Melirik Kiprah Zaini, Mengedukasi Petani Lewat Klinik Kopi Gayo

oleh

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Sosok laki-laki berusia 54 tahun, berbadan tegap, berkulit agak gelap ini sudah tidak asing bagi para petani maupun institusi yang terkait dengan budidaya kopi arabika Gayo, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah.

Zaini, nama laiki-laki ini, bahkan sudah dikenal di seantero Sumatera Utara mulai dari Tanah kario, Simalungun, Tapanuli Utara, Mandailing Natal sampai Tapanuli Selatan.

Petani kopi Gayo yang sangat atu seluk beluk budidaya kopi ini memang pernah beberapa tahun dikontrak oleh perusahaan dan pemerintah daerah di beberapa kabupaten di provinsi Sumatera Utara untuk menjadi pembina sekaligus motivator bagi petani kopi disana.

Sebagai petani kopi, Zaini memang tidak pernah setengah-setengah, seluruh pemikiran dan tenaganya total dia curahkan untuk budidaya kopi yang baik. Dia tidak Cuma pahan teroi yang dia dapat dari berbagai literasi, tapi dia juga piawai mempraktekkannya. $ hektar kebunnya di Atu Lintang, adalah bukti keseriusannya dalam usaha tani kopi arabika. Berkat pengalaman dan kepiawaiannya inilah, Zaini sering diminta untuk memberikan motivasi dan pembinaan kepada petani kopi di daerahnya.

Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Maju Bersama adalah wadah baginya untuk menampung para petani yang ingin belajar serius tentang budidaya kopi. Tanpa pamrih, tanmpa memungut biaya, secara swadaya dia terus berupaya membina petani di daerahnya agar mampu menaikkan produktivitas kopi mereka.

Ini yang kemudian membawanya ke Istana Negara pada tahun 2015 yang lalu sebagai Juara Kedua P4S tingkat Nasional. Keberhasilannya ini pula yang membuat dia akhirnya dilirik oleh NGO Conservation Internasional Indonesia (CII) untuk bergabung dalam pembinaan dan rehabilitasi kopi rakyat di berbagai daerah.

Dirikan Klinik Kopi Gayo

Sekitar 4 Tahun melanglang buana di beberapa kabupaten di Sumatera Utara, Zaini tetap tidak melupakan tanah kelahirannya. Meski di daerah lain dia digaji cukup besar, tapi keinginanya untuk terus berbuat bagi petani kopi di daerahnya, membuatnya memutuskan untuk kembali ke Gayo.

Keinginannya untuk berbuat bagi daerah, kemudian dia wujudkan dengan mendirikan Klinik Kopi Gayo yang menjadi wadah edukasi bagi siapa saja yang ingin belajar tentang kopi Gayo. Berada di alam perdesaan khas daerah pegunungan, klinik konsultasi yang berada di Desa Gele Lah, Belang Gele, Aceh Tengah ini memang menjadi tempat yang nyaman untuk belajar tentang seluk beluk kopi.

Ide mendirikan Klinik Kopi ini bermula dari keprihatinanya bahwa di daerah ini belum ada lembaga yang khusus memberikan pencerdasan kepada petani kopi, padahal kopi merupakan komoditi andalan yang menjadi tulang punggung perekonomian di daerah ini.

Zaini juga melihat, bahwa petani kopi Gayo kurang mempelajari berbagai aspek tentang kopi, itulah sebabnya, produktivitas rata-rata kopi Gayo masih tergolong rendahcerdas dan berwawawasn, itulah sebabnya dia mendirikan klinik ini sebagai wadah pencerdasan bagi petani kopi Gayo.

“Kalau ingin membuat perubahan, harus mampu mebuat terobosan, jangan menunggu uluran tangan orang, kalau hanya berharap bantuan, sampai kapanpun kita tidak bakalan maju,” kata Zaini.

Sebenarnya beberapa tahun yang lalu, melalui lembaga P4S, Zaini juag sudah membuat tempat pembelajaran bagi petani kopi di daerah Atu Lintang, Tapi karena lokasinya jauh dari kota, Zaini ini memilih untuk mendirikan klinik petani yang mudah diakses dari semua penjuru.

Selain tersedia saung-saung dengan konstruksi berbahan batang-batang kopi tua yang mampu menampung puluhan orang sekaligus, Zaini juga sudah mempersiapkan kebun percontohan sebagai tempat praktek bagi para pembelajar.

Para pembelajar yang datang ke tempat ini juga nggak perlu khawatir kelaparan, karena klinik petani ini menyatu dengan Kafe Belang Gele yang menyediakan berbagai menu khas Gayo dan tentu saja kopi spesialty Gayo. Bagi pembelajar dari luar daerah, lokasi klinik ini juga mudah dijangkau, karena hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari pusat Kota Takengon.

Ketika Kemeterian Kehutanan dan Lingkungan Hidup mencetuskan Gayo sebagai pusat riset dan pembelajaran kopi pada akhir tahun 2019 yang lalu, Zaini sudah mendahuluinya dengan mendirikan klinik kopi Gayo ini.

Dia benar-benar seorang pelopor dan agens of chage ide-idenya sangat brilian, meski pendidikan formal yang dia miliki hanyalah setingkat SMA, namun pengalaman dan skillnya benar-benar luar biasa. Meski kiprahnya sangat luar biasa, namun sosok bersahaja ini nyaris tidak pernak ‘berteriak’ di media, sepertinya dia lebih mengedepankan karya ketimbang kata.

Mulai menggeliat dan dilirik berbagai kalangan
Hanya dalam tempo kurang dari setahun, klinik yang berdiri pada akhir tahun 2018 ini mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Mulai dari kelompok tani dari berbagai wilayah dalam kabupaten di dataran tinggi Gayo yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, kalangan mahasiswa daari berbagai daerah, pegiat lingkungan, peneliti sampai kalangan pejabat dalam dan luar daerah, begitu antusias untuk melihat langsung kebaradaan klinik yang baru pertama kali ada di daerah ini sekaligus belajar disini.

Layaknya seorang motivator yang sudah berpengalaman memberikan motivasi dan menyampaikan materi di berbagai tempat, Zaini pun sudah tidak canggung lagi berhadapan dengan berbagai kalangan tersebut.

Seperti umumnya lembaga pembelajaran, Zaini juga membagi proses pembelajaran di kliniknya menjadi dua sesi yaitu sesi teori di sang klinik kopi dan sesi praktek di kebun miliknya yang tidak jauh dari klinik. Bagi yang serius belajar, pulang dari sini dijamin bisa jadi petani kopi handal, karena sudah diberikan bekal teori dan praktek yang mumpuni.

Raut kebahagiaan jelas dapat dirasakan oleh Zaini saat petani yang dibimbingnya mampu meningkatkan produktivitas sekaligus terdongkrak kesejahteraannya, karena dia berprinsip tidak akan menikmati kesuksesan seorang diri, tapi ingin orang lain juga bisa sukses beruasha tani kopi seperti dirinya.

Kini memasuki tahun kedua keberadaan Klinik Kopi Gayo, nyaris tidak ada waktu luang lagi bagi Zaini, ari-harinya disibukkan dengan kedatangan para tamu di kliniknya. Tak hanya menjadi pembina petani, Klinik Kopi Gayo kini juga sudah menjalin kerjasama dengan Fakustan Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh dan Prodi Kopi Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon.

Bersama civitas akacdemika kedua perguruan tinggi ini, Zaini ikut berpartisipasi menyiapkan generasi milenial di bidang agropreneur. Zaini juga merangkul jajaran Polres 107 Aceh Tengah untuk menggerakkan program Polisi Bertani.

Meski kliniknya kini semakin menggeliat, Zaini mengaku belum pernah mendapat bantuan maupun fasilitasi dari pemerintah daerah, semuanya dia lakukan secara swadaya sesuai dengan niatnya.

“Banyak juga pejabat yang sudah mampir kesini, tapi yang sekedar melihat-lihat, belum ada pejabat yang memberi bantuan untuk pengembangan klinik ini, saya sendiri memang tidak terlalu berharap, selama saya masih bisa melakukan secara swadaya, saya akan terus mepertahankan keberadaan klinik ini, karena memang niat saya untuk membantu petani kopi agar hidup mereka sejahtera,” ungkap Zaini optimis.

*Peminat Bidang Pertanian di Aceh Tengah.

 

Comments

comments