Keber Ari Ranto Terbaru

Data Kumaga; ada 800 KK urang Gayo di Lhokseumawe dan Acut

Dun Dayang (kiri) bersama Pimred LintasGayo.co, Khalisuddin (kanan). (LGco : Wein Mutuah)
Dun Dayang (kiri) bersama Pimred LintasGayo.co, Khalisuddin (kanan). (LGco : Wein Mutuah)

Lhokseumawe-LintasGayo.co : Populasi masyarakat Gayo di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara (Acut) menurut data Keluarga Masyarakat Gayo (Kumaga) ada sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) urang Gayo yang tinggal didua daerah itu. Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang pengurus Kumaga, Dun Dayang kepada LintasGayo.co beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, data tersebut didapat setelah Kumaga mensensus keluarga masyarakat Gayo di Lhokseumawe dan Acut berdasarkan dari pertemuan bulanan yang rutin digelar masyarakat Gayo di dua Kabupaten/Kota itu.

“Data itu didapat dari list yang disebar setiap pertemuan bulanan. Pertemuan bulanan berupa arisan masyarakat Gayo di dua daerah ini rutin dilaksanakan, sebagai ajang dilaturahmi antara masyarakat Gayo disini,” ungkap karyawan PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) ini.

Dilanjutkan lagi, Keluarga Masyarakat Gayo yang ada di dua tempat itu berasal dari tiga Kabupaten Gayo (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues). Mereka bekerja diberbagai instansi pemerintahan maupun swasta. “Data itu tidak temasuk mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Negeri berjulut Petro Dollar ini,” sebut Dun Dayang.

Dikatakan lagi, setiap tahunnya tepatnya pada hari Raya Idul Fitri Kumaga selalu menggelar Halal Bi Halal serta pertunjukkan seni Gayo. “Halal bi hahal sebagai ajang mempererat silaturahmi sedangkan pertunjukkan seni sebagai bentuk upaya dalam menjaga kelestarian seni dan budaya Gayo,” terangnya.

Ditanya pandangannya melihat tanah kelahirannya (Tanoh Gayo) saat ini, Dun Dayang secara pribadi mengatakan bahwa daerah Gayo saat ini sudah banyak kemajuan. Namun menurutnya lagi, pengembangan seni budaya sebagai warisan leluhur perlu lebih ditingkatkan lagi.

“Masih banyak yang belum tergali didaerah Gayo terutama sejarah. Untuk seni dan budaya harus lebih dikembangkan lagi, jangan sampai anak cucu kita kelak tak lagi mengenl seni dan budayanya sendiri,” demikian Dun Dayang.

(Darmawan Masri)

Comments

comments