Hantu Sane Pimpin Munaslub Ikan di Lut Tawar

oleh

Oleh : Sadikin Arisko*

Dalam legenda masyarakat Gayo, Sane salah satu hantu air yang bisa berubah wujud menjadi batu sebesar jeruk purut. Pantangannya hanya takut kepada besi putih. Sehingga kalau bermain-main di dalam air disarankan membawa mata kail putih supaya tidak diganggu hantu Sane.

Pada satu malam di bulan purnama, hantu Sane mendadak mengadakan Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa) dengan memanggil seluruh ikan di Danau Lut Tawar untuk membahas, siapa yang pantas dan berhak menjadi raja untuk masa yang akan datang di danau kebanggaan orang Gayo itu.

Hantu Sane mengundang dan mengumpulkan seluruh ikan, baik yang endemik maupun yang dibawa orang-orang iseng untuk mengembangbiakkan ikan-ikan non pribumi. Di antara ikan-ikan yang diundang adalah depik, bado, denung dan graskap.

“Saya sudah terlalu tua, rasanya tidak sanggup lagi memimpin danau yang seluas 5000 hektar, walaupun sudah mulai menyempit dengan pembangunan penginapan-penginapan dan penebangan pohon-pohon di sekitar danau,” kata hantu Sane memulai pidatonya.

Kemudian hantu Sane memimpin musyawarah untuk mengukur pandangannya, ikan mana yang layak menjadi pemimpin dan menanyakan satu per satu pernyataan para ikan yang hadir dengan tertib.

“Pertama, saya memberi kesempatan kepada ikan bado untuk mengutarakan pendapatnya, apakah kamu mampu menjadi pemimpin warga danau yang dianugerahi Tuhan untuk orang Gayo” kata hantu Sane dengan penuh wibawa.

“Saya pasti bisa! Saya berkarakter tenang dengan sorot mata yang tajam dan mampu cepat dalam berenang” kata ikan bado dengan sikap pongah.

“Maaf yang mulia Hantu Sane, izinkan saya menyampaikan pendapat; bado tidak berpenampilan bagus dan kejinya suka menyantap ikan-ikan kecil, celakanya kumpulan katakpun sering menjadi santapannya, dan sering lompat dari perahu” pendapat ikan depik penuh santun.

Lalu hantu Sane memberi kesempatan kepada ikan denung untuk menyatakan kemampuannya. Tapi belum sempat dia berkata, ikan bado dengan nada menghina menyatakan; secara fisik denung itu licin, tidak bersisik, dikhawatirkan kalau menjadi pemimpin akan bersikap lebih licin, apalagi diolesi oli, tentu akan lebih licin lagi.

“Akulah di antara ikan-ikan ini yang pantas menjadi pemimpin, badanku besar dan ditakuti” kata ikan graskap yang tiba-tiba nyelonong ke depan hantu Sane.

“Ampun Tengku hantu Sane, kami tidak setuju karena ikan graskap bermulut besar, rakus dan kanibal, jangankan ikan, rumput laut pun habis, dia adalah predator yang disebar manusia serakah” pendapat ikan denung.

Hantu Sane bingung dengan seluruh pernyataan ikan-ikan yang berseliweran. Refresentasi dari seluruh ikan sudah menyampaikan pendapatnya, kecuali ikan depik belum ditanyakan kemampuan dan bersedia atau tidak menjadi raja di danau yang menurut sejarah juga bersemayam Putri Ijo.

“Kami memang ikan endemik di sini, kami pribumi di danau ini, tapi sumpah kami tidak akan pernah menjadi raja dengan postur tubuh kecil, biasa orang tidak mendengar titah dari orang kecil, kami tidak terbiasa makan makanan kotor, apalagi kami bisa langsung dimakan tanpa harus dibersihkan” kata depik merendah.

Setelah mendengar pendapat terakhir dari ikan depik, hantu Sane menjadi lebih bingung. Tidak satupun dari ikan-ikan yang layak menggantikan dirinya menjadi raja ikan di Danau Lut Tawar. Hantu Sane memutuskan dengan berat hati tetap menjadi raja di danau Lut Tawar.

Hikmah dari cerita fabel di atas, kalau kita tidak saling melindungi, tidak saling menjaga, dan tidak saling menghargai sesama, saling berdebat soal tubuh besar dan kecil, maka bersiap-siaplah menerima pemimpin setengah manusia setengah jin, iblis dan syetan.

*Koordinator Aliansi Masyarakat Gayo

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.