Telan 1 M Dana Negara, Tour de Aceh Tak Libatkan EO Lokal Aceh Tengah

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Di tengah berita kunjungan gubernur Aceh bersama beberapa anggota DPRA dan pejabat daerah ke Amerika yang menelan anggaran sebesar 400 milyar yang dipertanyakan masyarakat banyak kegunaannya.

Pada 14 Mei mendatang, pemerintah Aceh menyelenggarakan kegiatan bersepeda di bawah Dinas Pariwisata Aceh, yang dinamakan Tour de Aceh yang menelan anggaran hampir 1 Milyar.

Anehnya, dengan anggaran sebesar ini, kegiatan bukanlah sebuah kegiatan balap sepeda yang menghadirkan para pebalap profesional selayaknya Tour de Singkarak, Tour de Ijen atau Tour de Bintan yang menarik banyak atensi dan outcome nya membuat daerah itu dikenal luas dan mengundang banyak wisatawan dan investor.

Sebaliknya, kegiatan yang diselenggarakan menggunakan anggaran negara ini ditujukan buat memfasilitasi kaum berpunya untuk menyalurkan kesenangan bersepeda.

Ketika LintasGAYO.co, mencoba mempertanyakan soal ini pada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Jamaluddin, SE, M.Si, AK, yang bersangkutan mengarahkan untuk bertanya pada T. Hendra Faisal, kepala bidang pemasaran Dinas Pariwisata Aceh yang hadir di Takengon untuk persiapan Tour de Aceh yang direncakanan berlangsung dua etape dan etape pertamanya akan berlangsung di Takengon pada 14 Mei 2022.

Ditemui di salah satu hotel di Takengon, kepada T. Hendra Faisal LintasGAYO.co menanyakan, kenapa kegiatan yang dibiayai dengan uang negara ini memilih format lepas hobi kaum berpunya, bukan format kompetisi yang mengundang atensi luas untuk publikasi.

Kepala bidang pemasaran Kadisbudpar Aceh ini hanya mengatakan ini untuk menggalakkan sport tourism.

Kemudian saat ditanyakan, dengan anggaran hampir 1 Milyar, seberapa besar Tour de Aceh berpengaruh terhadap pariwisata Aceh Tengah khususnya? Dan Bagaimana cara mengukur dampaknya?

T. Hendra Faisal terkesan tidak siap dan hanya mengatakan kalau kegiatan ini memberi warna baru bagi pariwisata Aceh Tengah dan goal utamanya adalah promosi.

Soal bagaimana cara mengukur atau paremeter apa yang bisa dipakai untuk mengukur, orang yang ditunjuk oleh Kadisbudpar Aceh untuk mewakilinya ini tak bisa menjawab.

Bahkan, ketika LintasGAYO.co menanyakan, karena Tour de Aceh ini 50% kegiatannya diselenggarakan di Aceh Tengah, apakah Event Organizer (EO) lokal ada dilibatkan dalam acara ini, dalam artian apakah “kue” senilai hampir 1 M itu juga dibagi kepada EO Aceh Tengah?

T. Hendra Faisal mengatakan setahunya tidak ada, tapi untuk lebih jelasnya dirinya meminta untuk menghubungi PT Gidong Bumoe Seujahtera, sebuah perusahaan beralamat di Aceh Besar yang di website resminya mengidentifikasi diri sebagai perusahaan Pelaksanaan Konstruksi berbentuk PT dengan spesialiasi proyek bangunan teknik sipil, mulai dari bangunan gedung sampai bangunan air yang berdasarkan data yang ditampilkan di situs lpse.acehprov.go.id terpilih sebagai pemenang tender kegiatan fun-bike senilai hampir 1 Milyar ini.

Lebih jauh lagi, sepengamatan LintasGAYO.co, sampai hari ini, tiga hari menjelang etape pertama di Takengon dimulai, Takengon masih sepi dari aksesoris terkait acara ini, sama sekali tak tanda-tanda bahwa kota ini akan menjadi tuan rumah acara sepeda gembira bernilai 1 milyar rupiah.

Saat ini ditanyakan pada T. Hendra Faisal, dirinya menjawab, kalau baliho dan umbul-umbul masih akan dipasang dengan segera.

Bahkan selain tidak melibatkan EO lokal, panitia kegiatan inipun terkesan sama sekali tidak membutuhkan media lokal sebagai media partner untuk mensosialisasikan kegiatan ini, sebagaimana pengakuan T. Hendra Faisal yang mengaku tidak memiliki media partner berbasis di Takengon bahkan wilayah Gayo secara umum. [Redaksi]

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.