Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu jenis kepemimpinan yang belakangan ini tumbuh subur: rajin, sibuk, tapi entah sedang menuju ke mana. Setiap hari terlihat aktif; hadir ke sana kemari, memeriksa ini itu, bahkan tampil gagah.
Di layar media sosial, aktivitas itu tampak heroik, penuh gerak dan gaya. Namun di balik sorotan, semuanya seperti berlari di atas treadmill; berkeringat deras, tetapi tidak pernah benar-benar berpindah menuju tujuan jelas.
Konon, menjadi pemimpin itu harus cerdas. Bukan sekadar cerdas memilih sudut kamera atau gaya berbicara, tetapi cerdas membaca arah. Tanpa arah, kecerdasan hanya menjadi hiasan, bukan alat untuk membawa perubahan nyata.
Lalu apa jadinya jika perhatian lebih banyak tersita pada hal-hal kecil? Kerapian baju ASN, posisi tag name, hingga jumlah juz bacaan, sementara target kinerja organisasi dibiarkan menguap tanpa arah jelas.
Di sudut kantor pemerintahan, terdengar bisik lirih yang nyaris menjadi paduan suara panjang: “Kita ini sebenarnya bekerja untuk apa?” Namun pertanyaan itu cepat disimpan, karena memang tidak ada target yang harus dikejar.
Tanpa KPI (Key Performance Indicator) hidup terasa ringan. Tidak ada tekanan capaian, tidak ada evaluasi berarti, dan tidak ada rasa bersalah ketika hari berlalu tanpa hasil. Semua berjalan, tapi tidak ada yang benar-benar bergerak maju.
Ironisnya, sebagian ASN justru merasa merdeka. Datang, absen, ikut kegiatan seremonial, lalu pulang dengan rasa cukup. Sebuah kemerdekaan yang terdengar indah, tetapi sesungguhnya adalah kebingungan yang dilegalkan secara sistematis.
Pemimpin pun tampak percaya diri. Laporan harian terus mengalir: sidak hari ini, inspeksi besok, monitoring lusa. Kata-kata itu terdengar hebat, meski sering kali kosong makna dan jauh dari dampak nyata.
Seolah pemerintahan hanyalah panggung sandiwara, tempat semua orang memainkan peran sibuk. KPI menjadi properti yang terlupakan, sementara penonton dipaksa percaya bahwa pertunjukan itu benar-benar memiliki arah tujuan jelas.
Padahal, tanpa indikator kinerja yang tegas, bagaimana kita mengukur kemajuan? Tanpa tujuan yang pasti, kesibukan hanyalah ilusi. Di negeri tanpa KPI, semua tampak bergerak, tetapi sebenarnya hanya berputar di tempat saja.
Bersambung ke bagian 3…
(Mendale, April 14, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 1: Iqro; Otak Jangan Hanya Aksesoris Kepala





