Opini Terbaru

Hateisme di Dunia Maya


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

“Ketika seseorang melihat alam atau manusia dengan mata kebencian, semuanya tercela dimatanya. Matahari begitu berfaedah membawa terang, si pembenci tak dapat menghargai matahari lantaran panasnya.”

Hate adalah benci dalam bahasa Inggris sedangkan isme mengandung makna ajaran paham atau aliran, maka istilah hateisme yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah suatu pemikiran, paham kebencian yang dianut oleh manusia. Paham kebencian ini lahir ditengah-tengah masyarakat Indonesia dan berkembang biak dengan baik, paham ini menjadi menu utama dalam khazanah komunikasi warga intermet (nitizen) di dunia maya atau media sosial.

Dunia maya adalah tempat menyalurkan hasrat paham kebencian seseorang kepada orang (kelompok) lain layaknya dunia akademik menyalurkan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, ketika kita masuk ke dunia maya maka banyak kita lihat muslim tapi hanya sedikit yang kita lihat Islam. Lihat saja ulah-ulah warga internet perilakunya merendahkan, menghina dan memfitnah orang (kelompok) lain.

Ajaran Islam telah diajarkan untuk berbuat baik kepada siapapun, baik itu satu keyakinan maupun berbeda keyakinan, satu suku maupun berbeda suku, satu partai maupun berbeda partai. ‘Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu.” Nasihat Gus Dur kepada Hermawi Taslim seorang non-Muslim. Kompas.com 30/12/2009.

Aneh dan ajaib di Indonesia, ketika terjadi perbedaan dalam aspek (politik dan keagamaan) maka yang tidak satu kelompok dengannya menjadi musuh yang harus dibenci dan dihina sehingga menyebabkan pertikaian murahan di dunia maya. Masalahnya dalam hal perbedaan ini, kenapa harus ada “kebencian” padahal kita hidup dalam satu atap “Indonesia” apakah ada hasad dan dengki dalam tubuh kita sehingga paham kebencian ini tumbuh subur dikalangan masyarakat atau tamak dan rakus dikalangan elit politik dalam mengejar kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara.

Fakhruddin Faiz dosen Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan tentang teori media sosial dan kebencian, teori tersebut bernama Groundswell sebuah trend sosial dimana orang untuk mendapatkan kebutuhannya lebih memilih dari orang lain ketimbang dari produsen. Ia mencari informasi apapun melalui teman atau komunitasnya. Sehingga secara tidak sadar, mencari informasi yang sesuai dengan pandangan mereka.

Bahwa dalam media sosial kata Fakhruddin menyediakan kemungkinan itu adanya fitur-fitur untuk mengikuti orang-orang yang disukai sekaligus membuang mereka yang berbeda pandangan. Lama-kelamaan seseorang semakin terisolasi dalam kelompok masing-masing di dunia maya sehingga memunculkan pandangan yang semakin ekstrim.

Menurut hemat penulis benih-benih hateisme (paham kebencian) ini tumbuh di Indonesia dan berkembang biak dengan baik di dunia maya karena dua sebab: Pertama, Fanatisme Ghuluw. Makhluk pertama yang mempraktikkan fanatisme Ghuluw (berlebihan) adalah iblis, tatkala Allah Swt memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Adam; dengan sombongnya iblis enggan sujud kepada Adam karena iblis merasa kedudukannya lebih tinggi daripada Adam.

Allah Swt murka dan iblis pun diusir dari surga, kebencian iblis yang membabi buta kepada Adam dan umat manusia dipelihara oleh iblis sampai hari akhir. Fanatisme berlebihan karena merasa paling mulia, paling unggul dan paling benar menyebabkan iblis sombong sehingga merendahkan Adam yang diciptakan dari tanah lantaran iblis diciptakan dari api.

Adapun watak-watak yang menganut fanatisme ghuluw seperti merendahkan orang lain layaknya iblis merendahkan Adam, merasa paling pintar, paling benar segala-galanya sehingga melahirkan pemikiran ekstrim yang mudah menuduh orang (kelompok) lain dengan sebutan kafir, bid’ah dan sesat; ketiga kata ini bagaikan bom dan bisa menjadi bumerang antar sesama umat manusia dalam beragama dan berbangsa.

Untuk melawan watak-watak seperti ini harus dilawan dengan ilmu pengetahuan atau argumen-argumen yang mencerdaskan, kalau kita melawannya tanpa ilmu pengetahuan atau dengan argumen-argumen konyol maka kita juga bisa terjerumus ke ranah hateisme tersebut. Taufik Abdullah memperkenalkan sebuah rumusan yang bagus menyangkut kemiskinan budaya wacana elit politik, yang disebutnya sebagai “Spiral kebodohan yang menukik ke bawah.” Kebodohan yang dibalas dengan kebodohan akan melahirkan kebodohan baru.”

Kedua, munculnya benih hateisme ini karena kemunduran ilmu pengetahuan, penyebabnya bisa kita lihat dalam kurangnya minat baca dikalangan masyarakat Indonesia padahal membaca (literasi) merupakan menu utama dalam memperoleh informasi. Kurangnya membaca maka ketajaman berpikir sangat dangkal sehingga apapun yang dikatakan orang lain atau mendapat informasi (berita) dengan mudah kita menerimanya mentah-mentah tanpa menelusuri informasi tersebut secara mendalam dan menyeluruh.

Kita hidup di zaman perkembangan ilmu pengetahuan tapi gaya pemikiran seperti zaman Jahiliyyah. Allah Swt memberikan akal kepada manusia supaya bisa berpikir secara kritis, mendalam, universal dan sistematis tapi akal yang diberikan terkadang tak digunakan dengan sebaik-baiknya. Lebih mengedepankan emosi daripada akal sehat, lebih suka mencari-cari kesalahan orang (kelompok) lain daripada menggunakan pikiran dalam adu ide dan gagasan.

Solusi Menghindari Hateisme
Sudah saatnya menghentikan permusuhan antar sesama anak bangsa, menghilangkan adu domba, memfitnah dan menebar kebencian. Maka dari itu, membebaskan diri dari hateisme ini perlu pemikiran-pemikiran yang inklusif, toleran antar sesama dan saling menghargai dalam perbedaan. Membuang sikap-sikap puritan (keyakinan menganut paham absolutisme dan tak kenal kompromi).

Menumbuhkan minat baca harus dibudayakan untuk mengasah ketajam berpikir dan pastinya semakin banyak membaca semakin banyak tahu, semakin banyak tahu maka segala informasi bisa diolah dengan akal sehat sehingga tidak mudah diprovokasi atau memprovokasi. Dengan banyak membaca maka pikiranpun terbebas dari belenggu-belenggu kejumudan, kolot dan bersifat ta’ashub kelompok.

Dengan pikiran inklusif, toleran antar sesama dan mempunyai wawasan yang luas mudah-mudahan kita tehindar dari hateisme ini. Tidak ada gunanya ilmu pengetahuan kalau hanya dilandasi dengan kebencian bahkan kalau kebencian ini tumbuh subur dalam diri maka memandang apapun selalu dengan kacamata negatif tanpa ada hal positif yang terekam dalam memori.

Ketika seseorang melihat alam atau manusia dengan mata kebencian, tidak akan terdapat dalam alam barang yang tidak tercela. Matahari begitu berfaedah membawa terang. Si pembenci tak dapat menghargai matahari lantaran panasnya. Bulan begitu indah dan nyaman, si pembenci hanya ingat bahwa bulan itu tidak tetap memberi cahaya, kadang-kadang kurang. Bagi pembenci tidak ada kebahagiaan! tidak ada pengarang yang pintar, tidak ada pemimpin yang cakap, tidak ada manusia yang baik, semuanya bercacat. Inilah sikap orang-orang yang mempunyai rasa benci kata Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern. []

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *