TAKENGON-LintasGAYO.co : Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh (Kacabdin) Wilayah Aceh Tengah, Muslim Ibrahim, S.STP mengatakan, hingga dua bulan lebih paska bencana hidrometeorologi yang melanda ada 3 sekolah dalam wilayah Cabdib Aceh Tengah yang terdampak atau rusak berat.
“Ketiga sekolah itu adalah SMAN 19 Takengon di Rusip dan SMA Kelas Jauh di Pameu dengan jumlah siswa 38 orang yang berinduk ke SMA 19 Takengon, dan SMA Kelas Jauh Aman Nyerang dengan jumlah siswa 27 orang di Kemukiman Wihni Dusun Jamat yang berinduk ke SMAN 13 Takengon di Ketapang, Linge,” kata Muslim, Senin 9 Februari 2026.
Dikatakan, ketiga sekolah itu mengalami rusak parah pada saat terjadi bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025 silam.
“Kondisi ini (ketiga sekolah) sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Aceh, dan menjadi perhatian serius bersama sekolah-sekolah lainnya yang terdampak di seluruh Aceh,” ujar Muslim Ibrahim.
Terkait proses belajar mengajar (PBM) siswa di ketiga sekolah yang terdampak bencana itu, Muslim menjawab, sesuai instruksi dari Dinas Pendidikan Aceh pada 5 Januari 2026 atau tepat dimulainya pembelajaran semester genap tahun ajaran 2025-2026, bagi sekolah yang terdampak parah maka aktivitas belajar di lakukan dengan beberapa cara.
“Antara lain, belajar di tenda darurat, kelas darurat, numpang di sekolah lain/gedung lain, atau belajar di sekolah sendiri tanpa mobiler (belajar di lesehan),” terang Muslim.
Untuk di kelas jauh SMA Pameu, kegiatan belajar sementara dialihkan ke salah satu pondok pesanteren yang ada di lokasi.
Sementara untuk induknya SMAN 19 Takengon, belajar di tenda darurat dan ada beberapa bangunan sekolah yang masih bisa digunakan sebagai sarana belajar.
“Sementara untuk SMA kelas jauh Aman Nyerang di Jamat, hingga saat ini memang belum ada tenda darurat yang didirikan. Tenda darurat sudah sampai di SMA induknya SMAN 13 Takengon, saya yang jemput langsung ke Banda Aceh,” ujarnya.
“Jika tidak ada kendala, besok akan kita antar ke lokasi, saya sudah perintahkan Kepala SMAN 13 Takengon, untuk mengantar ke Jamat,” terang Muslim.
Untuk proses belajar di SMA Aman Nyerang, sebelum ada tenda darurat dilakukan secara mandiri dan ada enam orang guru yang standby di Jamat.
“Begitu juga dengan sekolah terdampak lainnya seperti di SMA Kelas Jauh Pameu, ada 9 guru yang memang tinggal di lokasi, dan kekurangan guru di suplai dari sekolah induk, dan selama ini mereka tetap pergi ke sekolah kelas jauh itu, bahkan ada beberapa guru yang mengalami kecelakaan, lantaran beratnya medan yang dilalui,” terang Muslim.
Muslim menyadari, kegiatan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak bencana tidak seefektif di sekolah yang tidak terdampak.
“Kita menyadari itu, dan saat ini saya bersama jajaran kepala sekolah SMA di Aceh Tengah terus melakukan koordinasi agar pembelajaran terhadap siswa tidak terhenti,” demikian Muslim Ibrahim.
[Darmawan]





