Sara Sagi Terbaru Wisata

Wih Porak Bius yang Dilupakan


Pagi itu Jum’at, 23 November 2012 lalu. Hari Jum’at biasanya adalah hari libur bagi petani kopi gayo. Induk hari dalam sepekan ini dijadikan hari khusus beribadah. Sejak pagi, para petani bersiap “menemui” Jum’at untuk shalat berjamaah. Jika hendak bertandang menemui petani, hari Jum’atlah waktunya. Selebihnya mereka akan berada di kebun. Kenderaan roda dua , jenis honda keluaran tahun 2004, mengarah ke bagian Barat Takengon.

Di gayo, semua jenis kenderaan roda dua, apapun mereknya, disebut “honda”. Kenderaan roda dua merek hondalah yang pertama sekali populer dan banyak digunakan sebagai kenderaan di areal pegunungan Aceh ini.Tak pelak, kebiasaan menyebut nama honda turun temurun hingga sekarang. Pembicaraan seperti ini, jamak terjadi. “Naik apa?”.”Naik honda!”, “honda apa?”, “honda yamaha, honda mio, honda suzuki….”.

Eh , maaf kita tidak sedang membicarakan perkara honda. Agar ringan saja. Karena selama ini kita terlalu banyak disuguhi berita politik yang rakus. Pagi jum’at itu, ditengah dinginnya udara pagi yang berkabut, laju kenderaan roda dua berkecapatan sedang terus mengarah ke barat.Tak cukup rasanya jaket tebal menutup kulit diterpa angin. Sebuah kain sarung masih menempel di leher demi mengurangi rasa dingin yang menusuk. Sepanjang Kampung Tansaril hingga Bies, sepanjang sisi jalan, dipekarangan rumah warga, kopi labu, atau kopi yang sudah diambil kulit tanduknya, tampak dijemur diatas karung koni.

Tanah-tanah tampak masih basah. Aktipitas pagi di gayo sudah dimulai sejak perpisahan malam dan pagi. Yang menjemur kopi, bukan saja kaum bapak. Juga ibu-ibu yang bersarung. Pemandangan serupa masih terlihat hingga Kampung Burni Bius. Burni Bius Kecamatan Silih Nara adalah sebuah lokasi perkebunan kopi Belanda. Lokasi ini juga menyimpan sejarah Indonesia. Indonesia yang diklaim Belanda sudah tidak ada lagi dan kembali ketangan penjajah, ternyata masih ada.

Bahkan Syafruddin Prawiranegara, ngumpet di Burni Bius dan coba menyuarakan Indonesia sudah merdeka dan tak pernah takluk pada Belanda, dari Jamur Barat Bius dengan pemancar radio sederhana. Tapi , pesawat Belanda yang dilengkapi alat pendeteksi radio, selalu mengudara dan mencari lokasi stasiun radio Indonesia untuk dihanguskan. Menghindari serangan udara Belanda, Syafruddin Prawiranegara, membangun bunker di Jamur Barat.

Setiba di Simpang Kampung Wih Porak, kenderaan roda duaku mengarah ke Utara. Disepanjang jalan Takengon-Angkup, tampak bangunan perumahan PLTA kini terisi setelah ditelantarkan saat konplik. Pekerja, diantaranya warga Jepang kala itu, lebih suka pulang kampung daripada beresiko nyawa membangun proyek PLTA yang didanai pemerintah Jepang. Konplik bersenjata, telah banyak membakar uang dengan terlantarnya berbagai proyek di Takengen, termasuk PLTA.

Beberapa orang yang bermata sipit dan berpostur sedang, tampak berseliwiren dengan memakai helem proyek. Mereka adalah konsultan PLTA, dari Jepang. Sementara proyek PLAT dikerjakan warga Korea, dengan merek Hyundai serta beberapa BUMN. Dari arah komplek PLTA ini, jalan terus mendaki, dengan kondisi jalan aspal yang dikupas air. Dikanan kiri jalan, tampak kopi-kopi arabika yang dipangkas rapi dengan naungan pohon petai.  Setelah melewati satu kilometer, tampak Kampung Wih Porak.

Dua buah rumah disisi jalan tampak berbeda. Kayu dinding luar rumah tampak berdiri dengan ketebalan kayu serta lebarnya diatas rata-rata. Rumah ini dibangun diatas tanah dengan ketinggian sekiter setengah meter diatas permukaan tanah. Masih kokoh meski sudah berwarna buram. Rumah bekas pekerja kebun kopi Belanda. Dua tersisa. Inilah salah satu tujuanku ke Kampung Wih Porak Bius. Memotret sisa perumahan pekerja kebun kopi Belanda.

Foto ini sangat perlu untuk melengkapi buku yang sedang dibuat Balai Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh. Selain BPNST Banda Aceh yang diwakili Agung, beberapa penulis lokal diikutkan menulis buku tentang kopi ini. Beberapa kali jepretan kuambil pada bangunan rumah ini. Model dan konstruksi untuk wilayah pegunungan yang sederhana yang dibuat Belanda. Terbukti masih awet dan kokoh. Belanda, disiplin menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai.

Berbeda dengan kondisi sekarang. Dimana fee proyek yang diatas 12 persen menjadi akibat buruknya kualitas bangunan. Tidak ada yang mengaku memberi atau menerima fee. Baik pemberi proyek atau pelaksana karena hal itu bertentangan dengan UU. Tapi siapa yang peduli UU (bukan uang-uang, tapi Undang-undang) karena model kehidupan instant saat ini dimana uang dan kemudahan lainnya menjadi tujuan hidup. Siapa yang mau proyek harus berani bayar fee didepan. Tanpa ikatan surat menyurat atau kwitansi. Karena pekerjaan haram ini dilakukan atas kesepakatan dan keinginan mendapatkan uang dari proyek secara bersama dan berjamaah. Sebuah tipu daya yang dilakukan. Terasa ada terkatakan tidak.

Setelah memoto, perjalanan dilanjutkan. Jalan masih mendaki. Melewati Kampung Wih Porak, beberapa meter jalan masih beraspal. Selebihnya, pengerasan dengan batu –batu yang terserak digerus hujan. Beberapa kali aku nyaris terjatuh karena kondisi jalan yang buruk dan hancur. Tapi siapa yang peduli. Sekitar 800 meter dari Kampung Wih Porak, tampak sebuah kolam kecil yang sekelilingnya baru dibersihkan.

Inilah tujuan keduaku. Melihat dan memotret pemadian air panas. Pemandian ini dibuat Belanda untuk mereka. Setelah memarkirkan kenderaan, jalan menurun menuju kolam. Sekitar lima meter dari jalan. Kolam air panas ini berukuran lebih kurang 3 X 3 meter. Dengan kedalaman sekitar 1 meter lebih. Tiga anak tangga dibuat didalam kolam. Agak sempit. Tapi bangunan kolam ini masih kokoh. Kolam ini dibangun didekat sumber mata air panas yang berjarak sekitar setengah meter di bagian utara kolam.

Selain dari sumber mata air panas diluar kolam. Dari dalam kolam juga tampak gelembung udara keluar tak henti. Pertanda bahwa kolam juga memiliki sumber mata air panas dari bwah kolam.

Hebatnya, di bagian Timur kolam pemandian “Belene” ini, sekitar 1 meter, mengalir sungai kecil. Jadi di lokasi ini ada dua jenis air. Panas dan dingin. Pembuangan dari sumber mata air panas ini kemudian bertemu dengan air dingin. Menyatu. Suasana tampak sepi di Jum’at itu. Tak ada petani yang lewat. Suara burung terdengar nyaring, nyanyian alam dengan suara debur air melintas celah batu, menerjang turun. Sepi yang indah dengan air panas dan dingin. Gambaran sebuah Surga kecil yang ditelantarkan.

Tak ada bangunan apapun di Wih Porak ini. Semuanya masih tampak alami, sejak zaman Belanda hingga kini. Bahkan kolam yang kini berwarna kuning itu, seolah menjadi saksi  bisu, tak disentuhnya oleh bangunan moderen. Terkapar sejarah. Entah karena kebodohan, tak peduli atau tidak punya visi dan misi yang jelas. Menu istimewa dengan koki yang bodoh….akh.

Setelah puas mereka masa lalu ditangan Belene yang memiliki prinsip dan target serta cara mensyukuri karunia alam, aku bergegas pergi. Tak ingin lebih lama ditertawai kolam buatan Belanda yang seolah mengejekku karena menelantarkan potensi yang diberi Tuhan ini. Kufur nikmat.Beberapa meter dari kolam pemandian, tampak beberapa rumah warga yang tak berisi. Sebagian terlantar akibat konplik. Rumah ditengah kebun kopi. Pulang. Aku memutar haluan kenderaan.

Harus ekstra hati-hati karena batu-batu jalan tak lagi ditempatnya. Kucar- kacir diobok-obok air hujan karena saluran pembuangan tertimbun tanah. Jalan menurun dengan aroma tanah yang disiram hujan. Aroma kopi yang basah. Tiba di Kampung Wih Porak kembali, aku bertanya pada warga rumah Kepala Kampung. Kepala Kampung di gayo kini disebut Reje Kampung. Setelah berlakunya Qanun (Perda) Nomor 17 Tahun 2010, Tentang Sistim Pemeraintahan  Sarakopat Gayo Kabupaten Aceh Tengah.

Dalam sistim Pemerintahan Sarakopat ini, Sekretaris Desa disebut Banta. Dilengkapi dengan beberapa orang lainnya, seperti Petue, BPK (Badan Perwakilan Kampung, disebut Rakyat Genap Mupakat (RGM) ). Kepala Desa disebut Kepala Jurung. ‘Isihen umahni Reje Ama”, ujarku pada seorang tua yang sedang memperbaiki saluran air ke rumahnya. “Ipalohso, iarap umahe ara asam”, kata bapak tua itu.  Rumah Reje Kampung , tampak sederhana seperti kebanyakan rumah pekebun kopi.

Bangunan yang semuanya berbasis kayu yang menempel ketanah dengan atas seng. Reje Kampung Wih Porak bernama M.Nasir Ali, kelahiran tahun 1972. Dia tampak berbaring karena kurang sehat sejak beberapa hari lalu. Panas, katanya. Menurut M.Nasir, kawasan Kampung Wih Porak dahulunya adalah bagian dari perkebunan kopi Belanda. Belanda menanami kopi di lokasi yang kini dijadikan Perkebunan Daerah Burni Bius. “Belanda hanya menaman kopi di lahan yang agak datar. Sementara kawasan bukit dan gunung dijadikan hutan lindung”, terang M.Nasir. Begitu kisah yang didengarnya dari kakeknya Awan Rebi Yusuf. Orang yang dianggap pertama membuka lahan di Wih Porak setelah Belanda pergi.

Sebelum terlanjur lebih akrab, M.Nasir menanyakan kepentinganku, dari institusi apa dan sejumlah pertanyaan lain. M.Nasir mengaku sudah bosan muak karena begitu banyak yang datang dan pergi  serta mendata lokasi Wih Porak, namun hingga kini tak jua ada perhatian serius dari pemangku kepentingan. “Saya tidak lagi memasukkan pembangunan Wih Porak dalam musrenbang karena tidak pernah diperhatikan. Hanya usul saja. Dan ini sudah terjadi sejak dua puluh tahun silam”, kata M. Nasir seraya bangun dari tidurnya, duduk.

Meski mengaku tidak mendapat perhatian dari Pemda dan hingga kini pemandian Wih Porak terlantar, tapi M.Nasir masih idealis. Karena dua tawaran membangun Wih Porak dari pihak lain ditolaknya. Satu tawaran datang dari swasta yang akan membangun lokasi pemandian secara refresentatif. Kemudian hasil yang nantinya diperoleh dari wisatawan dan pengunjung dibagi dengan Kampung. M.Nasir menolak.

Tawaran lainnya datang dari kontraktor warga asing yang sedang membangun proyek PLTA. Tawaran untuk membangun lokasi pemandian Wih Porak lebih layak,pantas dan menjadi kawasan wisata pemandian, minum kopi, agrowisata kopi dan lain-lain. Lagi-lagi M. Nasir menolak. Masyarakat Wih Porak Burni Bius, kata M.Nasir sudah mempersiapkan rancangan pembangunan lokasi pemandian air panas Wih Porak. Rencananya, air akan disalurkan dari sumber mata air panas menuju Kampung Wih Porak sepanjang 800 meter.

“Kampung sudah mempersiapkan lahan setengah hektar untuk lokasi pemandian. Lokasi ini berada dalam Kampung dan datar”, kata M. Nasir. Dijelaskan Reje Kampung Wih Porak, untuk membangun lokasi pemandian bisa dilakukan bertahap. “Untuk tahap awal diperlukan dana sekitar Rp.500 juta . Dengan dana ini, pemandian air panas sudah bisa digunakan”, papar Reje Kampung M.Nasir. Namun jika Pemda Aceh Tengah tidak juga juga perduli, tambah M.Nasir, dia akan coba mengajukan pembangunan lokasi Wih Porak pada Pemerintah Aceh di Provinsi, bahkan hingga ke Menteri Pariwisata di Jakarta.

Menurut sejarah, ulas Reje Kampung Wih Porak, setelah Belanda membangun lokasi pemandian itu, setiap sore, para Meneer Belanda ini menaiki kuda dari Burni Bius menuju lokasi pemandian. Kolam pemandian Wih Porak dibangun Belanda lengkap dengan bangunan diatasnya. Jadi lokasi pemandian berada didalam bangunan yang dilengkapi kaca. Jika pemandian Wih Porak dibangun, dengan pemandian pria dan wanita terpisah, Wih Porak akan ramai dan mampu menghasilkan PAD bagi Pemda.

Di Kampung Wih Porak, kini hidup 102 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa 339 orang. Kedepan, M.Nasir membayangkan, Wih Porak akan menjadi kawasan wisata air panas. Lengkap dengan warung kopi dan toko souvenir. Selain itu, wisatawan akan dimanjakan dengan lokasi pemandian air dingin dan panas. Agrowisata kopi serta sejarah. Karena di pinggir Kampung Wih Porak, bekas bunker Syafruddin Prawiranegara masih ada. Meski tidak terawat dan dijadikan lokasi pembuangan sampah kebun.

Dibangunnya pemandian air panas, harap Reje Kampung Wih Porak, dipastikan akan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari karcis masuk, retribusi parkir dan sejumlah keuntungan lain dimana Weh Porak akan tumbuh menjadi perkampungan wisata yang menarik dan alami serta sejarah penting Indonesia. Tapi, siapa yang peduli?. Tuhan sudah menciptakan air panas tapi mengelolanya saja kita tak mampu. Soal ini, Belanda lebih hebat.

[Win Ruhdi Bathin]
               

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *