Ironi Warga Datantara Kehilangan Momentum

oleh

Marah Halim*

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa momentum atau kesempatan itu hanya pernah terjadi sekali, tidak akan pernah dua kali. Kalaupun dua kali, maka suasananya pasti berbeda.  Karena itu, setiap momentum harus ditangkap.

Seperti banyak momentum dalam hidup kita, mulai dari lahir hingga masa-masa kita sekolah atau studi. Misalnya, momentum untuk kuliah di perguruan tinggi negeri yang bergengsi setelah tamat SMA; sebagian orang tidak memanfaatkan momentum itu, tentu kita tidak bisa mengulangi lagi seumur hidup. Atau juga studi di luar negeri, ada kesempatan studi ke luar negeri, tetapi karena tidak dipergunakan dengan baik, akhinya momentum itu lewat begitu saja dan kalaupun ditangisi tidak akan pernah kembali.

Nah, terkait dengan kata-kata momentum ini, itulah yang saat ini sedang terjadi pada masyarakat Datantara (Dataran Tinggi Negeri Antara) setelah bencana hidrometeorologi pada tanggal 24 November 2025 lalu. Akibat banjir banjir lumpur, batu, dan kayu itu setidaknya tujuh jembatan Takengon-Bireuen atau Bireuen-Takengon luluh lantak. Lebih parah lagi, dari semua ruas jalan menuju Datantara, baik dari Aceh Timur, Aceh Tenggara, Aceh Barat tidak ada yang selamat jembatannya.

Ruas utama ke Datantara adalah dari Kabupaten Bireuen dengan jembatan utama jembatan Krueng Mane. Walaupun letaknya di Krueng Mane, tetapi user utamanya adalah warga Datantara yang kurang lebih berjumlah 1 juta jiwa. Warga Bireuen tentunya tidak terlalu berkepentingan dengan jalan itu, hanya sedikit warga Bireuen yang memanfaatkan ruas jalan itu, terutama dalam urusan bisnis. Artinya, yang butuh mutlak jalan tembus ke Datantara adalah warga Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.

Gambaran mutlak dan absolutnya jalan tembus itu setidaknya sudah beberapa kali dirasakan; dan tentu saja baru dirasakan juga 8 bulan yang lalu. Ambruknya 7 jembatan membuat ekonomi di Datantara jatuh total. Kebutuhan pokok dan energi tidak bisa dipasok, sebaliknya komoditi pertanian tidak bisa keluar meski hasil panen sedang melimpah. Hal yang sama sesungguhnya pernah terjadi pada saat konflik bersenjata setelah Reformasi yang lalu, saat mana jalan tembus itu tidak bisa dilewati selama lebih dari sebulan.

Semahal apapun harga kopi, sebanyak apapun panen hasil pertanian dari negeri antara, tidak akan pernah bisa dipasarkan ke pesisir atau sampai ke luar negeri jika jalan tembus itu tidak diperbaiki. Satu titik saja ruas jalan itu longsor, aktivitas ekonomi lumpuh total, kerugian ekonomi tak terhitung lagi.

Terkadang kita baru sadar akan pentingnya sesuatu ketika terjadi peristiwa yang sangat membangunkan kesadaran kita. Teori teori mindset menyatakan itu. Mindset adalah pola-pola pikir yang membangunkan kesadaran jiwa. Mindset kadang sulit berubah jika sudah terjebak mental block. Untuk menghancurkan mental block dibutuhkan peristiwa besar. Bencana hidrometeorologi ini sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan mental block yang menghambat perubahan mindset kita.

Momentum Era Jokowi

Momentum emas (golden moment) yang paling tepat untuk masyarakat Datantara untuk menikmati jalan tembus yang berkelas  sesungguhnya ada pada masa Presiden Joko Widodo (2014-2024). Terlepas dari apapun polemik politik dan hukum, yang jelas bahwa dia telah menjadi Presiden Republik ini selama lebih kurang 10 tahun. Untuk masyarakat Gayo sesungguhnya itu sesuatu yang sangat spesial.

Bayangkan selama 10 tahun Presiden Joko Widodo memerintah, apakah tidak terbetik di dalam benak para pemimpin tiga kabupaten itu saat itu untuk betul-betul meminta satu jalan tembus yang representatif, yang bertahan lama dan yang tidak mudah terhempas oleh bencana alam yang hingga saat ini belum sesungguhnya belum dimiliki oleh masyarakat tiga tiga kabupaten itu.

Setelah 100 tahun lebih jalan tembus ke Datantara hingga saat ini, warga dan pemimpin kabupaten-kabupaten yang ada hanya berupaya menjaga fungsionalitas jalan itu, hampir tidak ada gagasan untuk merubah strukturnya dari struktur yang ada saat ini. Pernah ada ide Dr. Muhyan Yunan, Cawagub Aceh pada Pilgub 2011 lalu terkait jalan tembus ke Datantara, tapi itupun sebatas pelurusan tikungan-tikungan semata untuk memangkas waktu tempuh.

Jalan yang ada sekarang itu adalah peninggalan Belanda, jadi mungkin sudah lebih dari satu abad umurnya; dibangun tanpa menggunakan teknologi seperti saat ini. Tentu saja dengan kemampuan teknologi saat ini jalan tembus itu bisa diremajakan atau dimudakan kembali atau bahkan direlokasi ke titik-titik yang lebih baik. Di masa Jokowi, semua itu sesungguhnya dimungkinkan.

Nah, kembali kepada momentum 10 tahun Jokowi memimpin yang tersia-siakan. Bukankah program utama Pak Jokowi saat itu adalah infrastruktur besar-besaran? Nah, lalai massal 1 juta manusia di Datantara. Kita masyarakat Datantara seperti sudah berpuas hati dengan dengan jalan tembus yang ada sekarang; sudah berpuas hati dengan jalan yang penuh dengan tikungan. Mengapa kita tidak berusaha untuk meminta dibangunkan jalan alternatif yang juga berkelas seperti jalur Gunung Salak misalnya, sehingga “banyak jalan menuju Datantara” bukan hanya “banyak jalan menuju Roma”.

Pertanyaannya, mengapa era Jokowi? Ya, tentu saja mudah untuk dipahami. Karena Jokowi secara pribadi tahu persis alam Datantara. Dia pernah merasakan hidup di sana bertahun lamanya. Dia turut serta menghijaukan kembali lahan-lahan yang telah dipanen hutannya oleh PT. KKA. Setidaknya beliau pernah wara-wiri ke Datantara, dan dalam kurun waktu setidaknya 5 tahun itu, tidak mungkin dia tidak mengerti jalan, seperti apa medan jalannya, kondisi geografisnya, iklimnya, dan sebagainya.

Nah, dalam konteks pengambilan kebijakan, penting sekali pengetahuan seseorang tentang satu objek yang hendak diambil kebijakannya. Dengan ungkapan lain, tidak perlu presentasi panjang lebar menjelaskan Datantara kepada Jokowi, cukup gambarkan atau ekspos kondisi terkininya. Inilah momentum emas yang hilang yang tidak mungkin bisa lagi diperoleh.

Yang kita sayangkan adalah fokus pembangunan 3 kabupaten Datantara saat itu sifatnya internal saja. Para pemimpin tiga kabupaten atau bahkan empat kabupaten juga tidak pernah kompak “ngopi bareng” merumuskan bagaimana agar jalan tembus ke Datantara lebih berkelas dan lebih mensejahterakan. Bila perlu mereka bisa ke Bina Graha bersama, meminta waktu untuk “Ngopi bersama Jokowi”.

Mungkin layak kita ingat, bagusnya ruas jalan tembus ke Datantara saat ini, khususnya ruas yang masuk Kabupaten Bireuen, adalah berkat legacy alm. Saifannur, mantan Bupati Bireuen yang bersedia membangun, memperlebar kawasan Cot Panglima yang sepanjang 3 km lebih. Walaupun sempat bermasalah secara de jure, tetapi secara de facto pengambil manfaatnya adalah masyarakat Aceh Tengah, Bener Meriah, dan juga Gayo Lues.

Momentum Era Sugiyono

Momentum era Jokowi hanya bisa kita tangisi, namun tetap ada secercah harapan. Dalam FGD yang diadakan Keluarga Negeri Antara Banda Aceh pada Jum’at, 03 Juni 2026 kemarin, bangkit kembali memori bahwa kita warga Datantara sesungguhnya masih memiliki momentum yang tidak kalah strategis dan menjanjikan lewat putra Datantara sendiri yang saat ini menjabat Menteri Luar Negeri, Sugiyono, yang nota bene adalah anak ideologisnya Presiden Prabowo yang kini menjabat Sekjend Partai Gerindra. Penulis tidak perlu menjelaskan betapa masih adanya momentum bagi kita warga Datantara dan pemimpin kita, apakah momentum ini juga hendak kita lewatkan?

*Warga Banda Aceh

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.