Keprihatinan dan Harapan (Sisi Positif dari Sebuah Cerita Lepas)

oleh

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Ketika saya pulang ke kampong (Kampung Blang Ara, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah) pada tanggal 2 Oktober 2020, beberapa orang datang menemui saya dan mengajak berdiskusi dalam rangka pelesterian budaya dan adat Gayo.

Mereka menamakan diri sebagai pengurus yayasan Kebudayaan dan Adat Gayo yang katanya sudah memiliki badan hukum.

Mereka bercita-cita dengan yayasan yang mereka dirikan dapat mendirikan pendidikan dari yang paling rendah (Taman Kanak-Kanak) sampai kepada yang paling tinggi (Perguruan Tunggi), cita-cita lain yang mereka miliki dan berharap dapat tersalur melalui yayasan iniadalah mendiri tempat pelayanan kesehatan.

Di samping itu mereka juga punya cita-cita ingin mempersatukan orang Gayo dari seluruh penjuru dunia, dengan cara mengajak semua mereka yang berjauhan tempat tinggal berpikir tentang Gayo masa depan.

Dalam bayangan pemilik yayasan ini bahwa masa depan Gayo adalah masa depan yang tidak mempunyai identitas terlebih adat dan budaya, sebagai contoh generasi muda saat ini tidak lagi mengenal yang namanya alat-alat pertanian (nengel, sedep, belat, seladang, benyang, bili, keben, dan lain-lain), mereka juga tidak mengenal lagi alat-alat dapur (senuk, bojok, gegayang, keliliken, kuren, belangan, legend an lain-lain).

Pada hal sebagian dari alat-alat yang telah disebutkan masih ada dan digunakan, hanya saja mereka telah membahasa Indonesiakan alat alat tersebut. Dan juga tidak bisa dinafikan kalau sebagian dari barangtersebut tidak ada dan juga tidak digunakan lagi, boleh jadi disebabkan karena terganti dengan teknologi atau karena sebab munculnya ada alat yang terbuat dari plastik.

Kekhawatiran lain dari pengurus yayasan ini adalah hilangnya warisan atau peninggalan kerajaan-kerajaan yang ada di gayo semenjak masa dahulu.

Di sisi lain boleh jadi peninggalan itu masih ada, namun kita tidak tahu dimana keberadaan peninggalan tersebut, karena itu keberadaan mesium untuk Gayo sudah menjadi keharusan untuk menyimpan barang-barang peninggalan yang masih ada dan mencarikembali barang peninggalan yang sudah hilang.

Mereka mengakui ketidak tahuan mereka tentang apa yang menjadi alasan pemerintah di Gayo sehingga tidak mendirikan mesium, apakah karena alasan dana atau karena alasan lain, padahal yang dinamakan dengan mesium tidaklah harus mewah.

Tergambar dari apa yang mereka ceritakan, sebenarnya mereka merasa prihatin dengan keadaan budaya dan adat yang ada di Gayo.

Namun mereka berharap terlalu besar akan apa yang bisa mereka lakukan, sedangkan kemampuan mereka sangat terbatas baik dari sisi kemampuan finansial atau juga dari kemampuan manajemen.

Dari diskusi yang berkembang dan ketika mereka meminta pendapat saya tentang apa yang bisa mereka lakukan, saya memberi pendapat kerjakan mulai dari yang terkecil dan dapat bermanfaat untuk masyarakat terlebih lagi untuk membangun masa depan generasi Gayo.

Kesimpulan dari diskusi mengerucut pada pekerjaan awal yaitu mendirikan lembaga pendidikan mulai dari yang terendah yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) dengan konstruksi bangunan tradisional dan sederhana, yairu memanfaatkan pohon bambu sebagai tiang dan atap dari daun ilalang atau (gayo : supu serule). Kemudian selanjutnya menjadikan alat-alat tradisional sebagai bahan ajar, di samping memperkuat pengetahuan membaca tulisan latin dan kemampuan membaca al-Qur’an dan tulisan Arab.

Diskusi juga sangat menarik, karena dalam perjanannya diskusi tersebut mereka menunjukkan kemampuan dalam memahami sejarah-sejarah Gayo, bercerita tentang sejarah kerajaan Linge “awal Linge asal Serule” dan juga mereka bercerita tentang asal mula dari keberdaan Danau Laut tawar.

Banyak lagi cerita-cerita tentang Gayo yang kami diskusikan disamping sejarah sebagaimana disebutkan, termasuk masalah nasib para petani pada masa pandemi dan juga stelah masa pandemi.

Karena kalau kita perhatikan nasip-nasip dari para petani dan juga masyarakat yang pedagang pada masa pandemi ini seolah sulit lepas dari lilitan ekonomi. Kenapa tidak, masyarakat petani yang mempunya barang tidak ada yang membeli, petani yang membeli hasil pertanian rakyat tidak tau mau mengirim barang kemana, sedangkan pemerintah juga memusatkan perhatian pada penanganan covid-19.

Untuk ini tidak lain keculi kita terus berharap agar dapat ditemukan obat corona dalam waktu cepat, sembari juga sebagai orang ang beriman meyakini bahwa solusi yang terbaik ada pada kekuasaan Allah.

*Pemerhati sosial budaya

Comments

comments