Sara Sagi Terbaru

Cerita dibalik penulisan buku Seribu Asa dari Negeri Sakura, karya putra Gayo Junaidi Win Termuloe

Ini cerita Junaini Win Tarmuloe, peraih beasiswa di Shinshu University Jepang dibalik penulisan bukunya “Seribu Asa dari Negeri Sakura.”

Junaidi Ein Termuloe“Anak kampung sulit untuk maju,” itu kata teman saya saat masih sekolah di Fakultas Kedokteran dulu. Kata-kata tersebut masih saya ingat, sampai sekarang, dan berusaha membuktikan bahwa saya seorang anak kampung. Tepatnya, “anak terasi” (julukan ibu saya). Saya yang terlahir dari keluarga kurang berada, jauh dari hingar bingar kota, lauk terlezat saja tidak lebih dari sambal terasi, harus membuktikan bahwa semua pantas dapat beasiswa, semua punya hak untuk bersekolah, dan semua punya takdir untuk maju.

Buku “Seribu Asa dari Negeri Sakura” ini saya tulis tulis karena banyaknya pertanyaan tentang beasiswa baik dari dalam dan luar negeri baik yang bertanya melalui inbox facebook, email maupun WA, membuat saya merasa perlu membuat penjelasan yang rinci, padat, singkat dan mudah dipahami tentang bagaimana beasiswa tersebut. Menjawab pertanyaan dengan yang sama rasanya sudah tidak efektif. Contoh pertanyaan yang sering saya terima adalah, “bagaimana cara mencari beasiswa ke luar negari?” Akan ada puluhan bahkan ratusan kali saya menjawab dengan pertanyaan yang sama tersebut. Menguras waktu kan.

Dengan diterbitkannya buku ini, otomatis menjawab puluhan bahkan ratusan pertanyaan tentang beasiswa mulai dari A sampai Z, mulai dari mencari beasiswa sampai ujian beasiswa.

Ada pertanyaan yang mengelitik, apakah harus IPK di atas 3.5 baru dapat beasiswa? Ternyata, tidak. Bahkan, banyak diantara pemenang beasiswa memiliki IPK di bawah 3.00. Jadi, mereka di luaran sana masih punya harapan untuk mendapatkan beasiswa. Tidak percaya, baca saja bukunya.

Permasalahan yang timbul selama ini adalah, tidak tau lembaga mana saja yang memberi beasiswa. Di buku ini ada sekitar 200-an pemberi beasiswa di seluruh Jepang. Ini baru jepang saja. Belum negara lainya di Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan lainya. Yang menarik, banyak beasiswa yang dikhususkan bagi masyarakat tertentu. Penduduk ber KTP Aceh, misalnya, akan dapat beasiswa khusus. Karena, dianggap daerah masih ada sisa trauma konflik dan tsunami. Begitu juga mereka pemegang KTP Papua, NTT dan lainya, selalu memiliki beasiswa khusus. Beasiswa Tobako Foundation, contohnya, selalu menerima sekitar 2 orang setiap tahunnya dari Indonesia. Sayangnya, selalu tidak ada pendaftar dari Indonesia. Akibatnya, anak-anak Indonesia terpaksa dialihkan untuk mereka dari Malaysia atau Vietnam. Sayang, bukan.

Lamanya proses pembuatan

Buku ini diketik dalam waktu 3 Minggu. Namun, pengumpulan data dilakukan selama 5 bulan. Termasuk, pengiriman buku-buku referensi dari Indonesia dan negara lainnya. Juga, penggalian data dari pemerintahan Jepang dan kampus-kampus di Jepang. Selain itu, melakukan wawancara lewat facebook dan skype pada beberapa nara sumber dari Canada, Amerika, Turki, Qatar, Arab Saudi, India, Australia, dan Indonesia sendiri.

Penerbit buku

Banyak penerbit yang menawarkan baik yang besar maupun yang kecil. Tapi, pilihan jatuh kepada Quantum Jogjakarta. Karena, kesamaan ide dan ada persetujuan untuk tidak menghapus beberapa isi tulisan dalam buku ini di blog saya tarmuloe.com.

Proses penulisan

PicsArt_1429095284841Penulisan buku ini mengalami pasang surut. Terkadang, mau menulis. Namun, waktu tidak ada. Tidak ada di sini maksudnya, karena saya seorang mahasiswa tahap akhir. Jadi, waktu saya terkuras habis mulai jam 7.00 pagi hari sampai jam 12.00 siang di rumah sakit. Lalu, jam 13.00 melanjutkan penelitian di laboratorium saya, sampai sore. Selepas sholat magrib, harus ke rumah sakit sampai jam 8 malam dan kembali mengecek hasil penelitian di lab, jam 9 malam. Selanjutnya, diskusi harian bersama professor sampai jam 11 malam.

Drastis, waktu penulisan buku ini dilakukan di luar jadwal wajib tersebut, yakni jam 11 malam sampai jam 1 dini hari. Terkadang, penulisan dilakukan di hari minggu. Sebab, minggu tidak banyak pasien. Jadi, waktu tugas bisa disambi dengan menulis dan membaca-baca referensi.

Kendala

Selain kendala waktu yang sempit, banyaknya informasi dan ide yang akan dimasukan ke dalam sebuah buku menjadi tantangan tersendiri

Mau tidak mau, harus mengadakan seleksi materi dan mengeceknya sampai benar-benar yang penting saja yang tertinggal.

Kendala bahasa

Dalam buku ini, saya menulis dengan gaya bahasa Novel, sehingga pembacanya tidak merasa bosan. Jauh dari kesan ilmiah. Akan tetapi, pembahasannya sangat ilmiah. Itu pula yang mendasari kenapa judul bukunya “Seribu Asa dari Dari Negeri Sakura.” Terdengar seperti buku novel. Padahal, ini buku edukasi tentang beasiswa dan sekolah di luar negeri.

Program buku

Buku ini bukan hanya diterbitkan, lalu dijual begitu saja. Namun, lebih dari itu. Sejauh ini, sudah ada 5 universitas yang akan melangsungkan acara bedah buku ini, mulai tanggal 25 ini di UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta, tanggal 30 di universitas Udayana Bali, tanggal 2 di UIN Makasar, tanggal 3 di STIKES Bulukumba Makasar, dan tanggal 7 di Universitas Tanjung Pura Pontianak. Itu tahap pertama. Sedangkan tahap kedua, masih dalam perencanaan dengan memetakan kampus-kampus di Aceh, Sumatera, Jakarta, Jawat Timur, dan Bandung. Bagi pembaca yang ingin berhubungan dengan Junaidi, ini tautan facebooknya https://www.facebook.com/junaidi.wientarmuloe.

(Yusradi Usman al-Gayoni)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *