Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu penyakit yang tidak terlihat, tetapi dampaknya sering lebih merusak daripada kebodohan: kemunafikan. Ia tidak berisik, tidak selalu tampak kasar, bahkan kadang dibungkus dengan kata-kata manis dan gestur yang tampak tulus.
Namun di balik itu, ada kepentingan tersembunyi yang pelan-pelan menggerogoti kepercayaan.
Munafik bukan sekadar soal berkata lain dan berbuat lain. Ia adalah kebiasaan memoles citra tanpa membangun isi. Di depan publik terlihat peduli, di belakang justru menghitung untung rugi pribadi. Ini bukan hanya soal moral individu, tetapi juga soal kualitas kepemimpinan dan arah sebuah masyarakat.
Beriringan dengan itu, riya menjadi racun yang lebih halus. Kebaikan yang seharusnya menjadi jalan sunyi antara manusia dan nilai luhur, berubah menjadi panggung pertunjukan.
Apa yang dikerjakan bukan lagi karena benar, tetapi karena ingin dilihat benar. Akibatnya, ukuran kebaikan bergeser: bukan lagi manfaat, melainkan tepuk tangan.
Yang lebih berbahaya, semua itu sering berujung pada satu hal: mengorbankan orang lain. Demi mempertahankan citra, demi menjaga posisi, demi terlihat “paling benar”, tidak sedikit yang rela menjadikan orang lain sebagai tameng. Kesalahan dilimpahkan, tanggung jawab dihindari, dan yang lemah dijadikan korban.
Padahal, integritas sejati justru terlihat saat seseorang berani jujur pada dirinya sendiri. Mengakui kekurangan tanpa perlu sandiwara, berbuat baik tanpa perlu diumumkan, dan mengambil tanggung jawab tanpa mencari kambing hitam. Ini mungkin tidak populer, tetapi justru di situlah letak kekuatan karakter.
Kita hidup di zaman di mana pencitraan sering lebih cepat daripada kebenaran. Tapi cepat bukan berarti benar.
Masyarakat mungkin bisa dibohongi sesaat, tetapi waktu selalu punya cara untuk membuka semuanya. Yang palsu akan retak, yang dibuat-buat akan lelah sendiri.
Maka, memperluas pengetahuan bukan hanya soal membaca buku atau menghafal teori. Ia juga tentang membersihkan niat, meluruskan sikap, dan berani menolak jalan pintas yang merugikan orang lain.
Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah apa yang kita tampilkan, tetapi apa yang benar-benar kita lakukan.
Bersambung ke bagian 5…
(Mendale, April 18, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 3: Semakin Mengenal Bupati, Semakin Aku Menyukai Dokter






