Hasil Penelitian Loyang Mendale, Untuk Apa?

oleh

Oleh : Win Wan Nur

Selasa 25 Mei 2021, di hotel Park Side Petro Jalan Lintang, diselenggarakan seminar dengan tajuk Kajian Budaya Austronesia Prasejarah di Wilayah Budaya Gayo.

Pada seminar dengan peserta mayoritas guru SMP ditambah kalangan LSM dan wartawan ini menghadirkan Ketut Wiradyana sebagai pembicara utama ditambah dengan Kadis Pariwisata Bener Meriah, Irmansyah serta Zulfikar Ahmad, seorang pemerhati dan peminat budaya Gayo yang di media sosial facebook dikenal dengan nama Aman Dio.

Meski tajuknya, kajian budaya Austronesia tapi dalam pelaksanaan seminarnya pembahasan berkembang tidak hanya sebatas kajian budaya Austronesia di masa pra sejarah saja. Tapi juga membahas tentang bagaimana Gayo kekinian dan bagaimana Gayo nanti ke masa depan.

Ketut Wiradnyana sebagaimana biasa, selalu tampil dengan penuh semangat dalam menyampaikan kajian tentang penemuan berbagai bukti arkeologi di Loyang Mendale. Pada seminar ini Ketut juga memaparkan kalau penelitian yang dulu dimulai di Loyang Mendale ternyata sekarang sudah berlanjut ke gua-gua lain di sekitar Laut Tawar, bukan hanya di sisi Loyang Mendale, tapi sekarang sudah mulai merambah sampai ke Toweren yang terletak di sisi lain danau bahkan Bies. Dan sejauh ini dari bukti-bukti yang sudah di temukan di gua-gua di Toweren maupun Bies menunjukkan kalau peradaban Gayo di daerah itu jauh lebih muda dibandingkan yang ada di Mendale.

Dari berbagai pertanyaan yang mengemuka di seminar ini, yang paling menarik bagi saya adalah pertanyaan yang diajukan oleh Ana Kobat, seorang pegiat seni dan budaya. Ana bertanya “ Penelitian yang makan waktu lama dan biaya ini, untuk apa?”

Pertanyaan Ana ini saya pikir adalah pertanyaan yang mewakili mayoritas kita orang Gayo yang hanya melihat penelitian di Loyang Medale ini manfaatnya secara sempit sebatas kita jadi mengenal sejarah nenek moyang kita, bawa anak sekolah melihat situs itu, jadi tempat atraksi wisata.

Tapi rata-rata kita gagal melihat gambar besar bahwa hasil penelitian ini sebenarnya adalah senjata tak terkalahkan untuk digunakan dalam membalikkan posisi Gayo yang selama ini ditekan secara sosial, budaya, politik dan ekonomi di provinsi ini.

Kenapa saya katakan seperti itu?

Ini karena kalau kita baca sejarah manusia sejak peradaban mulai ada, kekuasaan dan hegemoni politik sebenarnya berbasiskan pada klaim sebagai pemilik sah sebuah wilayah.

Dalam hegemoni Aceh pesisir di provinsi ini, segala privilege yang didapat oleh pesisir berbasis pada klaim, bahwa Gayo adalah pendatang, Gayo adalah suku yang lebih inferior daripada suku mayoritas yang ada di pesisir. Dalam bahasa yang digunakan oleh Ali Hasjmy, yang kemudian digaungkan secara luas bukan hanya di Aceh tapi secara nasional.

Gayo hanyalah Sub Etnis Aceh. Garis bawahi kata SUB, yang seperti Sub Kontraktor, Sub Human, Sub Urban dan segala Sub lainnya yang jelas menunjukkan posisi yang lebih inferior.

Karena namanya Sub, tentu saja Gayo harus rela menerima diskriminasi seperti di UUPA, kenapa tidak bisa menjadi wali nanggroe, kenapa harus rela mendapatkan porsi pembangunan yang lebih sedikit dari daerah lain, sampai dulu lapangan terbang Rembele yang sudah disetujui nasional pun di saat-saat terakhir hampir dipindahkan ke Sabang dan sudah terjadi kalau di Departemen Perhubungan tidak benar-benar dijaga dan dikawal oleh orang Gayo yang bekerja di departemen itu.

Kenapa ketika Kabupaten Bener Meriah baru dimekarkan, harus mau menerima Pj Bupati pertamanya yang dikirimkan dari pesisir yang benar-benar asing dengan Gayo, bukan orang Gayo yang sudah benar-benar mengerti dan memang disiapkan untuk menata kabupaten baru ini. Namanya juga Sub.

Ini yang kemudian saya bahas dengan Alwin Al Lahat, orang Mendale Asli yang kebetulan duduk di depan saya. Kenapa selama ini kita hanya melihat kegunaan penelitian di Loyang Mendale ini hanya dari sisi manfaat praktis yang sangat dangkal.

Kenapa selama ini kita hampir tidak ada yang berpikir untuk menggunakan hasil penelitian di Loyang Mendale ini sebagai senjata untuk membalikkan peruntungan kita, untuk memperjuangkan keadilan bagi Gayo dari sisi sosial, politik, ekonomi dan budaya?

Perlu kita ingat, klaim-klaim yang menyatakan Aceh pesisir sebagai pemilik sah daerah ini, Gayo pendatang, Gayo sebagai sub etnis dan segala macam, selama ini hanya berbasis pada klaim kosong tanpa bukti sejarah dan kajian ilmiah yang valid. Paling jauh hanya apa yang mereka bangga-banggakan sebagai “Hikayat Raja-raja Pasee” yang setelah dikaji oleh berbagai pihak yang sangat berkompeten, salinan dokumen tertuanya didapat dari manuskrip yang disalin pada abad ke 18. Yang nilai keilmiahannya, jangankan disebut bukti, atau bahkan teori, bahkan sebagai hipotesa pun masih jauh dari kata layak.

Ketut sendiri, ketika menjawab pertanyaan itu, seperti biasa juga, seperti dalam setiap seminar terkait Loyang Mendale, Ketut selalu menyampaikan dengan bahasa yang sangat halus khas akademisi tapi tetap memuat kritik yang dalam istilah Gayo, tipis, cerpis tapi luis. Tapi kalau kita dengan bahasa yang lebih terus terang kira-kira “ Ini lho, selama ini kalian sudah diperlakukan tidak adil, ini saya sudah berikan kalian senjata, terus ini mau diapakan? Masak dibiarkan berkarat begitu saja”

Karena memang kenyataannya, bukti-bukti yang dihadirkan Ketut bersama timnya di depan mata kita ini adalah bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kitalah penghuni tertua di negeri yang sekarang bernama Aceh ini. Kitalah “Indiginous Peoples” di bumi Aceh ini.

Sebagai “Indiginous People” konstitusi Indonesia bahkan Piagam PBB, memberikan kita berbagai hak istimewa dalam kaitannya dengan penguasaan tanah dan berbagai kekayaan di daerah ini. []

Comments

comments