Keluarga dan Tantangan Kehidupan Era Milenial

oleh

Oleh : Sadri AW, S.Pd.I*

Belakangan ini, gejala keterpecahan keluarga seakan menjadi suatu Fenomena. Hal ini ditandai dengan maraknya kasus perselingkuhan, kawin-cerai, game online, narkoba, kenakalan remaja ditandai meningkatnya jumlah kriminal yang dilkukan oleh para remaja itu sendiri dan sebagainya.

Seakan- akan munculnya gejala-gejala negatif tersebut sebagai pertanda berakhirnya institusi keluarga disatu sisi. disisi yang lain pernikahan sebagai simbol formal pembentukan keluarga baru, sejatinya terkontruksi secara religius, kian hari tumbuh sekedar sebagai trend gaya hidup.

Pernikahan tidak lebih sebagai ajang pementasan kemewahan yang jauh dari nilai religius. Akibatnya, perkawinan yang semula sifatnya sakral nan abadi menjadi sebuah kegiatan yang konvesional.

Mengapa fenomena keretakan keluarga dan desakralisasi pernikahan begitu menghiasi perjalanan kehidupan manusia sekarang ini? Tidak lain karena dalam kehidupan Era Milenial sekarang ini sedang terjangkiti paham kenisbian. Dimana hamper setiap entitas keluarga kehilangan daya kendali atau motor penggerak untuk dapat menyadari nilai-nilai kehidupan.

Dalam kehidupan masyarakat milenial, keluarga tidak lebih dari tempat berteduhnya kelompok manusia yang dasarnya tidak saling kenal-mengenal dan yang diketahui hanyalah kepentingan dirinya sendiri.

Hubungan antara ayah,ibu dan anak tidak lagi berupa hubungan sinergis. Disisi lain, pernikahan tidak lebih dari sekedar sebagai lembaga formal prostitusi, yang berfungsi sebagai tempat pelampiasan nafsu hasrat secara biologis.

Oleh karena itu, dalam keluarga modern saat ini dominan berlaku hubungan sebab-akibat yang seringkali diistilahkan dengan toleransi organik.

Dimana hubungan ayah, ibu dan anak tidak lebih dari sebuah hubungan yang dilandasi oleh faktor kepentingan ekonomis. Bukan lagi peranan keber manfaatan, yakni bagaimana baktinya seorang anak terhadap orang tua dan peranan orang tua terhadap pendidikan anak itu sendiri.

Rasulullah SAW Bersabda :

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
(HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad Daruquthni. Dihasankan oleh al-Albani didalam Shahihul Jami’ No:3289)

Tujuan utamanya hanyalah bagaimana untuk bisa mempertahankan hidup ditengah kompetisi materialisme dan kapitalisme, karenanya tidaklah berlebihan kalau banyak dijumpai dewasa ini, anak sebagai komponen termuda dalam keluarga seringkali menjadi obyek eksploitasi para orang tua.

Anak cenderung diorientasikan menjadi budak yang berfungsi untuk memenuhi hasrat orang tua dalam merengkuh nilai-nilai material. Akibatnya, secara psikologis perkembangan kejiwaan anak tampak lebih dewasa daripada perkembangan jasmaninya.

Hal tersebut masih dianggap wajar, karena mobilitas manusia modern saat ini semakin menjauhkan manusia dari kehidupan ajaran beragama,akibat terjebak dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang serba material.

Inilah yang mungkin sebagai pertanda ramalan tentang terjadinya kejutan masa depan (Shokterapi) dalam kehidupan masyarakat milenial menjadi kenyataan.

Yaitu munculnya gejala keluarga yang berantakan atau yang terpecah-pecah (Broken home), salah satu bukti bahwa mobilitas sosial manusia sekarang ini tidak berdampak secara positif terhadap eksistensi keluarga, ditandai dengan meningkatnya kenakalan remaja, dominanya usia anak-anak dan remaja yang menjadi pengguna (Konsumen) narkoba, pencurian, game online, selingkuh serta perceraian,dikarenakan ketidak mampuannya dalam menghadapi sikap represif dalam lingkungan keluarga yang agamis seperti harapan.

Fungsi Keluarga

Ditengah-tengah mobilitas sosial kehidupan yang tinggi seperti saat ini, sudah seharusnya peranan keluarga hadir sebagai tempat terapi sosial.yakni sebagai tempat berteduh setiap individu (anggota keluarga) yang telah tercabik-cabik dalam menghadapi pertarungan global.

Dan institusi keluarga akan benar-benar bermanfaat secara ideal, jikalau bangunan keluarga tersebut berpondasikan konsep religiusitas yang menempatkan hubungan antara ayah,ibu dan anak dalam rangka toleransi (gotong-royong) kebermanfaatan.

Yaitu kerangka kesepakatan untuk saling melengkapi dan saling dipentingkan, dalam hal ini orang tua tidak harus selalu menjadi yang paling penting dari anak,suami dari isteri dan seterusnya.

Karena itu, korelasi terpenting dalam keluarga adalah terbangunnya budi pekerti yang luhur (al-akhlaqul al-karimah). Sebab, tanpa landasan al-akhlak al-karimah keluarga hanya akan menemuai suasana kehidupan yang disorientasi dan disharmoni. Yaitu kehilangan konsistensi dan keseimbangan dan ujung akhirnya,pastilah akan sampai kepada disintegrasi (keterpecahbelahan).

Wallahu a’lam bisawab.

*Penghulu di KUA kecamatan Timang Gajah

Comments

comments