Upuh Kio Tenòn Gayo yang Punah

oleh

Dataran tinggi Gayo, ternyata punya catatan sejarah terkait tenòn (tenun) dimasa lampau. Bukan, hanya sebagai barang yang dipakai, ternyata tenòn Gayo di masa dulu menjadi sumber perekonomian masyarakat di negeri berkabut ini.

Salah satu hasil tenòn Gayo yang banyak dipakai oleh masyarakat Gayo pada masa lampau adalah Upuh Kio. Keberadaan Upuh Kio saat ini kurang populer di kalangan generasi muda Gayo.

Padahal, Upuh Kio yang merupakan hasil tenòn Gayo, hampir dipakai dalam segala prosesi adat bagi masyarakat Gayo, seperti pernikahan hingga acara Munik ni reje.

Hal tersebut disampaikan oleh Peteriana Kobat yang akrab disapa Ana Kobat, beberapa waktu lalu. Seiring berjalannya waktu, dan punahnya tenòn Gayo, Ana Kobat bersama Achrial Aman Ega dan Zulfikar Ahmad Aman Dio mulai melakukan riset terkait tenòn Gayo itu.

“Salah satu produk tenòn Gayo adalah Upuh Kio, polanya hanya lurus-lurus dan memiliki warna yang doninan gelap, biasanya biru dongker,” kata Ana Kobat.

Cerita tentang Upuh Kio kata Ana bukan hanya sekedar dongeng, saat ini masih ada tetua di Gayo yang masih ingat betul bagaimana proses tenun itu berjaya di masa lampau.

“Bahkan, ada beberapa buku atau literasi yang kita dapatkan bahwa Upuh Kio dan tenòn Gayo menjadi bagian khusus dalam roda perekonian masyarakat zaman Gayo dulu,” kata Ana.

“Dan sangking cangkihnya proses tenòn Gayo masa itu, orang-orang Batak belajar ke Gayo. Saat ini terbalik, kita yang harus belajar kesana,” tambah Ana Kobat.

Menurut Ana Kobat, Upuh Kio berbeda dengan Kerawang dan Upuh Ulen-Ulen. Kerawang kata Ana orang Gayo dulu mengenalnya dengan istilah, Upuh Berbunge atau Baju Berbunge.

Menurut Ana dari hasil riset yang ia lakukan bersama tim, ditemukan lagi bahwa daerah Takengon, seratus tahun lalu merupakan daerah penghasil benang dan tenòn, daerah ini saling ketergantungan dengan Alas dan Blangkejeren.

“Untuk itu, dalam bulan September 2020 nanti, kita akan berencana membuat seminar tentang tenòn Gayo ini, dengan sumber dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Ana Kobat.

“Bukan hanya seminar, pelatihan atau workshop tentang cara menenun juga akan dilaksanakan. Tujuannya apa, agar kita bisa kembali menggali informasi-informasi detail terkait tenòn dan Upuh Kio ini,” demikian Ana Kobat menimpali.

[Darmawan Masri]

Comments

comments