Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 11: Konflik Antara Pewaris dan Perintis

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di Tanoh Gayo, konflik antara pewaris dan perintis itu kadang tidak perlu panggung besar. Cukup di warung kopi, dekat tungku, sambil nunggu kopi arabika naik, debat sudah bisa panjang sampai lupa pulang.

Pewaris biasanya mulai dengan kalimat sakti: “Dari zaman Pota Marhum sudah begini.” Suaranya tenang, tapi nadanya seperti garis bawah, tidak boleh digeser. Tradisi dijaga rapi, seperti menyimpan kain kerawang di lemari: indah, tapi jarang dipakai.

Di sudut lain, perintis tidak kalah siap. Dengan gaya santai tapi mata menyala, ia bilang: “Kalau terus begitu, kapan majunya?” Tangannya mungkin masih bau tanah atau kopi, karena memang baru turun dari kebun. Baginya, hidup itu bergerak, bukan dipajang.

Lucunya, dua orang ini sering duduk satu meja, minum kopi yang sama, tapi pikirannya beda dunia. Yang satu sibuk menjaga jejak masa lalu, yang satu ingin bikin jejak baru. Yang satu takut adat hilang, yang satu takut masa depan tertinggal.

Padahal kalau dipikir, Gayo ini besar bukan karena salah satu. Bukan hanya karena adat yang dijaga, tapi juga karena orang-orang yang berani membuka jalan baru, dari kebun kopi sampai pendidikan anak kampung yang kini merantau.

Masalahnya, kita ini kadang suka berlebihan. Pewaris terlalu sibuk menjaga sampai lupa menghidupkan. Perintis terlalu sibuk berlari sampai lupa menoleh. Akhirnya, yang satu jadi museum berjalan, yang satu lagi jadi pelari tanpa arah.

Di kampung, kita sering lihat ini. Ada yang bangga cerita tentang leluhur, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan hari ini. Ada juga yang semangat bikin perubahan, tapi tidak paham kenapa aturan lama dulu dibuat.

Seharusnya, pewaris itu seperti akar, menjaga agar tidak tumbang. Perintis itu seperti pucuk, mencari cahaya baru. Kalau akar dan pucuk saling curiga, jangan heran kalau pohonnya tidak tumbuh lurus.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan siapa yang paling benar, tapi cara kita duduk satu meja. Di Gayo, kopi itu pahit, tapi justru di situlah nikmatnya. Mungkin begitu juga dengan perbedaan, tidak perlu dihilangkan, cukup diracik supaya seimbang.

Kalau tidak, ya kita akan terus begini: di warung kopi ramai bicara masa lalu dan masa depan, tapi yang dikerjakan hari ini… tetap saja ditunda besok.

Bersambung ke bagian 12…

(Mendale, Mei 6, 2026)

Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 10: Edet Orom Ukum Lagu Zet Orom Sifet

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.