Sekelumit Persahabatan Dengan Profesor Alyasa’ Abubakar

oleh

Oleh : Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad*

Namanya Profesor Alyasa’ Abubakar (izinkan selanjutnya disingkat Prof AA). Pertama kali saya dengar ketika saya berada di Yogyakarta. Saat itu, ada satu tesis Master yang disimpan di perpustakaan IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengenai Ushul Fiqh.

Tesis ini saya bolak-balik, hingga saya mencoba menulis satu makalah mata kuliah untuk dosen saya yaitu Prof. Dr. H. Syamsul Anwar. Tesis itu berisi tentang kajian Ushul Fiqh, dimana di dalamnya terhadap beragama metode dalam kajian ini.

Setelah itu, saya pun menerima beberapa buku gratis kiriman INIS di Jakarta. Alangkah terkejut, ada satu karya tentang Hazairin yang berisi tentang hukum Waris. Saat itu, saya tidak begitu mengenal sosok Prof AA.

Hanya saja, sayup-sayup saya mendengar dari Prof. Syamsul Anwar bahwa ketajaman dan kedalaman ilmu hukum Islam Prof AA sudah diakui secara nasional.

Bahkan dikaitkan dengan sosok Satria Effendi. Setelah pulang ke Aceh, mengabdi di UIN Ar-Raniry, saya pun mulai mendengar kiprah AA di berbagai bidang, mulai dari persoalan keilmuan hingga aktifitas sosial keagaman. Awalnya, saya tidak berani berinteraksi langsung dengan AA.

Selain segan, AA sering dikatakan oleh para mahasiswanya, harus siap mental untuk bersilaturrahmi intelektual dengannya.  Karena itu, saya pun tidak berani bertemu langsung dengan Prof. AA, karena takut kalau ditanyakan sesuatu olehnya, saya pasti tidak mampu menjawab atau mengulasnya.

Saya hanya melihat gaya berbicara beberapa muridnya, yang saya pikir ini adalah hasil didikan Prof AA. Ada yang berbicara persis seperti AA, ketika mengupas hukum Islam, terutama studi Ushul Fiqh. Ada pula yang menggerutu, karena selalu disuruh membaca buku atau kitab, jika bertemu atau bimbingan dengan Prof AA.

Membaca adalah kebiasaan Prof AA. Ada pula muridnya yang mengatakan bahwa agak susah mencari gantinya untuk kajian hukum Islam di Aceh. Semua komentar murid-muridnya di Paska UIN Ar-Raniry dan Fakultas Syariah dan Hukum, saya simpan, hingga saya memiliki waktu yang cocok untuk bertemu dengannya.

Disiplin, mendalam, ramah. Itulah gambaran sosok Prof AA. Jarang menemukan seorang guru besar yang masih menyisakan waktunya untuk berkhidmat, tidak ada hanya dalam bidang keummatan, sosial, dan juga pengembangan intelektual di Darussalam.

Oleh mahasiswa atau juniornya, sering memperlihatkan buku-buku baru yang didapatkan dari Prof AA. Konon, di bagian belakang mobilnya, sering dijumpai berbagai buku baru, yang kemudian diinformasikan kepada mahasiswa atau sahabatnya. Perihal sosok Prof AA dan buku adalah dua mata koin yang tidak dapat diabaikan sama sekali.

Dalam beberapa kesempatan, saya pun mulai menghadiahkan buku-buku saya kepada Prof AA. Demikian pula, Prof AA juga kerap menghubungi saya untuk menghadiahkan beberapa buku. Kami sering berdiskusi singkat, ketika hendak melakukan absen di Fakultas.

Senyum ramahnya yang selalu menahan saya untuk berhenti, jika kami berpapasan. Kadang diskusi sekejab, mampu memantik cara berpikir saya di dalam melakukan proses beberapa topik penulisan. Kegusarannya dengan proses definisi dan hakikat ilmu fiqh, yang paling saya ingat. Kemudian, bagaimana memahami realitas sosial budaya dalam kajian hukum Islam. Harus diakui, Prof AA memang telah melahirkan berbagai karya tentang hukum Islam.

Karena itu, sosok Prof AA memang dapat dikatakan sebagai “a man who puts ideas into practices.”

Dia pernah menjadi Kepala Dinas Syariah Islam, Provinsi Aceh. Jadi, Prof AA  merupakan saksi hidup bagaimana pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh. Dia juga merupakan konseptor yang ulung.

Tingkat pertemuan saya dengan Prof AA meninggi, ketika saya bergabung sebagai Dewan Pertimbangan Syariah  Baitul Mal, Provinsi Aceh. Di sinilah saya menemukan sosok Prof AA yang sangat lihai dan piawai dalam menghadapi berbagai peluang dan resiko dari suatu kebijakan.

Faktor kehati-hatian juga melekat pada diri Prof AA. Sampai sekarang sudah lebih lima tahun saya bersama Prof AA, dimana saya mengetahui beliau sejak S-1 di Yogyakarta.

Selama kedekatan inilah, saya mulai menimba ilmu pengetahuan dari Prof AA. Kedalaman dan keluasan ilmu, ditunjang dengan bacaan yang amat banyak, terkadang membuat saya tidak mau berjauhan dengan sosok Prof AA.  Salah satu ciri khasnya adalah selalu meninggalkan pertanyaan yang menyentak, jika ada persoalan yang didiskusikan.

Beberapa isu tersebut, tidak elok saya kupas di sini, karena perlu dijawab dengan penelitian demi penelitian. Hampir semua buku saya, yang terbit selama 2010-an ke atas, telah saya hadiahkan kepada Prof AA.

Dapat dikatakan Prof AA adalah teman diskusi yang cukup menyenangkan. Ketika berdiskusi, terkadang ide kami bersahut-sahutan, hingga terkadang harus dipisahkan, karena kesibukan masing-masing.

Salah satu ciri khas Prof AA adalah ketika mengartikulasi gagasan-gagasannya secara santun dan sistematis. Suara khasnya tidak begitu begitu menggebu-gebu dan membuat lawan diskusinya merasa tidak dikerdilkan.

Namun, sangat tegas jika ada sesuatu yang perlu Prof AA luruskan. Di samping itu, Prof AA juga memiliki kedalaman ilmu dalam sejarah Aceh. Inilah yang jarang diketahui oleh khalayak.

Pengetahuan sejarahnya sangat luas. Bahkan, ada saja informasi masa lalu, yang beliau ketahui, yang membuat kita terjaga akan kepentingan nilai-nilai sejarah dalam memproduksi ilmu pengetahuan.

Akhirnya, saya merasa beruntung dapat berdekatan dengan Prof AA. Beliau memberikan inspirasi dan motivasi dalam pengembaraan ilmu pengetahuan. Beliau juga mentor yang sangat mengerti kejiwaan seoarang murid.

Beliau juga sangat bijak di dalam memberikan pandang terhadap seseorang yang ingin nasihatnya. Prof AA sangat tegas dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun, Prof AA sangat lembut di dalam memahami kejiwaan murid-muridnya, yang tersebar di pelosok negeri. Semoga Profesor AA terus berkarya untuk negeri ini.

*Antropolog dan Dosen UIN Ar-Raniry, Kopelma Banda Aceh.

[Sumber : sagoe.id]


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments