dinding rumah, mengusap lalu membuka halaman yang penuh dengan bekas lipatan tanda baca.
Hayya yang terbaring di peraduan membalikkan badannya kearah tempat duduk Basyar bersila dengan Alquran di tangan. Ia menunggu bacaan sang suami mengisi ruangan dan menerangi jiwanya.
* * *

Basyar dan Hayya menikah tujuh tahun yang lalu di rumah pamannya. Mereka mempertaruhkan nama baik kedua orang tuanya masing-masing agar dapat bersatu dalam mahligai rumah tangga.
Sebuah ketentuan adat yang berlaku secara turun temurun di Kampung Permun telah mereka langgar, dan hukumannya adalah Parak. Yaitu sebuah hukuman adat bagi warga Kampung Permun yang menikah dengan sesama warga kampung sendiri.

Orang tua mereka saling menyetujui pernikahan Basyar dan Hayya karena memang keduanya saling mencintai dan tidak punyai hubungan darah sama sekali. Hukum Islam menghalalkannya, namun tidak dalam hukum adat Kampung Permun. Ketentuan adat menyatakan setiap warga yang menikah dengan sesama warga satu kampung sendiri harus dihukum Parak (keluar dari kampung) dengan jangka waktu tertentu.

Inilah asal muasal mengapa akhirnya Basyar dan Hayya memilih hidup dan membangun istananya sendiri di bukit Gentala. Mengasingkan diri hidup berdua yang jauh dari masyarakat lainnya untuk menembus hukuman adat.

“Tidak apa-apa, jika kalian berdua sudah saling menyukai dan siap dengan hukuman Parak ayah menyetujui pernikahan kalian”, kata ayah Basyar satu waktu ketika ia meminta izin dan doa kepada orang tuanya.

“Kalian tidak melanggar hukum agama, tetapi hukum manusia dan adat di Kampung Permun harus ditaati”, jelas ayah Basyar memberi restu anaknya sambil menepuk-nepuk bahu anaknya sebagai pertanda restu. [SY] Bersambung…

Comments

comments