Ana Kobat, Sejatinya Perempuan Gayo

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Aduh malunya! Cibiran dan protes dibalas dengan sebuah karya. Andai ada tanah retak, rasanya ingin loncat ke dalamnya. Begitulah cara Peteriana Kobat atau dikenal dengan panggilan Ana Kobat menjawab segala tantangan soal “opoh kio” dengan menggali kembali kain tenun yang biasa dipakai para raja dan bangsawan Gayo masa silam.

Bermula dari tulisan Zulfikar Ahmad, ST atau populer dengan panggilan Aman Dio pada dinding Facebooknya 30 September 2017 lalu, kemudian Ana Kobat mengeksplorasinya menjadi “tarian opoh kio” yang melibatkan 350 orang penari pada pembukaan GAMifest, 14 September 2018 lalu di Lapangan Musara Alun, Aceh Tengah.

Selanjutnya Ana Kobat, Aman Dio dan Achriyal Aman Ega melakukan penelitian lebih lanjut tentang “opoh kio” dengan mendokumentasikan seluruh yang berkaitan dengan “sandang orang Gayo” itu pada masa silam dalam bentuk buku. Rencananya akan diseminarkan pada 14 September 2020 dan diterbitkan pada Desember 2020.

“Pada seminar nanti diharapkan dari pemulia budaya Gayo dapat memberikan masukan terhadap buku opoh kio yang akan diterbitkan demi kelestarian budaya Gayo dari sisi sandang serta menggali kembali kearifan lokal yang telah lama hilang dari bumi Gayo serta Insya Allah ke depan akan menjadi industri lokal yang bisa menjadi pendapatan masyarakat,” jelas Ana Kobat.

Setelah melanglang buana, Ana Kobat tidak menyangka kembali ke “tanoh tembuni” untuk merekonstruksi peradaban Gayo yang telah hilang ratusan tahun lalu. Begitulah skenario Tuhan berlaku padanya, meski demikian tidak mudah baginya mewujudkannya. Membangun kembali peradaban dan kebudayaan kuno memang penuh tantangan.

Ana Kobat berprinsip akan tetap menghargai sekecil apapun hasil karya seseorang, yang pada akhirnya semoga dianggap sebagai tindakan mendistribusikan kebaikan. Ana Kobat percaya dengan akhlak berbuat baik kepada semua makhluk, pasti akan dibalas dengan kebaikan, meskipun belum tentu dibalas oleh orang yang kita tolong, tetapi Tuhan punya cara yang berbeda untuk membalas kebaikan kita.

“Hidup itu saling menguatkan dalam kebaikan. Dalam hal berteman, bersahabat, berelasi dan berumah tangga. Saling mengisi dan saling menutupi kelemahan,” tegas Ana Kobat.

Pada sebuah karya pun akan semakin sempurna kalau melibatkan banyak orang. Selemah-lemah orang pasti punya sisi kuat pada dirinya, demikian juga sebaliknya, sekuat-kuat orang juga pasti punya sisi lemah. Bergantung kebijaksanaan memilahnya menjadi potensi yang besar dalam menghasilkan sebuah karya yang berkualitas.

Ana Kobat sangat sadar tentang arti profesionalitas. Sehingga wajar saja mendapatkan penghargaan yang tidak asal-asalan serta punya nama yang kuat dalam bidang seni. Produktifitas Ana Kobat dalam koreografer tidak diragukan lagi. Banyak hasil karya alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu yang sudah tayang baik lokal maupun nasional.

Berdasarkan catatan Koran Serambi Indonesia, Ana Kobat pernah menangani tari massal untuk POPNAS pada 2005 melibatkan 3.500 penari. Sebagai koreografer tari massal 2500 penari Tor Tor pada acara HUT Bhayangkari di Sumatera Utara pada 2012.

Koreografer tari Sining, dalam kegiatan “Revitalisasi Seni Yang Hampir Punah” yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh tahun 2016. Koreografer tari “Sengkaran Utem” mewakili kontingen Aceh Tengah, pada Pekan Kebudayaan Aceh ke-7 di Banda Aceh, 2018.

Penasihat Koreografer “Tari Mulawi” pada Gelar Tari Remaja 2019 di Jakarta dan banyak lagi, dan memperoleh penghargaan dari Bupati Aceh Tengah sebagai Peneliti dan Pemerhati Tari Sining Gayo serta Penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah sebagai Pemakalah dalam Seminar Nasional. Ana Kobat juga menciptakan tari “anti korupsi” yang dipentaskan di Gedung Olah Seni Takengon bersama-sama sejumlah seniman Gayo lainnya.

Segudang prestasi dan penghargaan yang diraih Ana Kobat membuktikan bahwa dirinya adalah sejatinya perempuan Gayo yang berfikir dan bertindak paralel. Seperti perempuan Gayo zaman dulu yang bisa menganyam, tetapi juga bisa bersawah, berkebun, mengurus dan mendidik anak-anak serta mengabdi kepada suami dengan tulus.

Sejatinya perempuan Gayo, juga ketika kaum lelaki buntu menghasilkan suatu karya, Ana Kobat Inen Nami tampil sebagai “diplomat” untuk menemukan jalan keluar. Seperti cerita Datu Cari yang menghubungkan “pejuang muslimin” dengan Inen Mayak Teri, dan seperti Muyang Qurata Aini atau Datu Beru dalam menyelesaikan perkara antara “Reje Linge” dengan Sengeda melalui metode penyelesaian “Diat”.

Ayah H. AS Kobat yang seniman dan Ibu Hj. Hadijah Ibrahim seorang pendidik. Perpaduan karakter dari dua insan itu, pada tahun 1974 lahir seorang Ana Kobat, yang akhirnya memilih jalan sebagai seniman dengan prinsif hidup; melanggengkan berbuat kebaikan kepada siapapun. Pada saatnya nanti orang-orang akan berkata; “Untung ada Ana Kobat.”

(Mendale, Ahad, 13 September 2020)

Comments

comments