Bukan Hanya Ekspor, Pasar Lokal Kopi Arabika Gayo Juga Merosot Tajam di Tengah Pandemi

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Owner Asa Coffee Gayo, Armiadi mengaku mengalami kondisi tersulit yang dialami kopi Arabika Gayo sepanjang sejatah.

Di tengah Pandemi Covid-19 ini, bukan hanya pasar ekpor kopi Gayo yang terjun bebas, akan tetapi pasar dalam negeri (lokal) juga tidak bergairah alias lesu.

Saat ditanyai LintasGAYO.co, Armiadi mengungkap beberapa alasan. Menurutnya, Gayo yang menjadi produsen terbesar di dalam negeri, selain ekspor, juga akan mengalami penurunan harga di musim panen raya Oktober ini.

“Saat ini kondisinya, seluruh daerah di Indonesia juga sedang masa panen baik di Jawa, Sulawesi. Jadi kopi itu saat ini ada di semua daerah penghasil kopi di Indonesia,” kata Armiadi, Kamis 20 Agustus 2020.

Berbeda dengan musim panen April dan Mei lalu, dimana pada saat itu hanya kopi Gayo yang masuk musim panen. “Saat itu, harga penjualan masih tergolong tinggi. Namun, kondisi ke depan akan berbeda saat semua wilayah memasuki musim panen,” terangnya.

“Akan ada kemungkinan, kopi di seluruh Indonesia hanya akan terjual sebesar 40 persen saja, sementara 60 persennya akan menumpuk, dan ini angka yang besar,” tambahnya.

Disampaikan, musim panen raya yang semakin dekat itu akan terjadi persaingan pasar dan harga diprediksi juga akan turun.

“Memang selama pandemi ini, omzet dalam negeri juga terjun bebas. Di Asa Coffee minsalnya, di awal-awal pandemi omzet kami turun 90 persen. Omzet kami hanya 10 persen dari normalnya,” katanya.

“Kondisi ini sedikit membaik, saat diterapkannya adaptasi kebiasaan baru atau new normal. Saat ini angka prosentasenya omzet turun menjadi 80 persen,” tambahnya.

[Darmawan]

Comments

comments