Pemimpin yang Berorientasi

oleh

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Saya yakin semua kita belum lupa dengan mimpi raja Mesir tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan tujuh sapi betina yang kurus dan tujuh butir gandum hijau serta tujuh butir gandum kering.

Sang raja merasa penasaran lantas memanggil para penafsir mimpi untuk menguak mimpi tersebut. Namun para ahli penafsir mimpi mengatakan bahwa mimpi tersebut hanyalah bunga tidur yang tidak mempunyai arti apa-apa.

Karena rajanya adalah seorang yang cerdas tidak mudah dia merasa puas dengan yang dijelaskan oleh para pentabir mimpi, lalu raja memerintahkan para stafnya mencari siapa yang bisa menjelaskan makna dari mimpi tersebut.

Akhirnya ditemukanlah nabi Yusuf yang pada saat itu berada dalam penjara. Nabi Yusuf menjelaskan makna dari mimpi raja tersebut adalah sebuah peringatan dari Sang Pencipta, bahwa akan ada satu musim selama tujuh tahun dengan air dan tanah yang subur dengan hasil tanaman yang melimpah dan selanjutnya akan datang juga tujuh tahun masa kekeringan yang berada dalam masa peceklik.

Raja yang selalu berpikir benar dan tidak ada kecurigaan tentang informasi kebenaran akan mendengar penjelasan dan masukkan dari siapapun datangnya asalkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Itulah prinsip yang dipegang oleh Raja Mesir sehingga ia mendengar tabir mimpi yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf, padahal Nabi Yusuf adalah orang yang sangat dibenci oleh raja.

Namun rarena kepintaran Nabi Yusuf dalam membaca masa depan Negara/daerah serta mengetahui apa yang menjadi kebutuhan Negara dan masyarakatnya, maka raja mengangkat Nabi Yusuf menjadi tenaga ahli dalam bidang ketahanan daerah Mesir pada saat itu.

Mengambil i’tibar dari apa yang dilakukan oleh Raja tentang masa depan Mesir, maka Raja (Gubernur, Bupati dan Wali Kota) yang sedang memimpin suatu daerah hendaknya orang cerdas yang dapat membaca masa depan dari daerah yang dia pimpin.

Kemampuan dalam membaca masa depan tidaklah harus keluar dari pemikiran seorang Raja, tetapi sebagaimana dalam kasus Raja Mesir tersebut dalam menyikapi permasalahan yang akan muncul terlebih dahulu didiskusikan dengan para ahli baik itu ahli yang masuk struktur organisasi ataupun juga dengan tim pemikir atau akademisi.

Sistem yang diambil oleh Raja Mesir pertama sekali ia berdiskusi dengan mereka yang menjadi tim (Kerajaan, Gubernur, Bupati atau Wali Kota) kemudian ketika tim tersebut tidak mampu menerjemahkan apa yang harus diprogramkan Raja, maka Raja mengajak Yusuf yang posisinya sebagai ahli di luar birokrasi untuk berdiskusi. Akhirnya kebenaran didapatkan dari tenaga ahli yang berada di luar.

Bila sistem yang dikerjakan oleh Raja Mesir digunakan, maka akademisi-akademi yang ada di Perguruan Tinggi pasti akan memberikan masukan untuk pembangunan daerah. Namun system ini tidak dipakai secara maksimal dalam rangka membangun suatu daerah sehingga pembangunan selalu tertinggal berbanding dengan kebutuhan masyarakat dan kemajuan zaman.

Artinya tim ahli birokrasi hanya sebatas mengisi kekosongan jabatan, bukan sebagai tim ahli yang menggunakan keahliannya untuk memikirkan masa depan pembangunan daerah bahkan hanya sebagai penempatan tenaga tim ahli karena harus mempunyai/menduduki jabatan.

Demikian juga dengan tim ahli yang berasal dari luar (akademisi) yang dipilih bukan karena keahliannya dalam menjawab permasalahan masyarakat di masa akan datang tetapi lebih karena kedekatan (satu asal daerah, kampung, organisasi atau alas an lain). Akhirnya kebijakan yang diambil tidak sebagaimana diharapkan oleh masyarakat dan juga tida sesuai dengan tuntutan Zaman.

Karena perekrutan tenaga ahli dengan dasar pertimbangan kekerabatan dan kedaerahan (kekampungan) mengakibatkan pola diskusi dengan tenaga-tenaga ahli yang lain tidak bisa dilakukan, ini sebenarnya sebuah gambaran kalau pemimpin dari suatu daerah tidak mempunyai pola pembangunan ke depan, kemudian pemimpin yang seperti ini juga beranggapan kalau tenaga ahli yang direkrut dengan dasar kekampungan mempunyai kemampuan dan pengetahuan terhadap segala aspek pembangunan dan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang dipimpinnya.

Sekarang ini adalah era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tidak ada lagi sisi kehidupan yang lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, sampai-sampai ada sebagian orang yang tidak mempunyai pengetahuan agama dan ketauhidan yang kuat tidak lagi bisa membedakan mana batasan taqdir yang tidak masuk peran manusia dan mana batasan yang bukan taqdir yang dapat masuk peran manusia.

Dalam kaitannya dengan kejadian ta’bir mimpi yang dilakukan Nabi Yusuf, maka mimpi raja tersebut merupakan taqdir yang tidak ada peran manusia atau ada peran manusia, Nabi Yusuf mengatakan kepada Raja Mesir kalau mimpi raja adalah peringatan dari Sang Khaliq akan ada suatu kejadian, maka dengan kemampuan yang diberikan Allah kepada Nabi Yusuf ia mampu membaca mimpi tersebut.

Kemampuan teknologi pada saat ini telah mampu membaca kejadian dan fenomena alam yang akan terjadi di masa yang akan datang sampai pada batasan ilmiah, seperti kita lihat adanya prediksi apa yang terjadi pada masa yang akan datang sehingga para pemimpin daerah dapat menuangkannya dalam visi dan misi serta program yang akan dikerjakan, mulai dari program jangka pendek sampai pada jangka panjang.

Disamping itu kita harus juga mampu membaca fenomena yang terjadi setiap harinya, untuk jijawab segera karena masyarakat sangat membutuhkan. Hal lain juga kita tidak bisa berjalan sendiri tanpa berpandu kepada negara-negara atau daerah-daerah lain yang telah dahuluan maju. Itu bila kita liaht dari sisi fenomena alam.

Kemampuan/kecerdasan pemimpin juga bisa melihat dari sisi potensi hasil alam, sehingga hasil alam suatu daerah tidak dibiarkan rusak hanya karena tidak ada yang beli dalam masa tertentu, sedangkan masyarakat membutuhkannya setiap saat.

Dalam bahasa lain system pertanian dalam masyarakat kita masih sangat tergantung dengan musim, bila pada musim panen maka hasil tanaman melimpah dan ketika selesai musim panen maka hasil habis (baik karena habis terjual atau habis karena rusak), untuk itu pemimpin harus mengambil solusi untuk mengolah hasil pertanian masyarakat dengan menggunakan teknologi. Diharapkan akhirnya produk pertanian masyarakat selalu tersedia dan kebutuhan orang lain juga dapat selalu terpenuhi.

*Pemerhati masalah sosial dan budaya


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments