Tidak Bersifat Pelit dan Tidak Pula Berlaku Boros dalam Keluarga

oleh

Oleh : Mahbub Fauzie*

Satu di antara ajaran Islam dalam bidang akhlak adalah mengajarkan pola hidup sederhana. Salah satu penerapan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung manfaat bagi setiap orang dan keluarga yang merasakannya. Dengan pola hidup sederhana, seseorang atau keluarga akan bisa mewujudkan suasana tenteram hati dan bahagia jiwa. Karena tidak suka berlebih-lebihan dalam keinginannya melainkan merasa cukup dengan kebutuhan yang didapatnya.

Orang yang sederhana, bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Di dalam keluarga misalnya, skala prioritas dalam mendahulukan kebutuhan sudah menjadi pemahaman dan kesadaran untuk lebih didahulukan ketimbang keinginan. Sandang, pangan dan papan. Sebagai contoh utama jenis kebutuhan dasar atau pokok, bagi orang yang paham hidup sederhana pasti menjadi skala prioritas untuk dipenuhi dengan nafkah yang sudah dicari dan didapatnya. Dari pemahaman ini akan menciptakan semangat giat bekerja mencari nafkah yang halal.

Orang yang sederhana bukanlah orang pelit, sebuah sifat tidak baik dan masuk kategori akhlak tercela yang harus dijauhi. Demikian juga orang yang hidup sederhana juga tidak suka berlaku boros dalam menggunakan harta atau uangnya. Orang yang sederhana bersifat tengah-tengah. Ia bisa bersikap adil dan proporsional menggunakan nikmat Allah SWT berupa harta yang dimilikinya untuk hal-hal yang bermanfaat dan kepada hal-hal yang baik.

Kebutuhan akan biaya pendidikan anak misalnya, akan menjadi prioritas bagi orangtua yang memahami betapa pentingnya menyiapkan generasi yang cerdas. Terlebih pendidikan agama yang akan menciptakan putra-putrinya menjadi generasi beriman dan bertakwa, shalih-shalihah. Nah, ketika ada biaya yang harus dikeluarkan untuk hal tersebut, orangtua tidak pelit mengeluarkannya. Tidak protes dan mencari seribu alasan kesalahan kepada lembaga pendidikan tempat putra-putrinya menuntut ilmu.

Lembaga pendidikan formal dan informal bagi anak-anaknya akan didukung oleh orangtua yang tidak pelit. Karena sangat menyadari betapa lembaga itu sangat membantu dia dalam mendidik putra-putrinya. Misalnya, taman pendidikan al-Qur’an (TPA) atau bale pengajian. Orangtua yang sadar pasti akan turut berpartisipasi dalam memakmurkan dan mensejahterakan lembaga-lembaga pendidikan agama tersebut.

Minimal tidak pelit mengeluarkan rupiah-nya untuk membayar iuran santri. Bahkan lebih dari sekadar itu, orangtua yang aghniya berkenan mensubsidi lembaga tersebut ! Terlebih jika ada iuran sedekah, infak dan darma sosial, orang pelit sangat anti hal itu!

Lain halnya orang yang pelit, susah sekali mengeluarkan uangnya untuk hal seperti itu atau semacamnya. Sementara yang lain, ada juga orang yang tanpa sadar suka berprilaku boros menggunakan uang dan hartanya pada perkara-perkara yang mubajir ketimbang yang penting. Misalnya, untuk membeli rokok berbungkus-bungkus setiap hari dengan harga yang cukup mahal dibanding nilai uang iuran santri, lebih mudah mengeluarkan dari kantong dan dompetnya!

Demikian juga, tidak jarang terlihat, orangtua yang suka membeli mainan anak-anak yang mahal harganya, walau terkadang mainan itu berbahaya bagi anak tidak akan menjadi alasan bagi orangtua yang pelit dan boros. Untuk pakaian mewah serta jajan yang mahal, tidak berat bagi orang yang suka berlebih-lebihan dalam membelanjakan hartanya. Hal yang ironis, dan sering terjadi di sekitar kita.

Itulah realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari, orang pelit dan orang boros setali tiga uang. Atau istilah lain sebelas dua belas! Orang pelit sukar berbagi rezeki, orang boros cenderung egois dan penuh gengsi! Banyak ditemui di mana-mana, di lingkungan sekitar, di kantor, atau dimanapun. Orang pelit cenderung tidak memiliki kepekaan sosial, demikian juga orang boros.

Nah, di dalam keluarga tentu sifat dan prilaku tercela itu harus dibuang jauh-jauh. Sayang pasangan serta anggota keluarga jika sifat pelit dan boros menjadi penyakit dalam kehidupan rumah tangga. Dari keluarga perbaikan akhlakul karimah dimulai, yakni penerapan pola hidup sederhana harus menjadi perhatian para suami dan isteri!

Pesan Al-Quran Agar Tidak Pelit dan Boros

Allah SWT menyukai hamba-hambaNya yang bersikap sederhana, terutama sekali dalam hal membelanjakan harta kekayaan yang dimilikinya tidak suka boros dan tidak pula kikir atau pelit!. Firman Allah SWT dalam surah Al-Furqan ayat 67: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan sesungguhnya (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqan: 67)

Terkait surah Al-Furqan ayat 67 tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan: “Orang yang bersikap demikian adalah orang yang tidak boros dalam memanfaatkan harta sampai berbelanja melebihi kebutuhan dan tidak pula kikir terhadap keluarganya sampai mengurangi hak-hak mereka dan tidak memberikan kecukupan bagi mereka. Dia berlaku adil, sederhana dan bertindak yang terbaik. Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan dan tidak berlebih-lebihan” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/325).

Sikap pertengahan atau sederhana yang diperintahkan, adalah tidak kikir, tidak menahan, tidak berlebihan dan boros. Sikap terbaik dan seharusnya adalah pertengahan di antara semua sikap ekstrem di atas. “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu belenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena hal itu memebuat kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29).

Selanjutnya, Ibnu Katsir menjelaskan juga bahwa “Allah SWT memerintahkan agar seseorang bersikap sederhana di dalam kehidupannya, Dia mencela sikap kikir dan melarang sikap boros, yaitu tidak boleh bersikap pelit dan menahan harta dan tidak memberikannya kepada seorangpun. Demikian pula tidak boleh berlebihan dalam membelanjakan harta, sehingga melebihi kemampuan orang, dan pengeluarannya melebihi penghasilannya.

Seseorang yang memiliki sikap kikir, maka orang tersebut menjadi sasaran celaan, cercaan dan pengacuhan. Orang pelit mudah terputus tali silaturrahmi, tidak suka berbagi dan sangat dimurka Allah SWT. Orang pelit bakhil wal kikir cenderung merasa kekurangan. Harta orang pelit tak bermanfaat serta tidak ada keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

Nah, demikianlah tercelanya sifat pelit dan boros itu. Sifat pelit dan prilaku boros harus dihindari oleh orang Islam yang beriman, sehingga al-Quran memperingatkan dengan keras para pelakunya. Sikap boros sangat dibenci dan dilarang. Allah SWT memperingatkan hamba -Nya untuk bersikap sederhana dan secukupnya saja, sesuai surah Al-‘Araf ayat 31: “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Araf: 31)

*Penghulu Ahli Madya & Kepala KUA Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah. Pernah sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.