Keber Ari Gayo Sosial Budaya Terbaru Wisata

Ini Pesona Wisata di Aceh Tenggara

Panorama Kuta Cane dari Bukit Cinta. (Kha A Zaghlul)
Panorama Kuta Cane dari Bukit Cinta. (Kha A Zaghlul)

ACEH Tenggara merupakan sebuah Kabupaten yang berada dipaling ujung wilayah Tenggara Aceh. Kabupaten dengan Ibu Kota Kutacane ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sayur dan buah terbesar di Aceh. Selain itu, Aceh Tenggara juga memliki potensi yang baik dalam hal pariwisata. Salah satu contohnya seperti Sungai Alas yang sudah dikenal luas sebagai tempat olah raga Arung Jeram yang sangat menantang.

Berdasarkan catatan sejarahnya, Ukhang Alas atau Kalak Alas (Orang Alas, Alas Red) telah bermukim di lembah Alas, jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia dimana keadaan penduduk lembah Alas telah diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781:8), bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme.

Nama Alas diperuntukan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Menurut Kreemer (1922:64) kata “Alas” berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing), beliau bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan.

Sedangkan sejarah pembangunannya, Aceh Tenggara adalah daerah pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah pada 06 Desember 1957 yang pada saat itu terbentuk panitia tuntutan rakyat Alas dan Gayo Lues (saat ini juga sudah memiliki Kabupaten sendiri pemekaran dari Aceh Tenggara) melalui sebuah rapat di sekolah MIN daerah Prapat Hulu yang pada saat itu dihadiri oleh 60 pemuka adat Alas dan Gayo Lues dengan hasil rapat adalah :

1. Ibu Kota Aceh tengah dipindahkan dari Takengon ke Kutacane.

2. Jika tidak memungkinkan memindahkan ibukota ke Kutacane, maka kewedanan Alas dan Gayo Lues di jadikan satu Kabupaten yg tidak terlepas dari Provinsi Aceh.

Atas tuntutan itu diadakanlah rapat raksasa di Kutacane yg di hadiri lebih dari 200.000 orang. Akhirnya pada 26 Juni 1974, Aceh Tenggara di resmikan oleh H.Amir Machmud yang saat itu menjabat sebagai Mentri Dalam Negeri kabupaten yang terlepas dari kabupaten Aceh tengah, sekaligus diangkatlah Alm.H syahadat sebagai Bupati pertama Aceh Tenggara.

Pesona Wisata di Aceh Tenggara

Jika ingin mengunjungi Aceh Tenggara melalui jalur Kabupaten Gayo Lues, Kecamatan Ketambe menjadi wilayah pertama yang akan anda jumpai. Seperti yang kita kenal, Ketambe adalah salah satu jalur untuk mendaki Gunung Leuser, maka tidak heran kalau Ketambe dijadikan sebagai salah satu tempat objek wisata oleh para masyarakat dengan membangun sejumlah kafe, villa, dan tempat rekreasi keluarga yang didatangi oleh pengunjung lokal maupun luar.

Selain fasilitas liburan yang disediakan, sajian pesona yang diberikan alam menjadi nilai lebih tempat ini, dari tepi jalan saja para pengunjung dapat dengan jelas memandang gunung-gunung yang menjadi wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), serta hewan-hewan penghuni gunung setempat seperti monyet dan kera banyak dijumpai ditepi-tepi jalan Ketambe. Dan untuk jalur transportasi anda tidak perlu kawatir, sebab hampir seluruh jalan di Aceh Tenggara dengan kondisi baik dan mulus.

Melewati wilayah Ketambe, kita akan bertemu dengan Desa Jongar. Disana anda dapat menikmati lezatnya buah uso (Rambutan, Alas Red) dan buah salak. Dengan harga yang murah anda dapat menikmati sepuasnya bermacam buah-buahan lain seperti langsat, durian, juga duku disepanjang jalan Jongar. Sedangkan untuk para fotografer, disarankan agar melalui wilayah ini pada sore hari. Sebab, pada saat itu dipastikan anda akan banyak mendapatkan objek yang indah untuk jepretan anda.

Selain potensi sayur-mayur, aneka buah dan pariwisata alamnya, kearifan sosial masyarakat Aceh Tenggara menjadi salah satu keunikan yang dimiliki masyarakat suku Alas ini. Hal tersebut terbukti, dengan banyaknya suku yang mendiami Aceh Tenggara seperti suku Singkil, Aceh, Karo, Batak, Gayo, Jawa, Minangkabau, Mandailing, Nias dan suku Aneuk Jamee tetap akur menjalin kebersamaan mereka.

Nah, tunggu apa lagi, bagi anda yang belum pernah ke Aceh Tenggara, tidak ada salahnya untuk berkunjung. Dijamin anda akan merasakan indahnya pesona liburan di Aceh Tenggara. (Supri Ariu)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *