[Cerpen] Rindu Ibu

oleh

Oleh : Rizki Saradi*

Lagi, dan lagi. Ini menjadi tahun kedua untuk dilarangnya mudik ketika hari raya Idul Fitri tiba. Rindu tahun lalu saja belum mampu aku selesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya dan sudah ditambah lagi rindu untuk bertemu di Idul Fitri tahun ini. Virus ini bukan saja membunuh tapi ia juga menciptakan jarak dengan orang-orang tercinta, terutama ibu.

Aku adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Gajah Mada. Murti, begitulah orang orang menyapaku. Aku menjadi salah satu anak kampung yang terpaksa memilih merantau di ibu kota, meninggalkan ibu seorang diri di kampung halaman, dibagian tengah Provinsi Aceh Kabupaten Bener Meriah. Hal ini demi mencapai cita-citaku dan cita-cita ibu.

Ini semua tidak terjadi begitu saja, setelah tamat SMA aku dan ibuku mengalami duka yang begitu dalam, aku kehilangan sosok Ayah akibat sakit stroke yang ia alami selama 3 tahun sebelum kepulangannya menuju surga. Semenjak kejadian itu, melanjutkan pendidikan dan menjaga ibu adalah pilihan yang sulit, dikarenakan aku ialah anak satu-satunya.

“Bu, kurasa aku genap sawah SMA padeh ne. aku merah buet mi deh,” keluhku pada Ibu yang saat itu tengah menikati hangatnya api dibelakang rumah.

Ibu menatapku dengan sayu, matanya berbinar dan berkaca-kaca, ia mencoba menyembunyikan kesedihannya tapi itu semua sia-sia. Aku tahu betul Ibu ingin melihatku seperti anak-anak tetangga, mengenakan baju toga dan berpoto disamping sembari memelukku. Melihat kesedihan yang terpancar dimatanya membuat pertahananku hancur lebur, kudekati dan ku dekap tubuhnya dengan erat dan sangat erat.

“Maafen aku Bu,” mohonku sembari memeluknya lebih erat.

Perlahan Ibu melepaskan pelukannya, menghapus air mataku dan menatapku amat dalam

“Anakku, gere ara si perlu i khawatiren. Ibu berharap ko nguk mulanjut pendidiken dan munireme beasiswa mane. cita-citamu menjadi cita-cita Ibu”

Benar, setelah tamat SMA aku mendapat beasiswa dari pemerintah daerah untuk melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi, di Universitas Gajah Mada Jurusan Ekonomi.

“Daaaarrrr” Seorang teman mengejutkanku, seketika lamunanku tentang kejadian dulu hilang begitu saja.

“Hahaha, kenapa ngelamun boy” tambahnya
“Genap sudah 2 tahun dengan lebaran tahun ini aku tidak dapat bertemu dengan ibuku. aku ingin bertemu, memeluknya, menyentuh kakinya, mencium keningnya.” ucapku pada asep.

“Sabar boy, do’a terbaik untuk Ibumu.” asep menenangkanku sembari menepuk bahuku
“Seperti tahun kemarin boy, kamu lebaran dirumahku saja” tambahnya.
“Tapi..”
“Gak pakai tapi tapi” ia memotong pembicaraanku dengan cepat.

Asep adalah sahabatku ketika kuliah, kami satu jurusan dan ia penduduk asli di kota ini. Ia amat baik padaku, Idul Fitri tahun kemarin aku terpakasa merayakannya bersama keluarga besar Asep, aku berhutang budi padanya.

Dikamar kecil ini kurekatkan rinduku di dinding-dinding kamar agar harapan ini menghangatkanku dikala hilangnya pelukan ibu. pagi ini rindu ku amat menggebu, tak tertahan, ku hubungi seorang teman di kampung halaman agar ia sudi mengunjungi rumahku untuk kesekian kalinya dan meminjakan handphonenya pada ibuku.

“Assalamualaikum” ucapnya setelah mengangkat telponku
“Walaikumsalam”
“Ngok ke bantu ko aku mien uy” pintaku padanya
“Nguk hana ya, lagu biasa ke”
“Haha, o. nguk ke, tabi ya merepotkan” kataku
“Aman ya, kejep ta, kumah mu ta mulo aku”

Dia adalah andre, sahabatku dikampung halaman. Selama aku di perantauan dia lah yang membantuku untuk berkomunikasi dengan ibu, dia memilih memutuskan pendidikanya dan bekerja sebagai pedagang pengumpul kopi. Jarak rumahnya dengan rumahku tidak begitu jauh sehingga tidak butuh waktu lama dan tidak perlu mematikan telepon.

“Halo” handphone ku kembali bersuara
“Iya, halo. nge iumah ku ke ko”
“Nge ni, ini he ibu mu”
“Ubahen ku video call deh pong” pintaku
“Boh, aman ya”

Dengan layar sedikit buram kulihat wajah ibu, kerutan di dahinya semakin jelas dan tetap seperti biasanya, mata ibu selalu berbinar saat melihatku, seakan-akan akan terjadi hujan lebat di pelopak matanya.

“Bu, Ibu. Ibu sehat ke ione” tanyaku
“Alhamdulillah sehat anakku”
“Te lagu pucet di selak Ibu a”
“pasa ke Ibu, ike sakit enti sapehi pasa bu” ucapku dengan melas
“sehat Ibu anakku, kune kebermu iso anakku, sehat ke?”
“Alhamdulillah sehat aku Bu”
“Bu, ara pedeh male ku seder Bu”
“hana anakku, nge meh ke sen mu?” tanya Ibu dengan agak sedikit bingung.
“enggeh Bu, enggeh.” dengan cepat jawab
“hana keta anakku?”
“Denem Bu, kenake ulak”
air mataku tak tertahan, hatiku hancur lebur dan dadaku terasa sesak. kupalingkan wajahku dari layar handphone, aku tersedu-sedu.
“Wen, anakku.”
“Anakku” Ibu terus memanggilku seakan-akan menyuruhku untuk menatapnya
“Uan bu” ku kuatkan hatiku untuk menatap ibu sembari menjawab panggilannya.

Air mataku semakin membanjiri pipiku setelah melihat ibu juga menangis tanpa suara, air matanya terus mengalir tapi ibu masih mmampu tersenyum seakan memberi isyarat padaku bahwa aku harus kuat.

“Anakku, gelah kuet ko i perantun jema anakku. tekekmi we langkahmu anakku, sawah se ibu pe kase munentong wisudau anakku” ucap Ibu
“Tapi Bu, aku denem Bu. nge meroan reraya gere sawah semah sujudku ku pumu Ibu” jawabku sedikit berteriak.

“Seber anakku, Seber. Ibu pe mukale pedeh ke ko anak ku.”
“Gelah jeroh iso anakku, inget manat ni Ayahmu. senyanyae kite enti sawah niro ku jema anakku, boh anakku boh” tambah ibu.
“Boh mi Bu, dor ku inget manat oya Bu”
“Boh mi keta Bu, lo reraya mi kase ku kini Andre geh kumah ken nelpon aku Bu” ucapku
“Boh mi anakku, sehat-sehat anakku.”
“Boh Bu, Assalamualaikum” tutupku
“Waalaikumsalam nak ku”.

Tepat pada hari ini, hari Kamis, takbir berkumandang menandakan hari kemenangan telah tiba, pagi ini Aku dan Asep bergegas beranjak dari rumahnya menuju masjid untuk melaksanakan sholat eid dan seperti biasa tidak lupa mengenakan masker dan mematuhi protokol kesehatan. setelah selesai sholat, kuluangkan waktuku untuk menghubungi andre. Aku berharap ia ada waktu luang untukku dan Ibuku.

“Assalamualikum dre”
“Aaalaikumsalam”
“Enti benges orom aku murti boh” tambahnya
“Benges?, benges kune”
“Pokok e enti benges”
“Hana cerite, aku gere pehemni?” aku semakin bingung
“Ibumu”
“kune ibu dre, kune ibu” aku semakin panik
“Ibu nge ulak tuhen” ucapnya dengan sayu
“Enti besene Dre, si Ibu. Ibu si?”
“Maafen aku” ucap andre sembari menagis tersedu-sedu

Kubaringkan tubuhku dinding kamar, aku merasa dunia seakan berhenti, aku masih tak percaya dengan apa terjadi saat ini. aku ingin pulang, aku ingin pulang.

“Hanati gere seder ko ari kelem ne mi Dre” tanyaku dengan nada marah
“Ibu nginie enti peperi ku kam, Ibu gere mera ko ulak sebelum ko selese orom kuliahmu”
“memange selama ini kune keadaan Ibu”? Tanyaku
“Ibumu nge sara tun sakiten”
“sakit hana, aku hanati gere beteh”
“kanker, Ibumu nginie enti sesederku kam”
“lailah, seharuse seder kam ku aku Dre”
“maafen aku, aku pe gere pane ne pas oya, maafen aku”

Kumatikan panggilan telepon kami tanpa kuucap salam, kubating apa yang ada dihadapanku. Tak ada kesedihan yang mendalam selain kehilang ibu.

“si kene Ibu, Ibu menet geh ku acara wisuda ku Bu, Buuuuuuu” teriakku
“Ibuuuuuuuu”
“hanati tareng ibu aku sereng ku Bu, rinu ku gere sawah len ku peluken Bu, Buuuuuuuu aku rinu len Bu”

Kembali aku dihadapkan oleh pilihan yang berat, tetap bertahan di perantauan atau pulang untuk melihat kuburan Ibu. Namun aku tahu Ibu pasti lebih menginginkan aku bertahan disini, maka aku berjanji aku akan menyelesaikan kuliahku secepat mungkin. Tidak ada yang lebih penting selain bertemu Ibu.

[SY]

Comments

comments